Sabtu, 29 November 2014 | 06:52 WIB
LINTAS JABAR

Pacar Sebut Popi Tewas Karena Jamu Penggugur Bayi

Oleh: Andriansyah
Priangan - Jumat, 5 April 2013 | 14:51 WIB
ilustrasi - inilah.com/Andriansyah

INILAH, Banjar – Popi (16) bin Agus Subroto, warga Dusun Sukamanah Rt 03/17 Kelurahan Pataruman Kota Banjar tewas diduga karena menggugurkan kandungannnya dengan cara minum jamu.

Siswi SMAN 3 Banjar kelas X itu, ditemukan tewas dalam kondisi mengenaskan di selokan irigasi dengan mulut mengeluarkan busa di daerah Gunungsangkur Dusun Sukaharja Desa Karyamukti Kecamatan Pataruman Kota Banjar, Kamis (4/4/2013) pagi.

Kapolresta Banjar AKBP Asep Saepudin melalui Kasat Reskrim Polresta Banjar AKP Kosasih menuturkan dari hasil olah tempat kejadian perkara (TKP) polisi menemukan sejumlah barang bukti dua botol minuman gelas, serta dari saku bajunya ditemukan sebuah kartu nama.

“Dugaan sementara korban berniat menggugurkan kandungannya dengan cara minum racun, Namun korban malah berujung maut,” ujar Kosasih di Mapolresta Banjar Jumat (5/4/2013).

Ia menambahkan hasil dari penyelidikan mengarah kepada AG (15) siswa kelas I SMK Bina Putera Banjar yang tak lain kekasih korban. Kini AG sedang menjalani pemeriksaan penyidik.

Saat AG diamankan petugas Unit Buru Sergap (Buser) Polresta Banjar, AG mengelak dan mengaku tidak tahu-menahu soal kematian pacarnya itu. Namun setelah didesak akhirnya dia memiliki kisah tersendiri seputar kematian pacarnya itu.

”Awal pekan lalu Poppy kaget karena dirinya mengalami telat menstruasi. Terang saja hal itu membuat korban serta sang pacar AG bingung karena masih duduk di bangku sekolah,” jelas Kosasih.

Berdasarkan keterangan AG, pada Selasa (2/4/2013), sekitar jam 14 siang Popi minta dijemput di sekolahnya. etibanya di TKP, korban duduk di jembatan dan posisinya membelakangi jurang sedalam 5 meter, sementara si pelaku duduk di motor.

Popi, menurut AG kemudian mengeluarkan minuman dari tasnya dan mengatakan kepada AG bahwa minuman tersebut adalah jamu untuk menggugurkan kandungan. Selanjutnya si korban pun meminumnya.

Namun selang beberapa menit, korban merasa perutnya panas dan korban membuka dasi dan disimpan di jembatan.

“ Karena korban merasa pusing, tanpa disadari terjungkal ke dalam jurang dan mulutnya mengeluarkan busa. Karena melihat kondisi korban seperti itu. AG memilih pergi dan meninggalkan korban,” kata Kosasih.

Sementara ini, petugas penyidik kepolisian belum bisa menentapkan kasus tersebut sebagai kasus pembunuhan. Kendati begitu, AG bisa dijerat pasal 306 KUHP tentang pembiaran atau penelantaran orang yang membutuhkan pertolongan.

Namun demikian, Kosasih menegaskan, penyelidikan atas kasus ini belum selesai. Pihaknya masih mengumpulkan bukti dan saksi lain. Termasuk menelaah hasil otopsi yang akan dilakukan oleh dokter forensik.

“Mudah-mudahan dari hasil otopsi dan pengembangan penyelidikan bisa terungkap fakta yang sesungguhnya dari kejadian ini, saat ini petugas masih menunggu hasil visum yang sedang dilakukan tim medis RSUD Banjar” pungkasnya. [ito]

Berita Lainnya
0 Komentar
Kirim Komentar Anda
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut
Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAHKORAN.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
RACHMAT YASIN TAMAT
VONIS sudah jatuh. Penjara 5,5 tahun menanti Bupati Bogor non-aktif Rachmat Yasin (RY). Dia juga didenda Rp300 juta subsider kurungan tiga bulan penjara.
ASPIRASI + Indeks