• Minggu, 24 Oktober 2021

Dosen Unpas Ini Ikut Nimbrung soal PTM Terbatas, Apa Katanya?

- Senin, 27 September 2021 | 12:37 WIB
Erik Rusmana
Erik Rusmana
INILAHKORAN, Bandung - Pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas di sekolah-sekolah di Indonesia tampaknya menjadi sebuah angin segar bagi para siswa dan orang tua. Semenjak digulirkan, banyak para orang tua yang merasa gembira, begitu pun dengan anak-anak tentu saja.

Dengan pemberlakuan PTM terbatas, sekolah harus secara matang mempersiapkan segala macam hal yang dibutuhkan guna mendukung pelaksanaannya di lapangan. Tak ayal, mulai dari informasi pengantaran siswa ke sekolah sampai pada tahap pulang sekolah pun semua di data oleh pihak sekolah.

Pemberlakuan PTM terbatas di sekolah seolah-olah menjadi sebuah obat penawar bagi sebuah kejenuhan yang tak berujung bagi para stakeholder. Namun, sayangnya obat penawar ini justru menjadi sebaliknya jika dilihat realita di lapangan, euforia.

Melihat hal itu, Dosen Fakultas Ilmu Seni dan Sastra Erik Rusmana mengatakan, semenjak sosialisasi pemberlakuan PTM terbatas pada pertengahan September oleh sekolah terjadi kerumunan di pasar/pertokoan atau tempat-tempat yang biasa menjual seragam sekolah. Tampak, bahwa era disrupsi teknologi sebenarnya mungkin tidak terlalu memberikan efek pada tataran masyarakat kelas menengah ke bawah.
 
Baca Juga: Sikap Kami: Melawan Hoaks PTM

Kata Erik Rusmana, mereka lebih nyaman membeli sesuatu secara langsung, meskipun sedang masa pandemi ini. Mereka berkerumun, mungkin terjadi proses tawar-menawar dan hal itu seolah kebutuhan para orang tua.

"Lalu, dimana peran yang biasanya dilakukan oleh pemerintah pada level 4 PPKM di beberapa waktu yang lalu dengan menerjunkan para penegak peraturan tersebut. Sejatinya mungkin sebagian masyarakat memang belum terbiasa dengan sebuah era yang disebut disrupsi," kata Erik Rusmana, Senin 27 September 2021.

Menurut dia, mungkin hal itu menjadi salah satu bagaimana kluster-kluster mulai bermunculan. Di samping itu ada juga efek domino dari revenge tourism dimana destinasi wisata membludak, contohnya di Pantai Pangandaran. Hubungannya adalah peran dan kesadaran orang-tua juga menjadi elemen yang tidak bisa dipisahkan guna mendukung pemberlakuan PTM terbatas agar bisa berjalan sesuai keinginan semua.

"Orangtua yang dalam situasi pandemi yang berjenjang beberapa bulan kemarin mengalami kondisi emosi yang kurang stabil sehingga ketika PPKM dilonggarkan mereka langsung tanpa tedeng aling-aling melakukan kegiatan berwisata. Mereka lupa bahwa anak-anak mereka yang masih bersekolah justru telah lama menantikan kegiatan belajar dan bersosialisasi dengan temannya di sekolah," paparnya.
 
Baca Juga: Disdik Kota Bogor Terus Matangkan PTM Terbatas , Dibuka Serentak 4 Oktober 2021

Pada titik ini sebenarnya, kegiatan revenge tourism di berbagai daerah sebenarnya bisa dicegah di tingkat domestic melalui kesadaran kolektif sesame anggota keluarga. Kesadaran kolektif ini tokoh utamanya adalah orang tua, dan anak sebagai seoarang anggota keluarga seharusnya diberikan hak untuk bersuara dan juga hak untuk mendapatkan Pendidikan. Oleh karena itu, orang tua seharunya memiliki sebuah kesadaran agar apa yang ditunggu-tunggu oleh anak mereka atau anak-anak di Indonesia ini bisa direalisasikan secara berkelanjutan.

Dia mengatakan, sebagian besar sekolah yang siap melakukan PTM terbatas sebenarnya sudah melakukan tugasnya dengan baik, mereka mulai merekstrukturisasi atau memodifikasi sebagian kecil bangunannya. Modifikasi ini dilakukan guna mendukung standar protokol kesehatan yang telah ditetapkan oleh kemenkes dalam konteks ini mungkin satgas covid-19.

Hal lainnya adalah para guru dan tenaga kependidikan juga telah mendapatkan sosialisasi protocol satndar kesehatan selama pandemi berlangsung. Mereka adalah tokoh-tokoh yang peranannya penting ketika diaksanakan PTMT ini. Dan yang selanjutnya adalah sosialisasi mengenai PTMT sekolah kepada para orang tua, wali, dan murid.
 
Baca Juga: Ridwan Kamil Pastikan Belum Ada Klaster Covid-19 Selama PTM di Jabar, Begini Penjelasannya

Kegiatan sosialisasi PTM terbatas yang dilakukan oleh pihak sekolah nampaknya sedikit terlambat atau saling susul menyusul dengan agenda kegiatan liburan, ini merupakan efek dari pemberlakuan penurunan level PPKM di masing-masing wilayah. Sialnya, kegiatan sosialisasi PTMT ini nampaknya telah didahului oleh kebijakan pembukaan destinasi wisata.

Alhasil, para wisatawan membludak di tempat wisata, terutama di penghujung minggu. Mereka meluapkan hasrat yang selama ini terpendam untuk malakukan sebuah perjalanan ke sebuah latar tempat yang dianggap berbeda dengan yang biasa terjadi pada alur kehidupan mereka sehari-hari.

"Berpindah, berkumpul, bersosialisasi, meskipun hanya sesaat menjadi sebuah pemenuhan hasrat yang telah lama mereka pendam. Dan hal tersebut mungkin menjadi sebuah penyebab diantara penyebab lainnya terhadap kegiatan PTMT sekolah yang sebenarnya mungkinmempunyai efek pajang yang belum pernah terjadi di sejarah kehidupan manusia," imbuhnya.
 
Baca Juga: Terkait PTM Terbatas, Harus Ada Evaluasi Dulu

Kesimpulannya adalah seiring penurunan level PPKM di mayoritas provinsi di Indonesia seharusnya terjalin komunikasi yang intens antar kementrian terkait. Semisal hal yang paling sederhana adalah adanya koordinasi antara Kemendikbud-Ristek dan Kemenparekraf sehingga apa yang menjadi harapan bagi para masyarakat terutama bagi siswa dan orang tua bisa berjalan sebagaimana mestinya.

"Kebijakan pembukaan tempat wisata seharusnya diiringi dengan kebijakan atau peraturan yang mengedepankan kepentingan bersama, tanpa mengorbankan hak para pelajar di Indonesia. Kami yakin para kementrian terkait bisa berkolaborasi akan tujuan mulia tersebut secara bergandengan tangan," ucapnya.

Satu lagi hal yang menjadi fokus para stake holder terkiat dengan PTMT ini adalah adanya sebuah anjuran dari WHO (Organisasi Kesehatan Dunia) dan UNICEF (Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Anak-anak) yang menyarankan agar sekolah di Indonesia segera dibuka setelah 18 bulan lamanya mereka melakukan kegiatan sekolah secara daring. Dan, menurut mereka ini bisa memberikan efek yang sangat Panjang.

"Dalam hemat saya, jangankan efek jangka panjang, efek yang paling kentara dari pemberlakuan PJJ selama pandemic telah menghasilkan beberapa efek negatif, baik bagi siswa mau pun orang tua itu sendiri. Jadi alangkah lebih baiknya bagi pemerintah untuk memperhatikan saran dari kedua organisasi tersebut, dan dituangkannya dalam kebijakan atau peraturan yang bisa bersinergi dengan kepentingan lainnya," ucap Erik Rusmana.

Masa depan Indonesia dalam beberapa kurun waktu ke depan kata Erik Rusmana, akan sangat ditentukan oleh generasi sekarang, dan generasi sekarang sangat membutuhkan kegiatan yang berkelanjutan di sekolah. 
"Mereka perlu belajar secara langsung dengan para guru, mereka perlu bersosialisasi secara langsung dengan teman sebayanya, mereka butuh para orang tua, guru, dan tenaga pendidik untuk tercapainya hal tersebut, dan yang terakhir mereka membutuhkan dukungan penuh dari pemerintah dengan menuangkan kebijakan atau peraturan dengan sinergitas dan tujuan yang sama pula," pungkasnya. (okky adiana)

Editor: Zulfirman

Tags

Terkini

Teras Cihampelas Akan Diaktifkan Kembali

Sabtu, 23 Oktober 2021 | 15:15 WIB

Kota Bandung Pastikan Beri Bonus Bagi Atlet PON Papua

Sabtu, 23 Oktober 2021 | 14:30 WIB

Bupati kukuhkan Forum Bogor Sehat periode 2021-2026

Kamis, 21 Oktober 2021 | 23:45 WIB
X