• Senin, 23 Mei 2022

Rawan Gempa Tektonik, Pengetahuan Mitigasi di Masyarakat Sangat Penting

- Rabu, 19 Januari 2022 | 12:33 WIB
ilustrasi gempa (istimewa)
ilustrasi gempa (istimewa)


INILAHKORAN, Bandung - Peristiwa gempa bumi yang terjadi akhir-akhir ini di selatan Jawa menjadi pengingat bahwa Indonesia berada pada kawasan lempeng yang terus bergerak. Pergerakan lempeng tektonik menjadi pemicu terjadinya gempa bumi.

Dosen Departemen Geologi Sains Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran (Unpad) Iyan Haryanto, menjelaskan, secara ilmu geologi, Indonesia berada pada batas-batas lempeng yang satu sama lain terus bergerak. Di sebelah barat, batas lempeng tersebut mulai dari sebelah barat Sumatera, lalu menerus ke selatan Jawa, Bali, Nusa Tenggara, hingga Maluku.

Beberapa daerah di wilayah tersebut dekat dengan zona subduksi, atau batas lempeng tektonik yang sifatnya menunjam antara lempeng oseanik dengan lempeng kontinen. Batas pertemuan dari dua lempeng ini merupakan kawasan yang aktif secara tektonik.

Baca Juga: Mensos Risma Tekankan Pelaksanaan Mitigas Pasca Gempa Pandeglang


“Jadi jelas kalau Sumatera dan Jawa rawan terhadap peristiwa gempa tektonik, karena berada pada batas lempeng yang aktif,” ujar Iyan Haryanto, dari laman Unpad, Rabu 19 Januari 2022.

Selain berada pada zona subduksi, Pulau Sumatera dan Jawa banyak memiliki struktur sesar aktif. Pergerakan sesar aktif juga memicu terjadinya gempa tektonik atau gempa bumi yang terjadi karena aktivitas tektonik.

Karena itu, kata Iyan, peristiwa gempa tektonik di Sumatera dan Jawa pada khususnya diakibatkan oleh pergerakan aktivitas lempeng di zona subduksi atau berkaitan dengan aktivitas sesar aktif, atau pula kombinasi di antara keduanya.

Baca Juga: Pandeglang Kembali Bergoyang, Ternyata Gempa dari Sukabumi

Sesar aktif di daratan juga berperan mempercepat rambatan getaran akibat gempa di lautan. Hal ini yang menjadi faktor mengapa suatu gempa bumi bisa terasa hingga wilayah yang cukup jauh dari titik gempanya.

Lebih lanjut Iyan Haryanto memaparkan, kawasan Banten selatan beberapa hari lalu diguncang gempa tektonik berturut-turut. Jika dilihat dari pusat gempanya, posisinya berada di kawasan yang disebut prisma akresi.

Prisma akresi merupakan wilayah yang rawan terjadi gempa bumi karena berada di atas pusat-pusat gempa.

Baca Juga: Rumah Rusak Akibat Gempa di Pandeglang Banten Bertambah Jadi 1.909 Unit

Wilayah ini merupakan kumpulan dari sesar-sesar naik, atau sesar yang mengangkat akibat proses penumbukan/penunjaman yang terjadi. Jika salah satu patahan menunjam ke bawah, maka di sisi satunya akan terangkat akibat proses penunjaman tersebut.

Salah satu wilayah Indonesia yang berada di kawasan sesar akresi adalah Pulau Nias di Sumatera Utara.

“Jika di Sumatera, prisma akresi ini munucl menjadi pulau, kalau di selatan Jawa belum membentuk pulau,” kata Iyan Haryanto.

Baca Juga: Diguncang Gempa M 6.7, Sebanyak 257 Rumah di Banten Rusak

Berada pada kawasan rawan gempa tektonik, pengetahuan masyarakat akan mitigasi kebencanaan harus diperkuat. Minimnya pengetahuan mitigasi bencana akan berdampak fatal saat bencana terjadi.

“Masyarakat yang ada di Pulau Jawa, khususnya, tidak bisa terhindar dari banyaknya peristiwa gempa bumi,” kata Iyan Haryanto.

Sosialisasi mengenai pengetahuan sesar hingga tindakan perlindungan dasar ketika bencana terjadi harus terus digalakkan kepada masyarakat.

Baca Juga: Gempa Banten Sebabkan Beberapa Bangunan di Taman Nasional Ujung Kulon Rusak

“Termasuk ketika gempa bumi yang diikuti tsunami, misalnya, masyarakat harus memahami tanda-tanda akan terjadinya tsunami itu,” pungkasnya. (Okky Adiana)***

 

Editor: JakaPermana

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Baznas Kota Bandung Raih Tiga Kali WTP

Sabtu, 21 Mei 2022 | 17:30 WIB

Kota Bandung Deklarasikan Sebagai Kota Angklung

Sabtu, 21 Mei 2022 | 16:15 WIB
X