Nenek Pensiun Guru SMPK BPPK Lembang Malah Terusir dari Rumah Peninggalan Sang Suami

Nasib malang harus diterima seorang nenek bernama Ellen Plassaer Sjair (80) pensiunan Guru SMPK BPPK, Warga Desa Jayagiri, Kecamatan Lembang

Nenek Pensiun Guru SMPK BPPK Lembang Malah Terusir dari Rumah Peninggalan Sang Suami


INILAHKORAN, Bandung- Nasib malang harus diterima seorang nenek bernama Ellen Plassaer Sjair (80) pensiunan Guru SMPK BPPK, Warga Desa Jayagiri, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat (KBB) yang terancam kehilangan satu-satunya rumah tempatnya tinggal.

Pasalnya, dalam sebuah video viral yang beredar sang nenek malang itu mengaku ditipu oleh cucu tirinya berinisial IW. Nenek Ellen yang  kini hidup sebatang kara lantaran tidak memiliki anak dan selama ini hanya tinggal dengan suaminya yang telah tiada.
 
Dalam video berdurasi 1 menit 41 detik tersebut, terdengar jelas nenek Ellen sedang ditanya oleh seseorang terkait persoalan yang dihadapinya. Sebab dirinya terancam diusir karena sertifikat rumahnya dicuri dan dijual oleh cucu tirinya, serta tandatangan dirinya juga dipalsukan.

Baca Juga: Fantastis! Rayyanza Malik Ahmad Diberi Tabungan Rp1 Miliar oleh Sang Nenek

"Saya mohon kepada Pak Jokowi, Presiden, kepada Gubernur Jawa Barat Pa Emul, Ridwan Kamil, dan Bupati Bandung Barat supaya menolong nenek agar tidak diusir dari rumah ini, karena nenek tidak tahu harus pergi kemana. Gak punya apa-apa lagi, ya minta tolonglah sama beliau-beliau," tuturnya.

Nenek Ellen saat ini dipaksa mengosongkan rumahnya meski tidak pernah menjualnya. Itu terjadi ketika cucu tirinya berinisial IW mencuri sertifikat rumah yang diwasiatkan kepadanya dari mendiang suaminya, Peter S. Danoewinata (alm) sekitar tahun 2013.
Tak hanya itu, IW juga memalsukan tanda tangan Ellen pada surat kuasa menjual rumah.

Pada tahun 2015, Ellen melaporkan IW ke kepolisian atas dugaan tindak pidana pemalsuan tanda tangan. IW pun terbukti bersalah dan telah menjalani hukuman kurungan penjara selama 2 tahun.
Bahkan notaris yang terlibat dalam pembuatan Surat Kuasa Menjual berinisial FL pun telah dinyatakan bersalah oleh majelis pengawas daerah notaris.

Baca Juga: Rumah Nenek Suhani Ambruk, Foreder Kabupaten Bogor Bantu Revitalisasi Rutilahu

Kendati demikian, pada tahun yang sama, pihak yang membeli rumah dari IW justru menggugat Ellen untuk mengosongkan dan menyerahkan rumah.

Tragisnya, Ellen kalah tiga kali berturut-turut dalam persidangan melawan pihak pembeli, bahkan sampai tingkat Peninjauan Kembali di Mahkamah Agung. Sehingga dia dipaksa untuk mengosongkan dan menyerahkan rumahnya.

"Ini jelas melukai rasa keadilan. Bagaimana hukum yang diciptakan untuk manusia justru memperkosa hak manusia itu sendiri? Nenek Ellen itu korban kejahatan IW yang memalsukan tanda tangannya untuk menjual rumah, namun malah dipaksa menyerahkan rumahnya," kata Kepala Kantor Hukum Williard Malau & Partner, Willard Malau yang membantu kasus Nenek Ellen.

Baca Juga: Nenek Asal Banjaran Sedang Berjuang Melawan Kanker Tiroid, Sehari-hari Hanya Terbaring Lemah...

Pihaknya yang membantu Nenek Ellen sejak Desember 2020 secara Pro Bono (cuma-cuma) atas dasar kemanusiaan dan tercapainya keadilan, memohon Pengadilan Negeri Bale Bandung Kelas 1A untuk menunda proses eksekusi. Sebab pihaknya sedang mengajukan gugatan perdata untuk membatalkan akta jual beli yang cacat hukum tersebut.

"Harapan Nenek Ellen dimasa senjanya adalah dapat tinggal dengan damai di rumah kenangan peninggalan mendiang suaminya," ujarnya.

"Diapun tidak menuntut ganti rugi satu rupiahpun baik kepada IW ataupun Pembeli. Beliau hanya memohon belas kasih agar rumah tersebut tidak diambil paksa," ungkap Willard. (agus satia negara) ***


Editor : inilahkoran