Suka Duka Retno Bidan Desa yang Bertugas di Pelosok Kabupaten Bandung

Retno Sulistianingsih menceritakan pengalamannya menjad seorang bidan desa yang jauh di pelosok Kabupaten Bandung dan suka dukanya

Suka Duka Retno Bidan Desa yang Bertugas di Pelosok Kabupaten Bandung
Retno Sulistianingsih mengabdikan dirinya sebagai bida desa di Tarumajaya, Kertasari Kabupaten Bandung,

INILAHKORAN, Bandung - Menjadi seorang bidan sudah menjadi pilihan profesi bagi Retno Sulistianingsih (33), meski jauh dari kampung halamannya, ia mengabdikan diri sebagai bidan desa di Desa Tarumajaya Kecamatan Kertasari yang merupaian daerah pegunungan diujung timur Kabupaten Bandung.

Sejak 2013, Retno Sulistianingsih menjalankan tugas sebagai bidan desa non PNS di Desa Tarumajaya Kecamatan Kertasari. Suka duka pun ia lalui oleh perempuan yang berasal dari Kebumen Jawa Tengah itu. Meski jauh dari kampung halaman dan harus mengabdi didaerah pegunungan, ia sangat menikmati pekerjaannya itu. Karena memang pekerjaan ini dicita-citakannya sejak kecil.

"Saya kan dulu mendaftar di Dinas Kesehatan Kabupaten Bandung. Penempatannya disini, cuma kaget saja, ternyata saya tinggal di pegunungan yah. Tapi saya enjoy saja, karena profesi ini cita-cita saya," kata Retno Sulistianingsih kepada INILAHKORAN, Minggu 26 Juni 2022.

Baca Juga: Kota Bandung Juara Umum MTQ Jabar 2022, Cetak Sejarah 9 Kali Juara Berturut-turut

Suka duka, kata Retno, tentu saja ada, apalagi sehari-hari ia bertugas didaerah pegunungan yang aksebilitas jalan saja belum semuanya bagus. Apalagi, jika ia harus membantu persalinan warga yang berada di kampung-kampung dengan jalan sebagian masih bebatuan pada saat malam. Namun semua itu ia jalani penuh dengan keiklasan. Kata dia, Desa Tarumajaya itu terdiri dari 28 RW dengan jumlah penduduk sekitar 15.600 jiwa. Padahal idealnya, rasio perbandingannya adalah satu orang bidan melayani 5000 orang masyarakat.

"Kalau tugas yang paling jauh ke Kampung Lodaya Kolot di RW 24, yah jaraknya lumayan dengan akses jalan sebagian masih bebatuan. Untuk melaksanakan tugas sehari-hari termasuk membantu persalinan ke kampung-kampung saya pakai motor pribadi Supra Fit keluaran tahun 2010. Memang disini saya enggak ada motor atau mobil inventaris. Kalau perlu mobil, biasanya saya pinjam punya desa," ujarnya.

Menurut Retno, Desa Tarumajaya meskipun berada di pegunungan, namun padat penduduk. Jadi meskipun jauh dari keramaian kota besar, ia tidak pernah merasa bosan dan kesepian. Apalagi, masyarakat di desa itu sangat baik dan ramah. Karena betah dan berdedikasi terhadap pekerjaannya, pada 2019 lalu, Retno yang belum berstatus PNS itu, diganjar penghargaan sebagai Bidan Teladan tingkat Kabupaten Bandung.

Baca Juga: Viral Bidan Joget TikTok Saat Tunggu Pasien Pecah Ketuban Banjir Hujatan Netizen

"Dimanapun kita berada itu tidak masalah, apalagi masyarakat disini sangat baik. Buat saya yang penting bisa mengabdikan diri untuk masyarakat, dan pengabdian itu saya lakukan sesuai cita-cita," katanya.

Selama menjalankan tugasnya di Desa Tarumajaya, Retno bersama dua anaknya yang masih kecil-kecil itu, menempati rumah dinas yang menyatu dengan bangunan Pelayanan Obstetri dan Neonatal Emergensi Dasar (PONED) di Desa Tarumajaya. Sedangkan suaminya, bekerja di Jakarta dan biasa mengunjunginya dua minggu sekali.

"Sebagai bidan desa saya stand by 24 jam. Apalagi dulu sebelum punya anak, mau jam berapapun masyarakat membutuhkan, saya hayu saja. Nah sekarang kalau sedang tugas, anak-anak saya ada yang menjaga pengasuhnya," katanya.

Baca Juga: Kini Lansia Bisa Datang ke Bidan Desa untuk Divaksin

Retno melanjutkan, saat pertamakali ia bertugas di Desa Tarumajaya, bisa dikatakan 60 persen penduduknya masih melahirkan di rumah dengan bantuan Paraji atau dukun beranak. Namun karena keuletannya yang gencar menjalin kemitraan dengan para Paraji serta sosialisasi kepada masyarakat soal pentingnya persalinan di tempat atau fasilitas kesehatan. Lambat launn kebiasaan masyarakat bersalin di rumah itu terus berkurang.

"Alhamdulilah berkat program kemitraan, jumlah ibu yang melahirkan di rumah terus berkurang. Rata-rata sekarang persalinan dilakukan di fasilitas kesehatan, baik itu PONED, rumah bidan dan rumah sakit," ujarnya.

Retno melanjutkan, selain tak memiliki kendaraan dinas, kata dia, fasilitas lain yang saat ini harus diperbaiki adalah bangunan Ruang Tunggu Kelahiran (RTK) di Puskesdes yang telah usang. Dimana tembok bangunannya sangat mudah terkelupas dan lembab. Kemudian, ruang tunggu pasien yang tak beratap pun menjadi kebutuhan di Puskesdes tempatmya bertugas itu.

"Tapi dari Dinas Kesehatan katanya akan ada perbaikan pengecatan pada Agustus nanti. Enggak dibangun ulang, tapi cuma rehab kecil saja, pengecatan dan pemasangan kanopi atap ruang tunggu pasien," ujarnya.(rd dani r nugraha).


Editor : inilahkoran