• Selasa, 17 Mei 2022

Ini Kata Dosen UPI Terkait Loss Learning

- Kamis, 13 Januari 2022 | 12:33 WIB
Kepala Badan Bimbingan dan Konseling dan Pengembangan Karir Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Yusi Riksa Yustiana (istimewa)
Kepala Badan Bimbingan dan Konseling dan Pengembangan Karir Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Yusi Riksa Yustiana (istimewa)
 
INILAHKORAN- Loss learning adalah kondisi secara sederhana siswa-siswi mengalami kehilangan motivasi belajar.
 
Hal ini berimplikasi pada peserta didik dan tidak memberi perhatian secara penuh terhadap proses pembelajaran.
 
Melihat hal itu, Kepala Badan Bimbingan dan Konseling dan Pengembangan Karir Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Yusi Riksa Yustiana menyebutkan, ada beberapa poin penting yang harus diterapkan oleh pendidik dan peserta didik.
 
 
Pertama, yang biasannya melatarbelakangi seseorang mengalami kehilangan motivasi belajar adalah, karena peserta didik ini tidak memiliki tujuan yang jelas. Apa yang harus dilakukan oleh peserta didik dalam pembelajarannya, dan tidak mempunyai tujuan dan target dari hasil belajarnnya. 
 
Oleh karena itu, seorang pendidik yakni guru pada awal proses pembelajaran, harus dapat mengajak peserta didiknya untuk dapat menentukan dan menetapkan langkah dan tujuannya.
 
"Katakanlah misalnya, saya belajar matematika atau belajar bahasa Indonesia. Kalau target misalnnya kamu (peserta didik) tulis di depan buku mata pelajaranmu, berapa angka yang ingin dicapai pada akhir mata pelajaran, itu kan menjadi sesuatu yang secara sadar lalu diterima dan ada dipikirannya," ujar Yusi Riksa Yustiana, Kamis 13 Januari 2022.
 
 
Kedua, seseorang itu akan memiliki motivasi belajar pada saat dia memperoleh kenyamanan dalam proses belajar. Sebagai contoh, menjalin komunikasi yang baik antara peserta didik dan gurunya, memberi perhatian, keramahan kepada siswanya.
 
"Kita seringkali memiliki nilai baik bukan karena kita mampu, tapi kita menyukai gurunya. Maka, jadi guru harus mampu membuat para siswanya mulai dari menyukai dari dia, dan setelah itu bergeser ke mata pelajarannya. Guru yang baik adalah guru yang mampu mengajarkan sesuatu yang sulit menjadi mudah, bukan yang mudah menjadi sulit," ucapnya.
 
Ketiga, peserta didik akan memiliki motivasi untuk mempelajari sesuatu kalau dia merasa terlibat dalam aktivitas. 
 
 
Artinya, bagaimana sebenarnya dia dijadikan sebagai individu yang memang memiliki potensi untuk mempelajari itu. Jadi bukan hanya dari sisi metodologi mengajarnya, tapi bagaimana mengembangkan metodologi pembelajaran. Bagaimana membuat peserta didik itu terlibat.
 
"Misalnya contoh, pada saat pandemi Covid-19, siswa-siswinya kan belajarnya jarak jauh, dan kenapa sebagian siswa-siswinya kok pada tidur saat pembelajaran," ucapnya.
 
Keempat, bagaimana guru itu menjadi seseorang atau tokoh pembelajar yang baik kepada peserta didiknya dan harus menjadi seorang individu yang harus belajar dan mencari tahu apapun, dan mendorong peserta didik mencari tahu.
 
 
"Apalagi anak-anak sekarang dengan kemampuan teknologi yang begitu tinggi kita bisa membuat mereka untuk menjelajah dunia," ucapnnya. (Okky Adiana)***

Editor: JakaPermana

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X