Mahasiswa KNB ITB Asal Bangladesh Juara Favorit Berbicara Bahasa Indonesia

Labid bin Bashar mahasiswa KNB ITB asal Bangladesh menjadi juara terfavorit lomba Berbicara Bahasa Indonesia.

Mahasiswa KNB ITB  Asal Bangladesh Juara Favorit Berbicara Bahasa Indonesia
L:abid bin Bashar mahasiswa KNB ITB asal Bangladesh menjadi juara terfavorit lomba Berbicara Bahasa Indonesia.


INILAHKORAN, Bandung - Mahasiswa Kemitraan Negara Berkembang (KNB) Program Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) Institut Teknologi Bandung (ITB) menjadi juara terfavorit lomba Berbicara Bahasa Indonesia.

Perlombaan tersebut diadakan oleh Afiliasi Pengajar dan Pengiat Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (APPBIPA) Jogja dengan tema "Indonesia di Mataku".

Ialah Labid bin Bashar dari Bangladesh yang merupakan mahasiswa internasional program KNB di ITB. Ia saat ini tercatat sebagai mahasiswa yang tengah menempuh studi magister pada jurusan Instrumentasi dan Kontrol, Fakultas Teknologi Industri (FTI).

Baca Juga: APBD 2022 Turun, Inilah Fokus Pemprov Jabar di Sektor Pendidikan Kata Legislator

Labid adalah satu-satunya pemenang yang berstatus mahasiswa penerima beasiswa KNB. Ia mampu bersaing dengan peserta lain yang merupakan pemelajar BIPA yang sudah belajar bahasa Indonesia lebih lama.

Labid mengatakan, sangat bersemangat mengikuti lomba tersebut. Ia mengaku telah berlatih selama 10 hari untuk mengasah kemampuannya berbahasa Indonesia yang direkam dalam video berdurasi 4 menit khusus untuk lomba.

Dari ikut lomba tersebut, ia mendapatkan banyak manfaat, pertama Labid merasa percaya dirinya muncul. Kedua, dia bisa menaikkan level ketepatan pengucapannya dalam waktu singkat yang cukup sulit untuk diraih bagi murid kebanyakan.

Baca Juga: HUT PGRI ke-76, Pendidikan Karakter Jadi Tantangan di Tengah Pandemi Covid-19

“Saya bangga karena bisa melewati kompetisi tersebut dan jadi perwakilan mahasiswa internasional ITB,” jelasnya, melalui siaran pers, Jumat 3 Desember 2021.

Dia mengatakan, mempelajari bahasa baru butuh waktu bertahun-tahun. Sehingga ia merasa heran atas hasilnya belajar bahasa Indonesia dalam waktu kurang dari satu tahun.

Ia bercerita sebelumnya pernah belajar bahasa Jerman dan hasilnya kurang begitu baik.
Dalam belajar, awalnya ia menerapkan strategi menghafal kosakata namun tidak berhasil. Akhirnya ia meniru cara pemerolehan bahasa pada bayi yaitu belajar dengan mendengarkan.

Baca Juga: Kesehatan dan Pendidikan Menjadi Fokus Delapan Isu Prioritas Oded Yana

"Kemudian saya mulai mendengarkan materi pelajaran serta video YouTube setidaknya selama 1 jam sehari. Lalu mendengarkan audio yang sama beberapa kali," ujarnya.

Namun, ia juga tetap menghadapi beberapa kesulitan saat belajar. Terutama penggunaan awalan "me-" dalam bahasa Indonesia. Namun setelah terus berlatih ia bisa mengatakan bahwa bahasa Indonesia lebih mudah.

"Saya sangat senang belajar bahasa ini," katanya.

Baca Juga: Uu Tekankan Pentingnya Sentuhan Pendidikan Karakter bagi Siswa

Labid belajar bahasa Indonesia lewat program BIPA yang diselenggarakan oleh ITB. Ia merasa proses belajar oleh tutor-tutor BIPA sangat efisien sehingga mempercepat proses belajarnya.

Selain itu, tidak hanya mengajarkan lewat situs dan aplikasi yang menarik tetapi juga memberi materi cara berlatih mandiri di luar jam perkuliahan. "Mereka mengelola sistem dari sudut pandang yang berbeda sehingga siswa dapat belajar lebih cepat," ujarnya.

Sebagai tutornya, Roslina Sawitri menyampaikan apresiasi atas pencapaian yang diraih Labid. Ia merasa bangga karena bisa mengajarkan bahasa Indonesia kepada penutur asing.

Baca Juga: Anggaran Pendidikan Jabar 2022 Diusulkan 33,21 Persen dari Total Belanja Daerah

Selama pelaksanaan kelas, biasanya para tutor di BIPA ITB menggunakan aplikasi Zoom. Tutor juga sering menggunakan aplikasi menarik seperti nearpod, Kahoot!, wordwall, learningapps, live worksheet, padlet, serta video-video.

Sebagai tambahannya, program BIPA juga memberikan kelas budaya yang pada semester ini membahas tentang kebudayaan Tana Toraja, dan sopan santun di Indonesia.

"Rekaman video KBM selalu tersedia H+1 untuk mahasiswa yang tidak bisa ikut kelas secara live,” pungkasnya. (Okky Adiana)


Editor : inilahkoran