• Kamis, 9 Desember 2021

Ajay Kena 2 Tahun, Ruang Sidang Bergemuruh, Ada yang Nangis

- Rabu, 25 Agustus 2021 | 11:46 WIB
Foto: INILAH/Syamsuddin Nasoetion
Foto: INILAH/Syamsuddin Nasoetion

INILAH, Bandung - Ruang sidang Pengadilan Tipikor Bandung mendadak bergemuruh. Bahkan ada pengunjung sidang yang sampai menangis.

Itu terjadi saat Pengadilan Tipikor Bandung menyidangkan Wali Kota Cimahi Nonaktif, Ajay M Priatna, Rabu (25/8/2021). Begitu majelis hakim membacakan putusan, dengan vonis penjara 2 tahun, para pengunjung sidang langsung bergemuruh sampai ada yang menangis.

Ajay M Priatna sendiri dijatuhi hukuman penjara selama 2 tahun, denda Rp 100 juta, subsider kurungan tiga bulan. 

Hal itu terungkap dalam sidang putusan kasus dugaan suap dan gratifikasi izin RSU Kasih Bunda dengan terdakwa Ajay M Priatna di Pengadilan Tipikor Bandung, Jalan RE Martadinata,  Rabu (25/8/2021). 

Dalam amar putusannya Ketua Majelis Sulistiyono menyatakan, terdakwa terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana korupsi secara bersama dan berlanjut, yakni menerima hadiah sebagaimana dakwaan kedua alternatif pertama pasal 11 hurud a UU Tindak Pidana Korupsi. 

"Menjatuhkan hukuman penjara selama dua tahun, denda Rp 100 juta, subsider kurungan tiga bulan," ujarnya. 

Selain itu, kepada terdakwa juga diharuskan membayar uang pengganti (UP) sebesar Rp1,5  miliar atau diganti kurungan penjara selama satu tahun. 

Atas putusan tersebut Ajay dan kuasa hukumnya beserta tim JPU KPK mengaku pikir-pikir.

Sebelumnya, Jaksa Penunttut Umum (JPU) KPK  menuntut Wali Kota Cimahi nonaktif Ajay M Priatna hukuman 7 tahun penjara. Ajay dituntut dua pasal sekaligus, yakni suap dan gratifikasi. Dia juga tidak mengakui dan menyesali perbuatannya.

Dalam amar tuntutannya, JPU KPK Budi Nugraha menyatakan Ajay terbukti bersalah melakukan tindak pidana korupsi dan meminta majelis menjatuhkan hukuman penjara selama tujuh tahun, denda Rp 300 juta, subsider kurungan enam bulan. Ajay pun diharuskan membayar uang pengganti Rp7.9 miliar dari hasil penerimaan suap dan gratifikasi yang diterimanya.

Dalam pertimbangannya, Budi menyebutkan hanya ada satu hal yang  meringankan dan dijadikan pertimbangan dalam memberikan tuntutan, yakni Ajay sama sekali belum pernah dihukum.

”Yang memberatkan, Ajay tidak mendukung program pemerintah dalam memberantas tindak pidana korupsi, tidak mengakui dan menyesali perbuatannya, tidak berterus terang dan terdakwa mempengaruhi dan mengintimidasi saksi-saksi,” ujarnya. (ahmad sayuti)

 

Halaman:

Editor: Zulfirman

Tags

Terkini

X