Fakta Baru Korupsi Bansos KBB, Fee 6 Persen Hanya Akal-akalan Saja?

- Selasa, 19 Oktober 2021 | 11:10 WIB
Tersangka kasus dugaan korupsi bansos Bandung Barat, M Totoh Gunawan berjalan usai pemeriksaan di Gedung Merah Putih Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Jakarta, Rabu (8/9/2021). M. Totoh Gunawan diperiksa sebagai tersangka dalam kasus dugaan korupsi terkait pengadaan barang tanggap darurat bencana pandemi COVID-19 pada Dinas Sosial Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Barat Tahun 2020. ANTARA FOTO/Reno Esnir/rwa. *** Local Caption ***    (RENO ESNIR)
Tersangka kasus dugaan korupsi bansos Bandung Barat, M Totoh Gunawan berjalan usai pemeriksaan di Gedung Merah Putih Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Jakarta, Rabu (8/9/2021). M. Totoh Gunawan diperiksa sebagai tersangka dalam kasus dugaan korupsi terkait pengadaan barang tanggap darurat bencana pandemi COVID-19 pada Dinas Sosial Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Barat Tahun 2020. ANTARA FOTO/Reno Esnir/rwa. *** Local Caption *** (RENO ESNIR)
INILAHKORAN, Bandung - Sidang kasus dugaan korupsi dalam pengadaan barang bansos Covid-19 Kabupaten Bandung Barat (KBB) mengungkap fakta baru.
 
Salah seorang terdakwa, M. Totoh Gunawan membantah berikan uang komitmen fee sebesar 6 persen kepada terdakwa Bupati Bandung Barat nonaktif, Aa Umbara Sutisna.
 
Pernyataan itu disampaikan Totoh dalam persidangan yang digelar secara hybrid di Pengadilan Tipikor Bandung, Senin, 18 Oktober 2021 malam.
 
Persidangan menghadirkan dua terdakwa, Totoh dan Aa Umbara untuk saling bersaksi. Keduanya hadir melalui teleconference dari Rutan KPK di Jakarta.
 
Jaksa Penuntut Umum (JPU) KPK, Feby Dwiyandospendy menanyakan pada Totoh soal fee 6 persen dari total enam proyek pengadaan barang bansos yang ia kerjakan dengan total lebih dari Rp 15 miliar.
 
 
Uang fee 6 persen itu disebut diberikan kepada Aa Umbara. Namun dalam persidangan, Totoh membantahnya dan menyebut fee itu hanya akal-akalan saja.
 
"Maksudnya fee 6 persen ini komitmen saya sendiri yang buat. Padahal itu tidak pernah (diberikan ke Aa Umbara)," kata Totoh.
 
Feby pun menanyakan kembali dan mempertegas soal duduk posisi uang tersebut. Ia bertanya apakah uang itu digunakan untuk kepentingan pribadi Totoh dan tidak diberikan pada Aa Umbara.
 
Atas pertanyaan jaksa, pengusaha asal Lembang tersebut membenarkan. "Uang itu benar untuk kepentingan saya pribadi," jawabnya.
 
Pada persidangan itu, terdakwa Aa Umbara juga sempat diperiksa sebagai saksi untuk Totoh Gunawan.
 
Eks politisi Partai Nasdem itu secara tegas menyatakan tidak pernah menerima fee 6 persen atau fee apapun dari proyek pengadaan barang untuk bansos Covid-19 yang dikerjakan Totoh Gunawan.
 
"Saudara saksi, adakah fee 6 persen yang diterima dari pengusaha penyedia sembako Totoh Gunawan?" tanya penasihat hukum Aa Umbara, Heri Gunawan.
 
"Tidak ada," jawab Aa Umbara.
 
Tak cuma itu, Aa Umbara juga membantah telah mengarahkan atau menunjuk perusahaan pengadaan barang bansos Covid-19.
 
Termasuk tudingan menunjuk perusahaan Totoh Gunawan untuk mengerjakan proyek di Dinas Sosial (Dinsos) KBB tersebut.
 
"Saat itu hanya referensi saja. Saya bilang (ke kepala dinas Sosial), 'Bapak, ini ada pengusaha sembako, keluarganya juga penyedia sembako, agar lebih cepat penyaluran ke masyarakat, tapi kalau Pak Kadis ada yang lebih baik ya silahkan, Karena masyarakat menunggu bantuan dari KBB'. Saya katakan seperti itu," ungkap Aa Umbara. (ahmad sayuti)

Editor: Zulfirman

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X