Hari Pahlawan 2021: Kisah Guru SMPN di Gununghalu Gaungkan Literasi tanpa Bantuan Pemerintah

- Senin, 8 November 2021 | 06:00 WIB
Gilang Rusmawan seorang guru di SMP Negeri 1 Gununghalu yang berhasil membuat gebrakan di dunia literasi. (Agus Satia Nagara)
Gilang Rusmawan seorang guru di SMP Negeri 1 Gununghalu yang berhasil membuat gebrakan di dunia literasi. (Agus Satia Nagara)

INILAHKORAN, Ngamprah- Bertepatan dengan Hari Pahlawan 2021, ada cerita menarik tentang sepak terjang Gilang Rusmawan, Guru SMP di Gunung Halu. Dia berjasa di dunia literasi.

Gilang Rusmawan adalah seorang guru di SMP Negeri 1 Gununghalu. Dia termotivasi untuk membuat sebuah gebrakan di dunia pendidikan yang ada di wilayahnya.

Berangkat dari keresahannya terhadap kurangnya minat baca dan menulis para
pelajar di Bandung Barat telah mengetuk hati Gilang Rusmawan (30) seorang guru
dari SMP Negeri 1 Gununghalu untuk menggaungkan gerakan literasi sekolah (GLS)
di wilayahnya.

Baca Juga: Studi: Produk Alternatif Efektif Kurangi Kecanduan Nikotin pada Rokok

Kendati berstatus sebagai guru SMP yang berlokasi Desa Bunijaya, Kecamatan
Gununghalu, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Gilang berharap minat baca dan
menulis para siswanya bisa terpacu.

Seperti diketahui, literasi adalah sebuah kemampuan untuk membaca dan menulis,
hingga mampu berpikir kritis.

"Saya akui kegiatan literasi yang ada di sekolah kami dilihat dari daftar hadir
siswa yang datang ke perpustakaan untuk sekedar meminjam buku bacaan hanya bisa
dihitung dengan jari," katanya kepada INILAH, Jumat 5 November 2021.

Baca Juga: Persib Pincang Ladeni Persija di Seri Ketiga BRI Liga 1, Ini Daftar Pemain yang Absen

Ia mengaku miris lantaran pernah menemukan beberapa siswa yang sedang membaca di
perpustakaan sekolahnya mendapat perundungan, bahkan tak jarang dihujat dan
dijuluki kutu buku, serta sebutan lainnya.

"Dari situ saya berpikir untuk mencari jalan keluar dari masalah sekolah yang
memang sangat minim literasi," ujarnya.

Menurutnya, dalam penyelenggaraan pendidikan tidak akan berhasil tanpa diimbangi
dengan pelaksanaan yang baik, termasuk budaya belajar, prinsip belajar yang baik
dan memotivasi siswa agar mempunyai mimpi yang lebih baik.

Baca Juga: Kabupaten Bogor Siaga Banjir Bandang, Ini Imbauan Bupati Ade Yasin untuk Warga

"Jadi saya meyakini jika sekolah menjalankan literasi maka pendidikan akan
berjalan dengan baik," imbuhnya.

Ia bercerita, gerakan literasi sekolah (GLS) tersebut dimulai pada tahun 2018,
tepatnya ketika ada event Festival West Java Leader's Reading Challenge (WJLRC)
di mana sekolahnya tidak bisa mengikuti lantaran tidak terdaftar dalam kegiatan
tersebut.

"Karena hal itu, saya mulai mempelajari bagaimana proses kegiatan literasi dan
sebagainya. Kemudian, saya terbakar semangat untuk mengibarkan bendera literasi
di sekolah kami," bebernya.

Guna merealisasikan niatnya, ia memulai aksinya dengan mengadakan bazar di
sekolah, meski skala internal dan buku yang ditampilkan merupakan buku hasil
karya tanpa penerbit, dirinya tetap optimis hal itu bisa memancing minat siswa
terhadap buku.

Baca Juga: Sosok Ini Ingin Tubagus Joddy Sopir Vanessa Angel Dijerat Pasal Berlapis, Biar Ada Efek Jera!

"Ada juga arahan dengan meminta anak untuk melipat 15 kertas HVS dibagi menjadi
2 lipatan. Kemudian di sampul dan saya tugaskan untuk membuat cerita fantasi
hasil karya mereka sendiri," paparnya.

"Kebetulan pada waktu itu materi yang saya ajarkan kepada mereka itu adalah
tentang cerita fantasi," sambungnya.

Selanjutnya, kata dia, dirinya memberikan tugas untuk membuat jadwal untuk
membuat buku. Menurutnya, hal itu bisa dibilang berhasil menarik minat baca para
siswa.

Baca Juga: Lakukan Hal Mudah tanpa Ribet ini di Pagi Hari, Risiko Kanker Bakal Berkurang Drastis...

"Indikator bisa disebut berhasil lantaran setiap kelas yang datang ke stand,
mereka memilih buku tentang cerita fantasi dan membacanya hingga selesai,"
ujarnya.

Lalu, tambah dia, para siswa akan menuliskan kesan dan pesan tentang buku cerita
fantasi dan standnya ke papan komentar yang sudah disiapkan.

"Selanjutnya saya mengadakan program membaca 15 menit sebelum belajar dan
bukunya non mata pelajaran," ujarnya.

Baca Juga: Ada Apa? Kabupaten Purwakarta Masih Harus Jalankan PPKM Level 3

Upaya lain dilanjutkan dengan bekerjasama dengan petugas perpustakaan guna
memberikan sedikit penghargaan berupa alat tulis dan lainnya kepada para
pengunjung perpustakaan yang rajin meminjam buku atau membaca di ruangan
perpustakaan.

"Saya juga mencoba membuat beberapa pojok baca di lingkungan sekolah senyaman
mungkin juga dibubuhi buku-buku cerita fiksi atau non fiksi yang disukai oleh
siswa," ucapnya.

Bahkan, tambah dia, dirinya juga sempat mengadakan readaton atau membaca maraton
setiap hari Selasa dan dikenal dengan Salasa Maca Rame-rame (Samara).

Baca Juga: BOLEH DALAM ISLAM! Pasutri Saling Melontarkan Kata Vulgar Saat Berhubungan Intim

Keberhasilan Gilang dalam menggaungkan program GLS tak serta merta berjalan
dengan mulus. Beragam tantangan dan kendala dalam proses sosialisasi GLS
nyatanya selalu menghadapi kendala.

"Sebagian ada yang mendukung, namun sebagian lagi tidak. Itu tergantung
individunya masing-masing," imbuhnya.

Selain itu, masalah finansial untuk peningkatan fasilitas pun kerap kali jadi
kendala yang cukup berat. Namun, bersama dengan timnya ia tetap konsisten dan
optimis bisa menjalankan program GLS tersebut.

Halaman:

Editor: Bsafaat

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X