• Senin, 25 Oktober 2021

Memetik Pelajaran Berharga Dibalik Tradisi Hajat Arwah di Desa Nyalindung, Cipatat, KBB

- Selasa, 14 September 2021 | 15:02 WIB
Tadisi Hajat Rawah di Kampung Parakansalam, Desa Nyalindung, Kecamatan Cipatat, KBB.  (agus satia negara)
Tadisi Hajat Rawah di Kampung Parakansalam, Desa Nyalindung, Kecamatan Cipatat, KBB. (agus satia negara)

INILAHKORAN, Ngamprah - Hajat Arwah atau syukuran ruwah adalah adat tradisi masyarakat Kampung Parakansalam, Desa Nyalindung, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat (KBB).

Hajat arwah ini berupa ziarah kubur atau nadran untuk berdoa bertawasul di makam leluhur Eyang Entang atau Mbah Dalem Jagat Sakti serta para tokoh lainnya pada bulan syaban atau ruwah.

Hajat di sini bermakna berdoa kepada Allah SWT agar para arwah yang membangun kampung tersebut bisa terus mendapat pahala yang mengalir karena jasa budi baik amaliahnya semasa hidup.

Oleh karenanya, seluruh keturunan dari leluhur Kampung Pasirsalam harus menghormati jasa-jasa leluhurnya. Hal ini benar adanya, karena tanpa ada leluhur atau karuhun tidak akan pernah ada keturunan selanjutnya.

Baca Juga: Tradisi Kirim Bingkisan Makanan Jelang Hari Raya

Hajat arwah yang dilakukan di Kampung Parakansalam terus dilakukan oleh masyarakat secara turun-temurun dan dipimpin langsung sesepuh Kampung Parakansalam, seperti Mama Idris, Mama Arsyad, Wil Sukri, Wil Zuki, Aki Anda Sutisna, serat turunannya yang masih hidup, yaitu Abah Otib.

Prosesi Hajat Arwah

Mengawali acara, seluruh masyarakat berkumpul di rumah tokoh masyarakat. Lalu, dilakukan pawai budaya dengan diiringi oleh qasidah dan marawis dengan melantunkan salawat.

Seluruh masyarakat berjalan sambil membawa kendi yang berisi daun hanjuang oleh anak-anak menuju makam Mbah Jagat Sakti dari Kampung Parakansalam menuju Kampung Cibarengkok.

Setelah sampai di makam leluhur, mereka duduk di depan makam seraya memanjatkan puji dan syukur kepada Allah Subhanahuwata'ala.

Baca Juga: Ziarah Kubur Jelang Ramadan, Wajib atau Tradisi?

Sebelum memulai acara, Abah Otib tampil menjelaskan adanya ritual Hajat Arwah tersebut. Menurutnya, kenapa ada pawai atau arak-arakan seperti ini, tidak ada alasan lain hanya untuk berdoa kepada Allah Subhanahuwata'ala.

"Ini dilakukan agar para arwah leluhur kita semua bisa melestarikan adab menghormati leluhur yang selama ini sudah dilupakan," katanya, Selasa 14 September 2021.

Bah Otib menjelaskan, jika tidak ada leluhur seluruh keturunan mau ke mana, sedangkan saat ini banyak orang yang telah melupakan leluhurnya.

"Sekarang kita bedah, mudah-mudahan kita bisa lebih mendekatkan diri kepada yang Maha Agung, mendapat kemurahannya, serta doa bagi arwah bisa diterima," jelasnya.

Selanjutnya, kata dia, dilakukan doa bersama oleh ulama setempat. Akhir dari doa, dilakukan penyiraman ke pusara makam leluhur dan makam-makam yang ada di sekitar makam Eyang Jagat Sakti.

Baca Juga: Sejarah Panjang Tradisi Kafir di Tahun Baru

Setelah itu mereka pulang menuju Kampung Parakansalam untuk melaksanakan kebiasaan adat, dengan melakukan sawer kepada masyarakat berupa uang logam, beras kuning dan permen.

"Uang tersebut merupakan sedekah, infak amal jariyah dari tokoh masyarakat yang telah melaksanakan hajat arwah," bebernya.

Setelah saweran, sambung dia, dilanjutkan dengan acara syukuran kepada Allah Subahanuwata'ala dengan makan tumpeng bersama seluruh masyarakat sekaligus acara papajar, yaitu menyambut bulan suci Ramadan.

Sementara itu, Kepala Desa Nyalindung Oo Supriatna mengatakan ritual Hajat Arwah merupakan bentuk penghormatan kepada orang tua, serta leluhur Desa Nyalindung yang telah berjasa mendirikan perkampungan dan melahirkan keturunan.

"Kita tidak akan bisa berdiri seperti sekarang ini, kalau tidak para tokoh atau sesepuh dahulu (Karuhun)," katanya.

Ia menjelaskan, Rasullullah juga merupakan tokoh agama yang diutus Allah Subhanahuwata'ala menjadi panutan para sesepuh sekarang yang berjuang demi berdirinya Desa Nyalindung, jadi harus kita hormati.

"Mudah-mudahan kita bisa lebih hormat kepada orang tua (sepuh), karena kita tidak akan bisa makan dengan tenang dan beribadah dengan tenang tanpa ada perjuangan para orang tua dulu (sesepuh)," jelasnya.

"Mereka adalah pejuang kita semua yang membela Desa Nyalindung," sambungnya.

Di tempat yang sama, Kepala Seksi Bina Budaya pada Dinas Pariwisata dan Kebudayaan KBB Hernandi Tismara mengatakan tradisi Hajat Arwah ini masuk dalam peraturan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan nomor 105 tahun 2013 tentang pencatatan warisan budata takbenda Indonesia, Kabupaten Bandung Barat.

"Kami mendapat amanat dari Undang-Undang pencatatan budaya takbenda Indonesia yang dilaporkan ke kementerian. Katanya di tahun 1832, dari kali pertama kampung ini bernama Kampung Babakan Lembur hingga saat ini menjadi Kampung Parakansalam, dilanjutkan oleh putranya Mama Idris hingga yang terakhir Aki Zuki," ujarnya. (agus satia negara)

Halaman:

Editor: donramdhani

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Foto: Syukuran Wisuda SBM ITB

Minggu, 24 Oktober 2021 | 17:27 WIB

Teras Cihampelas Akan Diaktifkan Kembali

Sabtu, 23 Oktober 2021 | 15:15 WIB

Kota Bandung Pastikan Beri Bonus Bagi Atlet PON Papua

Sabtu, 23 Oktober 2021 | 14:30 WIB
X