Kamis, 30 Oktober 2014 | 20:41 WIB
EKONOMI

Nilai Tukar Rupiah Alami Tekanan Depresiasi

Oleh: Astri Agustina
Ekbis - Kamis, 9 Mei 2013 | 13:10 WIB
ilustrasi - inilah.com/Wirasatria

INILAH.COM, Bandung – Deputi Gubernur Bank Indonesia, Ronald Waas mengatakan, pada triwulan I 2013, nilai tukar rupiah mengalami tekanan depresiasi. Nilai tukar rupiah secara rata-rata melemah sebesar 0,7 persen pada posisi Rp9.687 per dolar Amerika Serikat (AS) dengan volatilitas yang masih terjaga.

Meski nilai tukar rupiah masih melemah, Ronald menjelaskan, stabilitas sistem keuangan dan fungsi intermediasi perbankan masih tetap terjaga dengan baik. Karena kinerja industri perbankan yang solid tercermin pada tingginya rasio kecukupan modal.

“Rasio kecukupan modal saat ini berada jauh di atas minimum delapan persen. Rendahnya rasio kredit bermasalah (NPL) di bawah lima persen. Serta pertumbuhan kredit yang meningkat,” ujar Ronald saat ditemui di Bank Indonesia Wilayah VI Jabar-Banten, Jalan Braga, Kota Bandung, baru-baru ini.

Ke depan, lanjutnya, Bank Indonesia meyakini stabilitas sistem keuangan akan tetap terjaga. Upaya yang dilakukan adalah dengan menjalankan fungsi intermediasi perbankan yang terus meningkat.

Mencermati kondisi tersebut, Bank Indonesia akan menempuh tiga kebijakan yakni memperkuat operasi moneter, mewaspadai sejumlah rasio terhadap tekanan inflasi dan menyesuaikan respon kebijakan moneter sesuai kebutuhan.

“Yang kedua, melanjutkan kebijakan stabilitas nilai tukar rupiah sesuai dengan kondisi fundamental yang selama ini telah dilakukan, diperkuat dengan percepatan upaya-upaya pendalaman pasar valuta asing,” jelasnya.

Terakhir, sambung Ronald, Bank Indonesia akan memperkuat koordinasi dengan pemerintah. Hal tersebut dilakukan untuk menekan defisit transaksi berjalan dan meminimalkan potensi tekanan inflasi.

Sementara pada sisi eksternal, kinerja neraca pembayaran Indonesia pada triwulan I dan II 2013 diperkirakan mengalami penurunan defisit sejalan dengan membaiknya transaksi modal dan finansial yang terutama didorong oleh penguatan arus investasi portofolio.

“Meskipun begitu, defisit transaksi berjalan masih mengancam, terutama disebabkan oleh impor yang masih cukup tinggi. Antara lain terkait masih tingginya konsumsi BBM. Cadangan devissa pada akhir April 2013 juga maish di atas standar kecukupan internasional, yakni mencapai 106.65 miliar dolar AS,” tutupnya.[ang]

Berita Lainnya
0 Komentar
Kirim Komentar Anda
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut
Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAHKORAN.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
DPR Kian Memprihatinkan
RICUH pemilihan pimpinan komisi DPR berbuntut. Koalisi Indonesia Hebat (KIH) membentuk pimpinan DPR tandingan.
ASPIRASI + Indeks