Sepanjang 2021, Ada 22 Laporan Kekerasan Seksual di KBB

Sepanjang 2021 tercatat ada sebanyak 22 laporan kasus kekerasan seksual yang ada di Kabupaten Bandung Barat.

Sepanjang 2021, Ada 22 Laporan Kekerasan Seksual di KBB
ilustrasi kekerasan seksual

INILAHKORAN, Ngamprah –  Sepanjang 2021 terdapat 22 laporan kasus kekerasan seksual yang ada di Bandung Barat. Namun Plt Ketua TP PKK Kabupaten Bandung Barat Sonya Fatmala meyakini lebih dari itu.

Sonya Fatmala mengaku secara keseluruhan kasus kekerasan seksual di Bandung Barat tersebut telah ditangani, namun anak di bawah umur kerap kali menjadi target korban kekerasan.

"Terhitung sepanjang Januari sampai 26 November tahun ini sudah 22 kasus kekerasan seksual dengan ragam kasus yang berbeda. Ada pelecehan seksual, penelantaran anak, ada pula kekerasan fisik," kata Sonya Kamis 9 Desember 2021.

Baca Juga: Nekat COD-an Obat Terlarang, Dua Pelajar SMP di KBB Diamankan BNNK Bandung Barat

Kendati demikian, ia meyakini bahwa kasus kekerasan seksual di Bandung Barat lebih dari jumlah yang tercatat.

Pasalnya, banyak kasus kekerasan seksual yang sengaja mengambil jalan damai. Bahkan, orang tua korban memilih tidak melaporkan kasus kekerasan seksual lantaran menganggapnya sebagai aib.

"Masalah yang tengah kita hadapi di KBB itu, ketika suatu korban punya masalah pelecehan seksual atau kekerasan seksual yang lain pihak keluarga enggan membahas lebih lanjut," ujarnya.

Baca Juga: Ini Jurus Jitu Hengky Kurniawan Atasi Jumlah TKA di KBB

"Jadi kaya pengen tutup buku aja. Karena mungkin takut kedengaran tetangga atau keluarga lainnya karena menganggap ini adalah sebuah aib," sambungnya.

Ia menilai, kekerasan seksual selalu menyisakan dampak buruk tentang kesehatan mental. Maka tak jarang korban kekerasan seksual yang mengalami depresi sampai berujung pada bunuh diri.

Padahal, lanjut dia, mental korban kekerasan seksual ini bakal berdampak panjang di usia dia selanjutnya.

Baca Juga: Antisipasi Munculnya Omicron di KBB, Hengky Kurniawan Bakal Lakukan Langkah Ini

"Jadi down, jadi kepikiran, banyak juga yang depresi akhirnya halusinasi. Nah persoalan mental ini lah yang mustinya jadi pertimbangan," terangnya.

Menurutnya, kasus tewasnya Novia Widyasari merupakan satu dari sekian banyak kasus kekerasan seksual yang berujung pada persoalan mental yang tidak terpublikasi.

Oleh karenanya, baik kepada keluarga maupun korban kekerasan seksual agar segera melapor kepada lembaga yang tepat.

Baca Juga: Armada Damkar KBB Memprihatinkan, Kadis Damkar Akui Kondisinya Tidak Layak Pakai

"Kejadian yang dialami oleh almarhumah Novia Widyasari merupakan kejadian yang kebetulan viral. Rasanya masih banyak orang yang tabu untuk melaporkan hal-hal seperti ini. Kita harus berani speak up atas segala sesuatu yang merugikan diri kita sendiri," tuturnya.

Ia pun mengimbau, kepada masyarakat KBB yang mengalami kasus kekerasan seksual bisa melapor ke pemerintah terdekat.

"Di setiap Kecamatan ada UPT KB. Itu bisa menjadi mediator pelaporan. Kemudian akan dilaporkan ke Dinas, nanti pihak korban apakah harus ada pendampingan psikologi, bagaimana kesehatan fisik atau perlu divisum nanti melihat keadaan yang dialami korban," tandasnya. *** (Agus Satia Negara)


Editor : inilahkoran