• Jumat, 20 Mei 2022

Intip Ritual Membuka Tempat Baru untuk Menambang Cobek dan Ulekan

- Senin, 17 Januari 2022 | 14:34 WIB
pacara Pamitan yang merupakan tradisi budaya ritual membuka tempat baru untuk menambang batu cobek dan ulekan (Agus Satia Negara)
pacara Pamitan yang merupakan tradisi budaya ritual membuka tempat baru untuk menambang batu cobek dan ulekan (Agus Satia Negara)

INILAHKORAN, Ngamprah - Khazanah budaya yang ada di Kabupaten Bandung Barat seakan tak pernah habis untuk digali, lantaran selain unik dan menarik, kebudayaan dan istiadat yang ada di KBB memiliki makna kehidupan yang mendalam sebagaimana diperlihatkan dalam simbol-simbol yang ada dalam setiap ritual.

Salah satunya seperti Upacara Pamitan yang merupakan tradisi budaya ritual membuka tempat baru untuk menambang batu cobek dan ulekan yang dilakukan turun temurun masyarakat Kampung Pojok, Desa Jayamekar, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat.

Pemangku Adat Upacara Pamitan, Abah Amid mengatakan, dalam membuka tempat baru semuanya harus pamitan karena ada ajaran leluhur karena semua pekerjaan ada izinnya.
 
Baca Juga: Profil Abdul Fatah Hasan Ketua Persatuan Dukun Nusantara yang Gelar Ritual untuk Timnas Indonesia

"Kita izin kepada leluhur agar diberi keberkahan dalam usaha. Acara pamitan itu memoho kepada Allah Ta'ala agar semuanya bisa lancar," katanya.

Selain itu, lanjut Abah Amid, agar semua pengrajin coet batu bisa maju. Ini juga merupakan Warisan ini merupakan warisan Eyang Prabu Riksapati Keramat Puncak Gunung Puter yang merupakan karuhun atau leluhur masyarakat Kampung Pojok, Desa Jayamekar, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat.
 
"Cuma itu yang saja yang bisa saya sampaikan," imbuhnya.
 
Baca Juga: Jalani Ritual Gaib, Dua Warga Garut Meninggal Dunia Usai Santap Daging Domba

Pamong Budaya dan Nilai Tradisi pada Disparbud KBB, Hernandi Tismara  menuturkan, mengawali acara pamitan, masyarakat berkumpul di Padepokan Wira Dega Wira Bumi.

"Sesuai dengan amanat leluhur, pada pukul 08.00 WIB pagi masyarakat berangkat menuju lokasi penambangan di kaki Gunung Puter blok Lebak Honje dengan jarak tempuh perjalanan sekitar 1 km," tuturnya.

Sebelum berangkat, beber dia, pemangku adat berdoa dan memercikan air suci kepada para penambang agar selamat selama diperjalanan. Untuk menuju lokasi tambang batu ini, masyarakat harus melewati hutan bambu, semak belukar, bukit, jurang yang curam, serta lereng kaki Gunung Puter yang kontur tanahnya naik dan turun.
 
Baca Juga: Sah Jadi Pasutri, Ria Ricis dan Teuku Ryan Ungkap 'Ritual Pijit' Saat Waktu Subuh

Sesampainya di lokasi, seluruh rombongan beristirahat sejenak sambil mempersiapkan sesajian ritual pamitan. Adapun sesajian di antaranya, nasi tumpeng teri, air kopi pahit, air kopi manis, air putih, air tujuh warna yang meliputi merah, hijau, kuning, jingga, biru, nila dan ungu.

"Ini memiliki makna simbol pelangi yang melengkung di atas gunung dan simbol tujuh hari yang diartikan selama tujuh hari ini semoga para penambang dalam lindungan Allah Ta'ala, serta mudah berkah, mudah rejeki dari pemanfaatan sumber alam," bebernya.

"Lalu ada rujak roti, rujak asem, rujak pisang, lemaren, atau daun sirih, hahampangan, dewegan atau kelapa muda yang memiliki makna sebagai simbol kehidupan manusia yang selalu bersentuhan dengan aneka ragam rasa. Semoga mereka bisa bersyukus atas anugerah dari Allah atas segala kekayaan alam agar dapat menghidupi keluarganya," sambungnya.
 
Baca Juga: Puhun Pusaka Karatuan, Ritual Penyerahan Pusaka yang Tersembunyi di Goa Pawon

Selanjutnya, kata dia, ada parukuyan yang merupakan tempat pembakaran kemenyan, dupa dan minyak wangi yang memberikan keharuman nama baik atas kerja keras dan karyanya bisa diterima oleh masyarakat.

Setelah syarat sesajian lengkap, acara dimulai dengan membakar kemenyan dan dupa yang ditancapkan di atas dewegan atau kelapa muda. Kemudian, pemangku adat membacakan doa ucapan sadupuhun Kahyang Agung  Babakti Kudu Amit Ngala Kudu Bebeja.

"Bismillahirohmanirohiim, niat saya pamitan ke atas sang rumuhun ke bawah pada batara dan kepada Maha Agung semoga diijabah niat ini. Niat saya pamitan ke arwah-arwah leluhur semuanya bapa arwah, bapak Maryadi, Aki Eneb semuanya semoga dalam rahmat Allah Subahanahu Wata'ala".
 
Baca Juga: Kapankah Waktu yang Tepat Menggelar Ritual Ngamandian Goong Sibeser?

"Salam bakti pada sembah dalem riksa dipati di Citatah, semoga semua dalam lindungan-Nya. Aamiin Yaa Robbalalamiin".

Ia menyebut, hal itu merupakan sebuah ungkapan doa permohonan kepada Allah Subahanahu Wata'ala dengan memberikan hadiah doa kepada leluhur atau Patih Wurip di Gunung Puter yang mengawali adanya penambangan bati coet.

Selesai acara, pemangku adat melakukan ritual dimulai dari berdoa dihadapan dinding batu yang akan ditambang sambil menyiramkan air kopi pahit, air kopi manis, air putih dalam cangkir dan air tujuh warna dalam botol yang berwarna.
 
Baca Juga: Kapankah Waktu yang Tepat Menggelar Ritual Ngamandian Goong Sibeser?

Kemudian dilanjutkan dengan mendoakan peralatan tambang seperti linggis, palu, tatah, kapak dan lainnya. Artinya selama penambangan semoga Allah selalu memberikan keselamatan dan keberkahan, serta terhindar dari musibah atau marabahaya akibat kecelakaan oleh alat-alat tersebut.

"Ketiga, memberikan suapan nasi tumpeng pada puncak manik, yaitu puncak tertinggi dari nasi tumpeng oleh pemangku adat kepada pimpinan penambang. Maknanya, semoga nasi ini bisa memberikan kekuatan tenaga bagi para penambang baik secara lahir maupun batin," terangnya.

Akhir dari ritual ini, sambung dia, pemangku adat memerintahkan seseorang untuk menatah batu sebagai awal pengesahan dan peresmian penambangan.
 
Baca Juga: Se-Jabodetabekjur, Pemakaman Tertutup untuk Ritual Ziarah

"Selanjutnya ditutup dengan acara makan nasi tumpeng bersama-sama sebagai wujud rasa syukur yang diakhiri dengan hiburan pencak silat," pungkasnya. (agus satia negara) ***
 
 

Editor: JakaPermana

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X