Dampak Pembangunan KCJB di KBB, Siswa TK/TPA di Cilame Terpaksa Belajar di Masjid

Anak-anak RA nurul Azmi terkena dampak banjir akibat pembangunan KCJB di Cilame Kabupaten Bandung Barat proses belajar pun di masjid

Dampak Pembangunan KCJB di KBB, Siswa TK/TPA di Cilame Terpaksa Belajar di Masjid
Anak-anak RA Nurul Azmi di KBB terpaksa belajar di masjid lantaran terkena imbas banjir Cilame akibat pembangunan KCJB.
INILAHKORAN, Ngamprah - Dampak buruk pembangunan Kereta Cepat Jakarta Bandung (KCJB) di Kabupaten Bandung Barat (KBB) kian meluas.
 
Pasalnya, dampak pembangunan proyek KCJB tidak hanya dirasakan warga kompleks Taman Bunga Cilame di Desa Cilame, Kecamatan Ngamprah, Kabupaten Bandung Barat (KBB), namun juga mengancam masa depan anak-anak yang bersekolah di RA Nurul Azmi.
 
Kepala Sekolah TK/TPA RA Nurul Azmi, Nining Yudianti mengatakan, pihak ingin menyampaikan aspirasi untuk perbaikan dan akses jalan ke sekolah kepada Pemerintah Desa Cilame.
 
 
"Kami mohon kepada Pemerintah Daerah (Pemda) KBB maupun pemerintah desa untuk bisa memperbaiki akses jalan dan mudah-mudahan anak-anak bisa kembali bersekolah di tempat yang semestinya," katanya kepada wartawan.
 
Ia menyebut, saat ini anak-anak harus merasakan bersekolah di masjid dan juga mereka harus merasakan kangen bersekolah lantaran selama pandemi COVID-19 mereka harus melakukan PTM secara online.
 
"Namun, saat pemerintah memberikan kebebasan para siswa untuk kembali bersekolah, mereka harus dihadapkan pada kenyataan pahit di mana akses jalan menuju sekolah harus terputus," jelasnya.
 
 
Ia menegaskan, kepada Pemerintahan Desa Cilame, serta pemerintah terkait mohon untuk membantu kami agar akses jalan bisa diperbaiki.
 
"Ini penyebabnya karena drainase dari milik PT KCIC itu kecil, sehingga kalau hujan deras itu meluap dan menyebabkan banjir," tegasnya.
 
Ia menyebut, lantaran kerap terjadi banjir pemerintah pun sempat melakukan pengerukan, namun tidak diperbaiki.
 
"Karena itu menjadi penyebab terjadinya longsor," sebutnya.
 
 
Ia menuturkan, drainase yang dibuat oleh pihak PT KCIC kondisinya memang sangat sempit. 
 
"Jadi sekolah kami berlokasi dipinggiran proyek PT KCIC itu terdampak banjir lantaran air yang mengalir ke drainase tersebut berasal dari berbagai titik dan sumber," tuturnya.
 
Terlebih, sambung dia, saat ini permukiman di kawasan tersebut semakin padat sehingga air tidak tertampung.
 
"Hal itu semua memang dampak dari adanya pembangunan kereta cepat, dulu pernah pihak KCIC mau memperbaiki sistem drainase tersebut. Namun, hingga saat ini perbaikan tersebut belum pernah terealisasi," terangnya.
 
 
Selain banjir, tambah dia, sekolah tersebut juga terancam longsor, bahkan kalau terus tergerus lama-lama sekolah bakal roboh.
 
"Jadi saya khawatir anak-anak tidak bisa belajar dengan nyaman dan tenang. Apalagi kalau terjadi hujan terus menerus dengan intensitas tinggi," ujarnya.
 
"Nah, itu yang menjadi kekhawatiran bagi kami jika melakukan KBM di sekolah," sambungnya.
 
 
Sementara itu, Sekretaris Desa Cilame, Yayat Ruhiyat menyebutkan, menerima aspirasi yang disampaikan warga dan pihak sekolah. Sebenarnya keluhan warga itu sudah diteruskan oleh desa ke berbagai pihak terkait termasuk ke pihak PT KCIC. Namun memang belum ada respons sehingga pihaknya tidak bisa memberikan penjelasan panjang lebar ke warga.
 
"Kita menerima aspirasi warga dan ke depan akan memprioritaskan bagaimana untuk segera mencari solusi untuk perbaikan drainase dan sekolah, agar aktivitas belajar siswa tak terganggu," ujarnya.*** (agus satia negara).


Editor : inilahkoran