• Selasa, 17 Mei 2022

Tanpa Bantuan Pemerintah, Pahlawan Pendidikan Ini Gaungkan Misi Lewat Literasi

- Jumat, 5 November 2021 | 20:30 WIB
Gilang Rusmawan (30) seorang guru di SMP Negeri 1 Gununghalu (Agus Satia Negara)
Gilang Rusmawan (30) seorang guru di SMP Negeri 1 Gununghalu (Agus Satia Negara)

INILAHKORAN, Ngamprah - Pendidikan menjadi salah satu pilar kehidupan yang penting untuk diperjuangkan. Pasalnya, selain sebagai bekal pendidikan merupakan senjata untuk mengarungi kerasnya kehidupan.

 
Hal itu pula yang membuat Gilang Rusmawan (30) seorang guru di SMP Negeri 1 Gununghalu termotivasi untuk membuat sebuah gebrakan di dunia pendidikan yang ada di wilayahnya.
 
Berangkat dari keresahannya terhadap kurangnya minat baca dan menulis para pelajar di Bandung Barat telah mengetuk hati Gilang Rusmawan (30) seorang guru dari SMP Negeri 1 Gununghalu untuk menggaungkan gerakan literasi sekolah (GLS) di wilayahnya.
 
Kendati berstatus sebagai guru SMP yang berlokasi Desa Bunijaya, Kecamatan Gununghalu, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Gilang berharap minat baca dan menulis para siswanya bisa terpacu.
 
Seperti diketahui, literasi adalah sebuah kemampuan untuk membaca dan menulis, hingga mampu berpikir kritis.
 
"Saya akui kegiatan literasi yang ada di sekolah kami dilihat dari daftar hadir siswa yang datang ke perpustakaan untuk sekedar meminjam buku bacaan hanya bisa dihitung dengan jari," katanya kepada INILAH, Jumat 5 November 2021.
 
Ia mengaku miris lantaran pernah menemukan beberapa siswa yang sedang membaca di perpustakaan sekolahnya mendapat perundungan, bahkan tak jarang dihujat dan dijuluki kutu buku, serta sebutan lainnya.
 
"Dari situ saya berpikir untuk mencari jalan keluar dari masalah sekolah yang memang sangat minim literasi," ujarnya.
 
Menurutnya, dalam penyelenggaraan pendidikan tidak akan berhasil tanpa diimbangi dengan pelaksanaan yang baik, termasuk budaya belajar, prinsip belajar yang baik dan memotivasi siswa agar mempunyai mimpi yang lebih baik.
 
"Jadi saya meyakini jika sekolah menjalankan literasi maka pendidikan akan berjalan dengan baik," imbuhnya.
 
Ia bercerita, gerakan literasi sekolah (GLS) tersebut dimulai pada tahun 2018, tepatnya ketika ada event Festival West Java Leader's Reading Challenge (WJLRC) di mana sekolahnya tidak bisa mengikuti lantaran tidak terdaftar dalam kegiatan tersebut.
 
"Karena hal itu, saya mulai mempelajari bagaimana proses kegiatan literasi dan sebagainya. Kemudian, saya terbakar semangat untuk mengibarkan bendera literasi di sekolah kami," bebernya. 
 
Guna merealisasikan niatnya, ia memulai aksinya dengan mengadakan bazar di sekolah, meski skala internal dan buku yang ditampilkan merupakan buku hasil karya tanpa penerbit, dirinya tetap optimis hal itu bisa memancing minat siswa terhadap buku.
 
"Ada juga arahan dengan meminta anak untuk melipat 15 kertas HVS dibagi menjadi 2 lipatan. Kemudian di sampul dan saya tugaskan untuk membuat cerita fantasi hasil karya mereka sendiri," paparnya.
 
"Kebetulan pada waktu itu materi yang saya ajarkan kepada mereka itu adalah tentang cerita fantasi," sambungnya.
 
Selanjutnya, kata dia, dirinya memberikan tugas untuk membuat jadwal untuk membuat buku. Menurutnya, hal itu bisa dibilang berhasil menarik minat baca para siswa.
 
"Indikator bisa disebut berhasil lantaran setiap kelas yang datang ke stand, mereka memilih buku tentang cerita fantasi dan membacanya hingga selesai," ujarnya.
 
Lalu, tambah dia, para siswa akan menuliskan kesan dan pesan tentang buku cerita fantasi dan standnya ke papan komentar yang sudah disiapkan. 
 
"Selanjutnya saya mengadakan program membaca 15 menit sebelum belajar dan bukunya non mata pelajaran," ujarnya.
 
Upaya lain dilanjutkan dengan bekerjasama dengan petugas perpustakaan guna memberikan sedikit penghargaan berupa alat tulis dan lainnya kepada para pengunjung perpustakaan yang rajin meminjam buku atau membaca di ruangan perpustakaan.
 
"Saya juga mencoba membuat beberapa pojok baca di lingkungan sekolah senyaman mungkin juga dibubuhi buku-buku cerita fiksi atau non fiksi yang disukai oleh siswa," ucapnya.
 
Bahkan, tambah dia, dirinya juga sempat mengadakan readaton atau membaca maraton setiap hari Selasa dan dikenal dengan Salasa Maca Rame-rame (Samara).
 
Keberhasilan Gilang dalam menggaungkan program GLS tak serta merta berjalan dengan mulus. Beragam tantangan dan kendala dalam proses sosialisasi GLS nyatanya selalu menghadapi kendala.
 
"Sebagian ada yang mendukung, namun sebagian lagi tidak. Itu tergantung individunya masing-masing," imbuhnya.
 
Selain itu, masalah finansial untuk peningkatan fasilitas pun kerap kali jadi kendala yang cukup berat. Namun, bersama dengan timnya ia tetap konsisten dan optimis bisa menjalankan program GLS tersebut.
 
"Agar tetap bisa berjalan, kami lakukan secara mandiri tanpa bantuan dari pihak manapun termasuk dari pemerintah," ujarnya.
 
Ia berharap, program GLS ini bisa tetap berjalan dan berkembang dengan sangat baik agar para siswa mampu berpikir kritis, sehingga mampu menjadi generasi yang mampu membangun bangsa.
 
"Dari hati kecil, saya siap berjuang untuk mengibarkan bendera literasi di sekolah. Tapi saya juga membutuhkan dukungan dari seluruh pihak agar program ini berhasil," tandasnya (agus satia negara) ***

Editor: JakaPermana

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X