• Senin, 25 Oktober 2021

Farhan: Bukan Solusi Tepat Pecat Helmi Yahya dari TVRI

- Kamis, 23 Januari 2020 | 14:00 WIB
istimewa
istimewa

INILAH, Bandung- Anggota Komisi 1 DPR RI dari Fraksi NasDem, Muhammad Farhan menuturkan  menuturkan audit investigasi DPR RI kepada jajaran dewan pengawas TVRI menjadi langkah tepat. TVRI dibawah kepemimpinan Helmy Yahya dinilainya telah memasuki kinerja tepat dalam parameter kuantitatif yang diakui. 

TVRI adalah aset bangsa yang harus diselamatkan. Untuk itu perlu dilakukan audit investigasi lanjutan atau penyelidikan dengan tujuan tertentu,” ujar Farhan disela kunjungan kerja di Bandung Jawa Barat, Kamis (23/1/2020)

Menurutnya, langkah dewan pengawas memecat Helmy Yahya bukan solusi tepat jika ingin memajukan dan meningkatkan kualitas TVRI. “Kisruh internal TVRI yang berakhir pada pemecatan Dirut saat ini merupakan langkah mundur dari segala prestasi yang pernah dicapai TVRI,” katanya.

Farhan menilai, pemecatan itu syarat dengan kepentingan kelompok jika berkaca pada Undang - Undang RI nomor 32/2002 tentang Penyiaran. Dalam peraturan itu diterangkan bahwa Direktur Utama dipilih oleh Dewan Pengawas. Dengan permasalahan yang muncul, seharusnya antara direktur dan dewan pengawas mampu memberikan solusi dengan bermusyawarah.

“Maupun PP 13/2005 menyatakan bahwa dewan direksi itu dipilih dan ditetapkan oleh Dewas. Jadi sebenarnya Dirut itu orang pilihan Dewas,” katanya.

Dari laporan yang diterimanya, salah satu alasan pemecatan Helmy Yahya oleh dewan pengawas adalah persoalan kesejahteraan dimana honor pekerjaan (honor SKK) sebagian pegawai TVRI belum terbayarkan. “Bahwa kesejahteraan karyawan TVRI terganggu, berapa banyak dari 4.800 yang terganggu akibat belum dibayarkan honor SKK mereka? Apakah termasuk karyawan TVRI di 28 stasiun daerah juga?” tanya farhan.

Selain itu, masalah performa juga menjadi pemicu pemecatan Helmy Yahya. Menurut Farhan, jika peforma yang dipermasalahkan maka perlu parameter kuantitatif yang digunakan Dewan Pengawas untuk mengukur performa sesuai key peformance indicators yang ada di lembaga penyiaran publik. 

“Semuanya harus jelas dan transparan, agar tidak ada kebohongan yang ditutupi. Caranya ya melalui audit investigasi itu,” terangnya.

Sebelumnya, Dewan Pengawas (Dewas) TVRI memberhentikan Direktur Utama Helmy Yahya pada 16 Januari 2020. Surat keputusan (SK) pemecatan Helmy dikatakan merujuk pada Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 13 Tahun 2005 tentang LPP TVRI. Berdasarkan PP tersebut, kata Ketua Dewas TVRI Arif Hidayat Thamrin, Dewas memiliki hak untuk mengangkat dan memberhentikan Dewan Direksi.

Halaman:

Editor: JakaPermana

Terkini

Foto: Syukuran Wisuda SBM ITB

Minggu, 24 Oktober 2021 | 17:27 WIB

Teras Cihampelas Akan Diaktifkan Kembali

Sabtu, 23 Oktober 2021 | 15:15 WIB

Kota Bandung Pastikan Beri Bonus Bagi Atlet PON Papua

Sabtu, 23 Oktober 2021 | 14:30 WIB
X