Tak Punya Wisata Alam untuk Dikunjungi, DKKC Cimahi Angkat Potensi Ini Lewat Festival Vlog

Kota Cimahi merupakan sebuah kota yang berada di Provinsi Jawa Barat dengan luas total 40,47 km2. Kota Cimahi dahulu merupakan bagian dari K

Tak Punya Wisata Alam untuk Dikunjungi, DKKC Cimahi Angkat Potensi Ini Lewat Festival Vlog
Dewan Kebudayaan Kota Cimahi

INILAHKORAN, Cimahi - Kota Cimahi merupakan sebuah kota yang berada di Provinsi Jawa Barat dengan luas total 40,47 km2. Kota Cimahi dahulu merupakan bagian dari Kabupaten Bandung, yang kemudian ditetapkan sebagai kota administratif pada tanggal 29 Januari 1976.

Pada tanggal 21 Juni 2001, Cimahi ditetapkan sebagai kota otonom. Kota Cimahi hanya memiliki 3 kecamatan, yang dibagi lagi atas 15 kelurahan. Pada tahun 2021, jumlah penduduk kota Cimahi sebanyak 560.512 jiwa dengan kepadatan 13.850 jiwa/km2.

Luas wilayah Kota Cimahi yang kecil dibanding dengan kota/kabupaten lainnya menjadi salah satu faktor minimnya potensi alam yang bisa menjadi destinasi wisata.

Kendati demikian, Kota Cimahi ternyata menyimpan beragam potensi wisata sejarah lantaran memiliki sejumlah bangunan heritage peninggalan kolonial Belanda yang memiliki nilai historis tak ternilai.

Melihat potensi tersebut, Dewan Kebudayaan Kota Cimahi (DKKC) didukung Pemerintah Kota Cimahi melalui Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Kepemudaan dan Olahraga (Disbudparpora) Kota Cimahi, dan Fasilitasi Bidang Kebudayaan 2021 Direktorat Jenderal Kebudayaan Kemdikbudristek RI gelar Festival Vlog Heritage Kota Cimahi 2021.

Ketua pelaksana Festival Heritage Kota Cimahi 2021, Siti Yanti Abintini mengatakan, kegiatan festival vlog ini merupakan bagina dari rangkaian kegiatan Festival Heritage Kota Cimahi 2021.  Yakni sebuah lomba video dokumenter dengan peserta terbuka untuk umum bagi masyarakat yang berdomisili di Jawa Barat.

“Bagi masyarakat yang berpartisipasi festival vlog ini telah dilakukan seleksi secara administrasi dan penyerahan video hasil karya yang dilaksanakan mulai 17 Oktober  sampai  3 November 2021," katanya kepada INILAH, Senin 8 November 2021.

Ia menyebut, sebanyak 15 peserta dan video vlog dengan durasi 5 – 10 menit telah lolos mengikuti tahapan administrasi melalui pengisian data di Google Form dan sesuai dengan sarat-sarat yang ditentukan panitia.

"Dari 15 karya vlog heritage Kota Cimahi yang terseleksi panitia, kumudian dikurasi oleh tim juri untuk menentukan 6 karya terbaik," sebutnya.

Ia menjelaskan, dewan juri yang terdiri dari Boim, Edi Juhara, dan Yoyo C. Durachman memutuskan 6 vlog yang masuk nominasi diantaranya; Arlen Production meraih juara 1, Ega Rahma juara 2, Nester Madhira juara 3 dan Cegum TV, Farhandlx, Virnaflstari sebagai juara harapan.

“Festival Vlog Heritage Kota Cimahi, merupakan lomba film atau video dokumenter pendek Heritage Kota Cimahi. Sebuah upaya meningkatkan kemampuan masyarakat menuangkan ide dan gagasan dalam bentuk vlog," jelasnya.

Ia berharap, melalui lomba vlog diharapkan dapat mempublikasikan Cagar Budaya Kota Cimahi dan memberikan pemahaman tentang sejarah dan budaya Kota Cimahi pada masyarakat Indonesia dan dunia.

“Untuk mengembangkan kepariwisataan selayaknya Kota Cimahi menggali kekayaan budaya dan sejarah Kota yang sudah lama terpendam," ujarnya.

Ia menuturkan, di Kota Cimahi banyak bangunan cagar budaya peninggalan kolonial Belanda yang usianya sudah puluhan dan ratusan tahun. Bangunan khas eropa dan bernilai sejarah ini menjadi aset yang sangat bisa dimanfaaftkan untuk pemajuan kepariwisataan di Kota Cimahi.

"Belakangan ini pemerintah Kota Cimahi gencar mempromosikan kawasan militer yang sarat dengan bangunan bersejarah sebagai kawasan wisata," tuturnya.

Juri Festival Vlog Heritage Kota Cimahi 2021, Yoyo C. Durachman menuturkan, secara umum 15 peserta yang ikut dalam festival vlog heritage Kota Cimahi ini, sudah cukup memahami tentang esensi dari sebuah Vlog.

Sehingga, lanjut dia, ada beberapa peserta yang dari segi bentuk dan estetikanya mempunyai gaya yang khas.

“Namun di dalam keterampilan pengemasannya untuk menjadi sebuah Vlog yang baik dan menarik, masih belum maksimal. Misalnya dalam penyampaian informasi tentang obyek materi vlog masih selintas, tidak lengkap," ujarnya.

Menurutnya, hal ini menyangkut kelemahan dan semangat melakukan riset juga kemampuan mengemas informasi secara lengkap tapi dituturkan dengan singkat dan padat. Estetika audio visual terutama yang menyangkut pengambilan gambar, editing dan penataan suara, kemampuan pengemasannya masih perlu ditingkatkan.

"Terlihat ada yang visual dan editingnya bagus tapi tata suaranya tidak memadai atau sebaliknya,” papar Yoyo.

Ia menyebut, ada beberapa peserta kurang mempertimbangkan durasi, terlalu bersemangat ingin menampilkan lebih dari 1 obyek heritage. Akibatnya informasinya menjadi tidak lengkap, hanya sekilas.

"Lebih baik menampilkan 1 obyek heritage tapi informasinya lengkap dengan dukungan estetika audio visual yang memadai," ujarnya.

“Walaupun pada umumnya berupaya menampulkan kreativias penataan visual yang menyangkut estetika gambar dan editing, namun  saling dukung dengan narasi tentang obyek heritage, singkronisasinya masih lemah,” sambungnya.

Ia menambahkan, kemampuan public speaking vloger masih perlu ditingkatkan. Supaya bisa lebih mendukung dengan baik pada audio visual.

"Meski secara realita sehari hari banyak vlog yang ditayangkan di medsos khususnya YouTube, banyak yang menitikberatkan pada hiburan untuk menjaring sebanyak banyaknya viewer dengan kurang mengindahkan estetikanya," tandasnya. (agus satia negara) ***


Editor : inilahkoran