• Senin, 25 Oktober 2021

Diduga Selewengkan Rp52,6 Miliar, Mantan Manager Keuangan Posfin Dijebloskan ke Bui

- Selasa, 14 September 2021 | 17:54 WIB
Kejati Jabar menetapkan RDC mantan manager keuangan dan akuntansi PT Pos Finansial (Posfin) sebagai tersangka. (ahmad sayuti)
Kejati Jabar menetapkan RDC mantan manager keuangan dan akuntansi PT Pos Finansial (Posfin) sebagai tersangka. (ahmad sayuti)

INILAHKORAN, Bandung - Kejati Jabar menetapkan RDC mantan manager keuangan dan akuntansi PT Pos Finansial Indonesia (Posfin) sebagai tersangka dalam kasus dugaan korupsi penyimpangan dalam penggunaan keuangan secara tidak sah tahun anggaran 2018 hingga 2020.

Perkara dugaan korupsi yang diduga menelan kerugian negara Rp52,6 miliar di anak perusahaan PT Pos Indonesia tersebut, sudah dilakukan penyidikan sejak sejak Februari 2021 berdasarakan surat perintah penyidikan dari Wakil Kejati Jabar nomor Print – 178/M.2.1/Fd.1/02/2021 tanggal 18 Februari 2021.

”Hari ini, penyidik melakukan penahanan selama dua puluh hari kedepan terhitung mulai tanggal 14 September 2021 sampai 3 Oktober 2021 yang dititipkan di Rutan Polrestabes Bandung," kata Aspidsus Kejati Jabar Riyono di Kantor Kejati Jabar, Jalan Naripan, Selasa 14 September 2021.

Baca Juga: Sikap Kami: Hipokritisme Pelaku Korupsi

Ia menjelaskan, penahanan dilakukan berdasarkan Surat Perintah Penahanan (tingkat Penyidikan) T-2 Nomor: Print-896/M.2.1/Fd.1/09/2021 tanggal 14 September 2021 dengan dasar penahanan Pasal 21 ayat (1) KUHAP.

Selain menahan tersangka, pihaknya juga menyita beberapa barang bukti 121 dokumen/surat-surat terkait perkara tersebut dan 3 unit barang elektronik. Semua barang bukti telah diamankan sejak proses penyidikan dan penggeledahan di Posfin.

RDC disangkakan melanggar Pasal 2 Ayat (1), Pasal 3 jo Pasal 18 UU No 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

"Tidak menutup kemungkinan kita kembangkan bila ada tindak pidana pencucian uang," ujarnya.

Baca Juga: PARAH..Jawa Barat Paling Korup di Indonesia, Catatkan Rekor 101 Kasus Korupsi

Lebih lanjut Riyono menerangkan, modus operandi dalam kasus korupsi tersebut yaitu penyimpangan dalam penggunaan keuangan secara tidak sah di PT. Pos Finansial Indonesia Tahun 2018 s/d 2020. Dugaan penyimpangan penggunaan keuangan dilakukan oleh Direktur PT Posfin, S dan Manajer Keuangan dan Akuntansi PT. Posfin, RDC sekurang-kurangnya sebesar Rp 52.612.200.000.

Angka tersebut muncul dari modus yang dilakukan tersangka. Yaitu pembayaran premi sertifikat jaminan pembayaran kepada PT Berdikari Insurance melalui Brooker PT Caraka Mulia yang ternyata di-markup dan dibatalkan PT Berdikari Insurance sebesar Rp2.812.800.000.

Kemudian, pengadaan alat soil monitoring dan peremajaan lahan (proyek Kementan) yang disubkontrakkan ke PT Posfin, padahal proyek tersebut ternyata fiktif sebesar Rp19.319.400.000.

Baca Juga: Waduh! Ketua KPK Sebut Jawa Barat Peringkat 1 Jumlah Kasus Korupsi

Selain itu, penggunaan dana Posfin untuk pembelian saham (akuisisi) PT Pelangi Indodata dan PT Lateria Guna Prestasi dengan menggunakan nama orang lain (Nomine) atas nama Dian Agustini dan Gugy Gunawan Tribuana sebesar Rp17.000.000.000.

Kemudian, penggunaan dana Posfin untuk kepentingan pribadi Soeharto selaku Direktur PT Posfin sebesar Rp4.280.000.000.

Kelima, pembiayaan/pinjaman back to back pada Bank Mega Syariah (BMS) yang ternyata digunakan untuk menebus sertifikat rumah pribadi Soeharto selaku Direktur PT Posfin pada Bank Maybank sebesar Rp9.200.000.000.

"Penyimpangan tersebut diduga mengakibatkan kerugian keuangan negara c/q PT Pos Finansial Indonesia atau PT Pos Indonesia untuk sementara sebesar Rp52.612.200.000 sesuai dengan Laporan SPI," ujarnya. (ahmad sayuti)

Halaman:

Editor: donramdhani

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Foto: Syukuran Wisuda SBM ITB

Minggu, 24 Oktober 2021 | 17:27 WIB

Teras Cihampelas Akan Diaktifkan Kembali

Sabtu, 23 Oktober 2021 | 15:15 WIB
X