Rabu, 1 Oktober 2014 | 19:16 WIB
PENDIDIKAN

Semangat dan Harapan dalam Keterbatasan SLB

Oleh: Fuad Hisyamudin
Umum - Selasa, 14 Mei 2013 | 07:45 WIB

INILAH, Tasikmalaya - Menjadi guru sekolah luar biasa tentu harus memiliki mental yang luar biasa pula. Dalam serba keterbatasan fasilitas, mereka harus membangun ikatan batin yang kuat dengan anak didik, orang tua, dan masyarakat.

Tak ada orang yang mau memiliki anak terlahir dalam keadaan cacat. Namun, tak ada juga manusia yang mampu menolak takdir Tuhan. Sebagi makhluk ciptaan-Nya, tak ada kata lain kecuali menerima dan menyukuri apa pun yang telah diberikan Tuhan.

Mungkin karena keyakinan itu, tak ada raut penyesalan dari para orang tua yang menyekolahkan anaknya di Sekolah Luar Biasa (SLB) Desa/Kecamatan Cisayong Kabupaten Tasikmalaya Jawa Barat. Hebatnya lagi, meski sekolah mereka berada jauh dari kota dengan fasilitas seadanya, para orang tua anak berkebutuhan khusus itu tetap sabar dan bahkan semangat menunggu anaknya belajar.

Saat INILAH berkunjung ke sekolah tersebut, siswa-siswanya sedang mengikuti pelajaran olah raga. Melihat pemandangan itu, ada rasa haru menjalar ke sekujur tubuh. Semangat dan kesabaran orang tua, ketelatenan para guru dalam membimbing seperti menjadi daya yang sangat kuat untuk mendorong anak didiknya menjadi manusia-manusia mandiri dan berguna di hari depan kelak.

Dari kejauhan mereka dengan pakaian olah raga warna biru motif terlihat gembira, anak berkebutuhan khusus itu terlihat bergerak riang tanpa beban. Tubuh mereka tampak mulai berkeringat. Udara dan cahaya matahari pagi saat itu memang cerah, secerah tiga orang guru yang terlihat antusias memimpin pemanasan, senam, bermain bola dan berloncat-loncat. Sementara di samping lapangan tampak ibu-ibu dari orangtua anak ABK sedang asyik memperhatikan buah hatinya.

“Dulu mah saya malu memasukan anak ke SLB,” ungkap Yayah Sonaryah (50),warga kampung Neundeut Cisayong, salah satu orang tua siswa. Dia mengungkapkan dulunya selain malu, dia juga sempat tertekan dan tidak siapmenerima kenyataan bahwa anaknya ternyata memiliki kebutuhan khusus.

“Saat diberi tahu dokter bahwa Rian berbeda dengan anak-anak lain yang tumbuh normal saya sempat down. Tapi, saya berpikir bahwa anak saya harus mendapat pendidikan,” kata Yaya seraya menyebut nama anak kelimanya,Riyan Nugraha Fuadi,yang kini usianya 11 tahun.

Namun sekarang, rasa malu, kesedihan apalagi menyesali nasib itu sudah tidak ada lagi. Semenjak masuk SLB dan bergabung dengan orang tua yang lain, ternyata ada banyak hikmah yang bisa diambil pelajaran. “Kami memiliki keluarga baru, sesama orangtua yang memiliki anak berkebutuhan khusus penuh persaudaraan,” katanya bangga.

Dengan keluarga barunya itu, Yayah mengaku sering mengajak ibu-ibu lain yang memiliki ABK untuk bangkit dan tidak menyesali nasib. Dengan berkumpul di SLB, orang tua yang memiliki anak ABK akan memiliki motivasi dan kekuatan untuk bersama bangkit dan saling menguatkan untuk mendidik anak mereka.

“Alhamdulillah anak saya sudah bisa membaca,” kata dia penuh syukur. Dia optimis, dengan segala keterbatasan yang dimiliki anaknya, ternyata beberapa potensi yang dianugerahkan Tuhan itu nyata. Ketika Tuhan memberikan anak berkebutuhan khusus, kata dia, maka ada kehidupan lain yang dipersiapkan Tuhan untuk anaknya dan keluarga.

Sementara itu, seorang guru SLB, Kuswara (45) mengatakan, di kampung itu tidak gampang mengembangkan SLB. Apalagi pada awalnya sebagian masyarakat masih menganggap sebelah mata dengan ABK. Namun seiring perjalanan waktu, alhamdulillah sedikit demi sedikit mulai terkikis pemahaman itu.

Guru lainnya, Eka Komalasari (40) yang sudah dua tahun lebih berinteraksi dengan anak-anak ini, mengaku merasa ada ikatan batin dengan siswanya. Bahkan, Eka mengaku sering merasa sedih jika anak didiknya ada yang mengejek atau menertawakannya.

Namun, di balik semangat mereka mengajar anak-anak dengan mental terbelakang, ada satu harapan besar yang sampai saat ini masih menjadi impian. Guru, orang tua, dan masyarakat di kampung ini berharap memiliki ruang kelas milik sendiri sehingga SLB-nya bisa mendapat izin operasional dan menjadi SLB yang layak untuk mendidik ABK. [den]

Berita Lainnya
0 Komentar
Kirim Komentar Anda
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut
Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAHKORAN.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BBM Naik Rp3.000
PRESIDEN terpilih Joko Widodo sudah menyiapkan kado pertama pemerintahannya. November ini, harga bahan bakar minyak (BBM) akan naik Rp3.000.
ASPIRASI + Indeks