• Kamis, 28 Oktober 2021

Geger Penemuan Fosil Gajah di Cipongkor, Peneliti Ungkap Fakta Menarik 105 Ribu Tahun Lalu

- Kamis, 14 Oktober 2021 | 10:54 WIB
Warga Kampung Suramanggala, Kecamatan Cipongkor, KBB, saat menunjukkan tulang yang diduga fosil purba. (Agus Satia Nagara)
Warga Kampung Suramanggala, Kecamatan Cipongkor, KBB, saat menunjukkan tulang yang diduga fosil purba. (Agus Satia Nagara)
INILAHKORAN, Ngamprah - Sebanyak 17 titik penemuan fosil tulang belulang hewan (vertebrata) yang ditemukan di bantaran waduk Saguling, Kampung Suramanggala, Kecamatan Cipongkor, Kabupaten Bandung Barat (KBB) diduga merupakan tulang dari hewan-hewan endemik yang hidup ribuan tahun yang lalu.

Berdasarkan hasil identifikasi para paleontolog, temuan fosil tulang belulang hewan tersebut merupakan tulang kerbau, sapi, rusa dan tulang yang dominan yakni tulang gajah. Saat ini, tulang belulang tersebut tengah diteliti untuk mengetahui umur tulang tersebut.

Temuan fosil tulang belulang gajah ini menjadi spesial lantaran saat ini gajah hanya ditemukan di Pulau Sumatera. Dengan temuan itu membuktikan bahwa di Pulau Jawa terdapat gajah sebagai hewan endemik.
 
Baca Juga: Ada Fosil di KBB, Hengky Kurniawan Ingin Lokasi Penemuan Jadi Destinasi Wisata

Anggota Masyarakat Geografi Nasional Indonesia dan Kelompok Riset Cekungan Bandung, T. Bachtiar menyebut masa genang Danau Bandung Purba diperkirakan sekitar 105 ribu tahun yang lalu dan surut pada 16 ribu tahun yang lalu.

Sementara, sambung dia, puncak genangannya diperkirakan pada 36 ribu tahun yang lalu dengan ketinggian air 725 mdpl.

"Kehidupan elephas maximus atau gajah asia itu diperkirakan ada saat Danau Bandung Purba menggenang," katanya, Kamis 14 Oktober 2021.

Ia menerangkan, ada dua pendapat yang menyebut adanya kehidupan gajah di Pulau Jawa. Pertama menyebutkan gajah merupakan hewan endemik yang berada di sekitar aliran Citarum. Sementara, pendapat kedua yakni kehidupan gajah ada saat zaman kerajaan.
 
Baca Juga: Indonesia Power Dukung Upaya Konservasi Temuan Fosil Gajah di Sirtwo Island Waduk Saguling

"Tapi kalau zaman kerajaan belum jadi fosil. Jadi syarat fosil itu 10 ribu tahun yang lalu. Kalau sudah jadi fosil, itu endemik. Kalau masih berwujud tulang mungkin hipotesa kedua bisa menjadi alternatif. Sebab 10 ribu tahun belum ada kerajaan," terangnya.

Hal itu pun tertera dalam buku yang ia tulis, yakni menyebutkan ada kehidupan gajah di aliran sungai Citarum. Berdasarkan nama tempat Leuwi Gajah di Kota Cimahi, menunjukkan ada kehidupan gajah di wilayah itu.

Kendati demikian, kehidupan gajah yang dimaksud berbeda dengan gajah yang hidup saat Danau Bandung Purba menggenang.
 
Baca Juga: Heboh Temuan Tulang Belulang Diduga Fosil Hewan Purba di Cipongkor, Peneliti pun Gerak Cepat Lakukan Ini

Ia menyebut, kehidupan gajah di wilayah Bandung saat zaman kerajaan merupakan gajah yang didatangkan dari Pulau Sumatera sebagai hadiah untuk seorang tokoh yang kini dikenal sebagai Dalem Gajah.

Gajah tersebut kemudian berkembang biak dan berkehidupan di sekitar pinggiran aliran Citarum.

"Gajahnya digembalakan dan dimandikan sampai ke daerah Cimahi Selatan, Leuwi Gajah yang dekat dengan jembatan tol sekarang," bebernya.

Lebih lanjut ia menerangkan, kehidupan gajah pada saat Danau Bandung Purba menggenang semakin diperkuat dengan beberapa indikator lain.

Menurutnya, jika melihat pola kehidupan gajah yang cenderung hidup berkelompok dan berhabitat tidak di hutan belantara, maka beberapa topografi di aliran Citarum mengarah pada habitat gajah.
 
Baca Juga: Heboh! Warga Cipongkor KBB Temukan Tulang Belulang yang Diduga Fosil Hewan Purba

"Gajah itu hidupnya bukan di hutan belantara, tapi hidup di daerah savana. Berarti daerah sekitar Citarum itu dulu ada savana untuk rumputnya, ada rawa, air untuk mereka berkubang. Jadi syarat hidupnya itu bukan berada di hutan yang rapat. Nah syarat itu kan terpenuhi," terangnya.

Ia menambahkan, jika melihat pola hidup yang berkelompok, ada kemungkinkan masih ada fosil lain dalam radius tertentu.
 
Baca Juga: Bandung Raya Siaga I COVID-19, Kunjungan Rutan dan Lapas Dibatasi

"Uji coba kemungkinan fosil yang sekarang diduga kemungkinan induk besar atau kecil. Kalau besar berarti dia lagi soliter, kalau remaja bisa dikelilingi. Pertanyaan berikutnya, hewan itu mati di tempat itu atau fosil itu terbawa dari tempat lain," tandasnya. (agus satia negara) ***
 

Editor: Bsafaat

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Foto: Pembuatan Mural di Bawah Jembatan Pasupati

Rabu, 27 Oktober 2021 | 16:53 WIB

Foto: Rencana Wajib Tes PCR di Semua Moda Transportasi

Selasa, 26 Oktober 2021 | 17:46 WIB
X