• Sweeping Kaos #2019GantiPresiden Bukti Jokowi Panik Stadium Empat

    Oleh : Dery Fitriadi Ginanjar07 Mei 2018 09:36
    fotografer: Net
    INILAH, Bandung - Baru-baru ini publik dikejutkan oleh aksi sweeping pengguna kaos bertuliskan #2019GantiPresiden oleh aparat. Bukan hanya Jakarta, tetapi di kota-kota lainnya pun terjadi aksi serupa.

    Kader Muda Partai Gerindra Tb Ardi Januar menilai, rezim sekarang mulai terjangkit penyakit kaosphobia. Karena itu, mereka sampai merasa perlu mengerahkan aparat, surat edaran, sampai menggelar aksi tandingan.

    "Dalam teori classical conditioning di ilmu psikologi, tindakan itu wujud kepanikan dan ketakutan yang ekstrem. Hanya karena kaos bertagar #2019GantiPresiden, kantor Partai Gerindra di Semarang didatangi aparat bersenjata. Di Medan surat edaran pencegahan dilayangkan. Di Makassar orang disweeping aparat kepolisian. Di Jakarta bocah di bawah umur dikerahkan untuk menggelar aksi tandingan. Bahan kaosnya jelek dan ukurannya kedodoran. Kasihan," kata pria yang akrab disapa Tebe ini melalui telepon selulernya, Senin (7/5/2018).

    Tebe menyayangkan respons kebablasan pemerintahan Joko Widodo. Padahal polisi pernah berkata kaos #2019GantiPresiden tidak dilarang. Bawaslu juga berkata kaos itu tidak masuk konteks pelanggaran.

    "Sayang, penguasa sudah kadung parno dan gelap mata. Mereka khawatir gerakan ini kian membesar yang efeknya tak bisa melanjutkan kekuasaan. Penguasa saat ini sangat demokrasi dalam ucapan, tapi tirani dalam tindakan. Gerakan kaos dikebiri, para kritikus ditangkapi, akun sosmed yang vokal dibuat mati. Dia biarkan publik membaca Seword dan Katakita sebagai rujukan informasi," bebernya.

    Tebe justru mempertanyakan ketakutan yang menghinggapi penguasa. Padahal pihak Joko Widodo selalu memplokamirkan memiliki survei kepuasan publik sangat tinggi. Termasuk memiliki tingkat elektabilitas melambung tinggi.

    "Jangan-jangan angka survei kepuasan itu dustan data statistik itu bohong belaka, lalu isu elektabilitas tinggal 11 persen itu benar adanya. Jadi kita harus maklum bila penguasa sedang panik dan kalap," ujarnya.

    Uniknya Tebe mengaku tidak mengecam atau menyayangkan sweping kaos #2019GantiPresiden. Dia malah mendukung agar tindakan represif dilanjutkan.

    "Kenapa? Karena dengan demikian perlawanan akan semakin besar. Konsolidasi rakyat akan semakin tak terbendung. Sudah menjadi hukum alam, bahwa semakin nyata penindasan, akan semakin keras pula perlawanan. Dan sudah menjadi hukum alam juga, bahwa kepanikan dan ketakutan semakin mendekatkan dengan kekalahan dan kehancuran," ucapnya.

    Pegiat sosial dari Bandung Ragil Aji mengaku kedodoran menerima pesanan kaos #2019GantiPresiden. Awalnya dia membuat kaos hanya mewakili aspirasi pribadi. Siapa sangka kaos tersebut banyak peminatnya.

    "Kaos ini dibuat berdasarkan adanya permintaan dari masyarakat, sekaligus mewakili aspirasi saya pribadi. Mudah-mudahan pada pemilu mendatang terpilih pemimpin yang kebijakannya benar-benar berpihak pada rakyat," katanya.

    Ragil mengungkapkan, setiap minggu menerima pesanan sekitat 4 lusin. Kaos fenomenal tersebut dijual murah, hanya untuk ongkos produksi.

    "Kalau di situs belanja online udah lebih dari 3 lusin per minggu. Kalau selain situa sekitar 1 lusin," kata dia. [gin]

    Tags :
    # #


    Berita TERKAIT