Jumat, 24 Oktober 2014 | 18:18 WIB
LINTAS JABAR

BBM Naik, Kelangsungan Transportasi Umum Terancam

Oleh: Zaenal Mutaqin
Pantura - Selasa, 14 Mei 2013 | 17:00 WIB
inilah.com/Wirasatria

INILAH.COM, Subang - Warga masyarakat Kabupaten Subang mengeluhkan rencana kenaikan BBM oleh pemerintah. Pasalnya, kenaikan bukan hanya berdampak pada kehidupan rumah tangga namun juga terhadap kelangsungan usaha angkutan di Kabupaten Subang.

Ketua Organda Kabupaten Subang, Adhe Koesnadi menyatakan, kenaikan BBM akan mengakibatkan lumpuhnya usaha jasa transportasi umum. Pasalnya, selain mengakibatkan turunnya minat pengguna angkutan umum, populasi pengguna motor di Subang sudah semakin banyak.

"Bisa dibayangkan BBM tidak naik saja, penyedia jasa transportasi saat ini sudah tergerus dengan banyaknya sepeda motor di Kabupaten Subang. Apalagi jika nanti BBM naik, pasti banyak pengusaha angkutan umum yang bangkrut," jelas Adhe, Selasa (14/5/2013).

Bila nanti BBM naik, pihaknya mengaku masih belum bisa menentukan berapa besar kenaikan tarif angkutan yang harus diberlakukan. Namun dari pantauan secara pribadi persentase kenaikan itu bisa mencapai hingga 35 persen.

"Kami tidak bisa memutuskan sepihak berapa persentase kenaikan tarif angkutan di Subang. Pada prinsipnya kami menolak rencana kenaikan BBM karena bila tarif angkutan dinaikan, penumpang tentunya banyak yang kabur," katanya.

Selain ancaman kenaikan BBM, pihaknya pun saat ini mengeluhkan tingginya ongkos perbaikan sarana pendukung kendaraan seperti ban dan oli untuk perawatan mesin mobil. Oleh karena itu tidak mengherankan jika hingga saat ini banyak pengusaha angkutan umum yang gulung tikar.

"Usaha dalam bidang ini semakin sulit. Apalagi ditambah populasi motor per hari yang dikeluarkan dealer di Subang yang mencapai 200-500 unit," ucapnya.

Hal senada disampaikan Kabid Angkutan Dinas Perhubungan Kabupaten Subang, Uteng Hermawan. Dirinya mengaku, saat ini banyak operator atau pengusaha angkutan umum yang 'gulung tikar' karena berkurangnya jumlah masyarakat pengguna sebagai dampak maraknya penggunaan motor dan ketatnya persaingan ekonomi.

“Jika penumpang berkurang, pendapatan juga jelas menurun, sementara operasional, biaya pemeliharaan kendaraan dan kebutuhan hidup tinggi. Pengusaha maupun operator tentu mengalami rugi besar. Makanya banyak yang tidak mampu bertahan," tegas Uteng.[ang]

Berita Lainnya
0 Komentar
Kirim Komentar Anda
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut
Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAHKORAN.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
TARIK-ULUR KABINET JOKOWI
PRESIDEN Jokowi masih belum mengumumkan susunan kabinetnya. Ada tarikmenarik kepentingan dalam proses seleksi.
ASPIRASI + Indeks