• Minggu, 26 September 2021

Inilah Kisah Orang Tua Anak Down Syndrome Saat Menghadapi Sekolah Online

- Rabu, 28 Juli 2021 | 16:50 WIB
istimewa
istimewa

INILAH, Bandung - Memiliki anak dengan kelainan genetik atau down syndrome tentu bukan hal yang mudah bagi orang tua. Sindrom itu terjadi karena adanya gangguan genetika yang disebabkan kelainan kromosom sehingga menyebabkan perbedaan kemampuan belajar dan ciri-ciri fisik yang tidak bisa disembuhkan. Namun, jika diberikan dukungan dan perhatian yang maksimal maka mereka bisa tumbuh secara bahagia. 

Ega Pegi menuturkan pengalamannya. Sebagai orang tua, dengan penuh kasih sayang dia membesarkan Vania Nur Syifa. Vania kini menginjak Kelas VI di Sekolah Luar Biasa (SLB) C YPLB Asih Manunggal, Kota Bandung. 

Vania mengalami down syndrome ringan. Kendati begitu, IQ Vania masih jauh lebih baik dan masih bisa berkomunikasi. Pelajaran formal dan nonformal pun masih bisa diikuti dengan baik.

Dalam pembelajaran, pihak sekolah memberikan sejumlah tugas kepada orangtua, untuk kemudian tugas tersebut diberikan kepada peserta didik. Ada dua pelajaran yang akan dikerjakan yakni formal dan nonformal.

Untuk formal, pihak sekolah memberikan pelajaran membaca, menulis, menghitung dan lainnya. Sedangkan, untuk nonformal biasanya anak-anak dikasih pelajaran kemandirian tentang mulai dari pemakaian toilet, cara makan, cara beribadah, sampai olahraga.

"Tapi kadang anak saya tuh, kesukaannya musik, jadi suka yang audio visual, jadi mereka tuh lebih senang, misalnya diajak nyanyi, diajakin menari, dan suka nonton," kata Ega, Rabu (28/7/2021).

Semenjak ada pandemi ini, kata Ega, pihak sekolah memang mewajibkan untuk pembelajaran jarak jauh (PJJ). Beruntung, pihak sekolah memberikan modul atau panduannya.

Seminggu minggu sekali kita harus ambil ke sekolah, jadi kita tinggal mengarahkan ke anak-anak. Kalau tadi kebetulan ini masih pemanasan, mulai kenalan lagi sama teman-teman sekelas. Kebetulan tadi juga diajarin tentang cara bermain dengan teman harus seperti apa, kalau bermain itu harus berbagi mainannya, kita sharing sama gurunya. Terakhir, baru kita dikasih yang formal yaitu belajar mewarnai dan lainnya," paparnya.

Menurut Ega, tingkat kesulitatannya bagaimana membentuk bahwa anak itu bisa disiplin, apalagi mereka harus PJJ.

Halaman:

Editor: donramdhani

Tags

Terkini

Pemkot Bandung Akan Kembali Buka Fasilitas Publik

Sabtu, 25 September 2021 | 13:13 WIB

Terkait PTM Terbatas, Harus Ada Evaluasi Dulu

Jumat, 24 September 2021 | 15:16 WIB

Jelang HJKB 211, Oded M Danial Pimpin Doa Bersama

Jumat, 24 September 2021 | 14:05 WIB
X