Sempat Raih Penghargaan Dunia, Kemana Kopi Gununghalu Sekarang?

Kopi Gununghalu merupakan salah satu produk unggulan Bandung Barat yang sempat menjadi primadona pada tahun 2018 silam.

Sempat Raih Penghargaan Dunia,  Kemana Kopi Gununghalu Sekarang?
kopi Gununghalu
INILAHKORAN-Ngamprah - Kopi Gununghalu merupakan salah satu produk unggulan Bandung Barat yang sempat menjadi primadona pada tahun 2018 silam.
 
Pasalnya, Kopi Gununghalu pernah menyabet penghargaan AVPA Gourmet Product di pameran SIAL Paris, Prancis.
 
Namun, potensi Kopi Gununghalu kini mulai meredup lantaran para petani kopi di wilayah tersebut lebih memilih menjual biji kopinya kepada investor luar.
 
 
Salah satu pelaku UKM Kopi Gununghalu, Ayi Ahmad Syarifudin mengatakan, banyak yang bertanya kemana Kopi Gununghalu sekarang.
 
"Jadi Kopi Gununghalu bukannya tidak ada, tapi mungkin kepedulian terhadap perkembangan kopi ini yang mulai berkurang," katanya saat ditemui, Kamis 23 Desember 2021.
 
Selain itu, jelas dia, kebutuhan para petani yang tidak bisa terbendung menjadi salah satu faktor para petani menjual biji kopinya ke luar daripada di wilayah Gununghalu.
 
 
Pasalnya, jika para petani kopi menjual di daerah Gununghalu cenderung pembeli itu membeli dengan harga yang murah.
 
"Ini bisa jadi ancaman karena para petani kopi di Gununghalu banyak yang trauma dan memilih menjual kopinya ke luar," jelasnya.
 
"Jadi lama-kelamaan hanya capek yang dia dapat, pada akhirnya dijual aja garapannya sam orang yang punya duit. Nah itu yang perlu diantisipasi oleh berbagai pihak," sambungnya.
 
 
Menyiasati hal itu, lanjut dia, dirinya bersama para pelaku UKM Kopi Gununghalu berinisiatif membentuk sebuah forum yang dinamakan Lumbung Kopi Gununghalu yang mewadahi seluruh produsen kopi di Gununghalu.
 
"Nah dari situ nanti kami akan berikhtiar bagaimana caranya menyelamatkan para petani yang sekarang lahan garapannya dijual kepada bandar-bandar luar," bebernya.
 
Paling utama, tambah dia, yang paling harus diprioritaskan adalah meningkatkan daya jual para petani.
 
 
"Jadi biar mereka itu kesejahteraannya tidak terganggu, sehingga tidak putus asa mengelola," tandasnya. (agus satia negara)***


Editor : inilahkoran