Jumat, 31 Oktober 2014 | 06:25 WIB
PENDIDIKAN

Balada Korban Banjir, UN Tanpa Seragam dan Sepatu

Oleh: Dani R Nugraha
Umum - Selasa, 23 April 2013 | 07:45 WIB

INILAH, Bandung - Ujian Nasional (UN) SMP dan sederajat di Kabupaten Bandung penuh perjuangan. Peserta UN korban banjir terpaksa menginap di sekolah. Ada pula yang mengikuti UN tanpa mengenakan seragam dan sepatu.

Sony Hendriana (15) keluar dari kelas. Sedikit keringat tak dia hiraukan. Baru saja siswa SMP Garuda Kecamatan Dayeuhkolot Kabupaten Bandung itu tuntas mengerjakan soal Ujian Nasional (UN). Namun, UN tak digelar di sekolahnya, melainkan gedung SD Negeri XII Dayeuhkolot.

Pengalihan UN SMP dan sederajat pada hari pertama Senin (22/4) itu dilakukan lantaran akses jalan menuju sekolah terendam banjir. Maka, untuk menampung sementara 56 peserta UN, siswa diungsikan ke tiga kelas di SDN XII Dayeuhkolot.

Menurut Sony, jalan menuju sekolah terendam banjir sejak tiga hari lalu. Ketinggian sekitar 80 cm, tapi tak sampai merendam sekolah. Sony pun berharap air cepat surut sehingga dia dan teman-temannya bisa kembali ke sekolah. Mengerjakan UN di SD, bising oleh siswa.

"Kalau air sudah surut dan jalan kembali bisa dilalui, kami lebih baik kembali ke sekolah sendiri. Karena di sini mah enggak bisa konsentrasi berisik sama anak-anak SD," kata Sony.

Selain menumpang di gedung SD dengan kondisi kurang nyaman, saat pulang ke rumah, Sony harus berkutat dengan banjir. Rumah Sony ada di Kampung Sukabirus RT 07/13 Desa Citeureup Kecamatan Dayeuhkolot Kabupaten Bandung. Ketinggian air sekitar 1 meter.

"Sementara ini, saya numpang di rumah saudara. Namanya juga menumpang, saya tidak bisa belajar dengan tenang," ujarnya.

Lantaran akses jalan menuju tempat UN di SDN XII pun melintasi jalan yang digenangi air, Sony dan siswa lainnya terpaksa membuka sepatu alias bertelanjang kaki.

Kepala SMP Garuda Bayu El Ironi mengatakan, sebenarnya UN akan tetap digelar di sekolah sendiri. Namun hingga Minggu (21/4) malam, akses jalan menuju sekolah masih banjir. Akhirnya, sekolah memutuskan untuk menggunakan ruang kelas SD.

Sebelumnya, El Ironi sudah menyarankan para siswa menginap di sekolah. Hal itu dilakukan untuk mengantisipasi terjadi keterlambatan pelaksanaan ujian. Namun para siswa lebih memilih tinggal di rumah.

"Keputusan pindah ke ruang SD juga mendadak karena jalannya enggak bisa dilalui. Yah akhirnya kami mengambil keputusan pindah tempat agar anak-anak bisa tetap UN," jelasnya.

Namun, kata dia, jika air sudah surut, UN Selasa (23/4) tetap berlangsung di SMP Garuda. Pihaknya masih akan memantau situasi jalan menuju sekolah.

Di SMP Bina Negara, siswa terpaksa mengikuti UN hari pertama dengan memakai pakaian bebas dan bersandal jepit. Kondisi itu disebabkan seragam dan sepatu mereka rusak terendam banjir.

Kartika (14), seorang siswi SMP Bina Negara Baleendah mengaku, semua pakaian, buku-buku dan sepatu sekolahnya rusak terendam banjir. Namun, dia dan beberapa temannya tetap ingin mengikuti UN. Untungnya, sekolah memaklumi keadaan Kartika dan beberapa anak lainnya itu.

"Mau bagaimana lagi, terpaksa kami melaksanakan UN dengan kondisi seadanya. Tapi, kami tetap semangat dan fokus untuk mengerjakan UN ini dengan kondisi seperti ini," katanya.

Selain terpaksa tidak memakai seragam dan nyeker, siswa peserta UN di SMP Bina Negara Baleendah ini pun, terpaksa harus berbagi ruangan dengan sekitar 200 kepala keluarga (KK). Di sekolah tersebut, terdapat delapan ruang kelas. Semuanya dihuni pengungsi korban banjir.

Kepala SMP Bina Negara Baleendah Ade Rusmana mengatakan, selama pelaksanaan UN berlangsung, dia meminta para pengungsi tidak berada di dalam sekolah."Kami sudah meminta kepada para pengungsi agar tidak berada di dalam ruangan kelas saat ujian berlangsung. Dikhawatirkan konsentrasi para peserta UN terganggu," ujarnya.

Selain itu, akses jalan peserta UN dan para pengawas UN menuju sekolah pun terhambat akibat banjir yang masih menggenang di sejumlah titik di wilayah Kabupaten Bandung.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Bandung Juhana mengatakan, lantaran banjir tidak kunjung surut, 38 siswa SMPN I, 16 di SMPN II Dayeuhkolot, dan satu di SMPN I Baleendah, menginap di sekolah mulai hari ini. Alasannya, mereka tak mau terlambat ikut UN hari kedua.

"Ini untuk mempermudah aksesibilitas siswa, agar tidak terlambat atau terjebak banjir. Di SMPN Idan II Dayeuhkolot mereka menginap di sekolah. Sedangkan satu orang siswa di SMPN I Baleendah menginap di rumah salah satu guru," jelas Juhana.

Sementara itu, Rizka Wari Maulana (14),siswi SMPN I Pasir Jambu Kecamatan Pasir Jambu Kabupaten Bandung, terpaksa melaksanakan UNdalam keadaan berbaring di rumahnya. Kedua kaki Rizka patah terserempet truk, Selasa (16/4) lalu.

Kepada INILAH Wawat (42) menuturkan, anak keduanya mengalami patah tulang di kedua betis. Sehingga, Wawat mengajukan permohonan kepada SMPN I Pasir Jambu agar anaknya bisa tetap mengikuti UN, meski berbaring di tempat tidur.

"Alhamdulillah anak saya diizinkan ikut UN di rumah. Soalnya, kedua kaki dia enggak bisa digerakkan sama sekali. Kata dokter yang merawatnya, kaki anak saya itu tidak boleh dipakai jalan, dengan waktu minimal dua bulan lamanya," kata Wawat. [den]

Berita Lainnya
0 Komentar
Kirim Komentar Anda
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut
Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAHKORAN.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
DPR Kian Memprihatinkan
RICUH pemilihan pimpinan komisi DPR berbuntut. Koalisi Indonesia Hebat (KIH) membentuk pimpinan DPR tandingan.
ASPIRASI + Indeks