Setitik Asa di Tapal Batas Gununghalu Ciwidey KBB

Gelap gulita dikala malam tiba sudah menjadi hal biasa bagi warga Kampung Tangsi Jaya di tapal batas Gununghalu Ciwidey KBB.

Setitik Asa di Tapal Batas Gununghalu Ciwidey KBB
Setitik asa di tapal batas Gununghalu Ciwidey KBB

INILAHKORAN, Ngamprah - Gelap gulita dikala malam tiba sudah menjadi hal biasa bagi warga Kampung Tangsi Jaya di tapal batas Gununghalu Ciwidey KBB.

Bahkan, suasana itu kadung menjadi teman setia bagi warga yang berada di perkampungan paling ujung selatan tapal batas Gununghalu Ciwidey KBB.

Saat itu, perkampungan di tapal batas Gununghalu Ciwidey KBB yang tak lebih dari 10 suhunan tersebut belum terjangkau listrik. Kala malam tiba, para warga hanya memanfaatkan lampu minyak untuk menerangi rumah-rumah.

Baca Juga: Kuatkan Brand The City of Sport and Tourism, Pemkab Bogor Gelar Fun Bike Bogor

Namun, hanya satu dua bangunan rumah penduduk telah diterangi lampu bohlam, itu pun pemilik harus membentangkan kabel hingga belasan kilometer.

"Listrik gak masuk ke sini pada tahun 2000 karena tiang dan jaringan kabel milik PLN cuma sampai kampung sebelah. Beberapa warga punya listrik dengan cara numpang ke pemilik lain," kata salah seorang warga Tangsi Jaya, Toto Sutanto.

Ia mengaku, pihaknya sempat beberapa kali warga mengajukan pemasangan jaringan dan tiang listrik ke PLN, namun perusahaan pelat merah itu menolak dengan berbagai alasan.

Baca Juga: Parade 5 Dalang Remaja di HUT ke 15 KBB Minim Penonton, Kadisparbud Sebut Jadi Tantangan

Mulai dari jumlah penduduk sebagai calon pelanggan masih minim, hingga jarak dan kost yang tak sebanding dengan pemasukan.

"Waktu itu, kita beberapa kali mengajukan pasang tiang. Tapi tetap tidak bisa," kenang dia.

Bersama warga lainnya, ia berusaha menggali potensi energi listrik di daerahnya. Ia sadar tak bisa hanya berpangku tangan kepada PLN.

Baca Juga: 3 Rekomendasi Bahan Alami Ini Bisa Bikin Kulit Glowing Maksimal, Gak Perlu Skin Care Lagi!

Ia mengaku, serangkaian eksperimen telah dilakukan untuk membuat Energi Baru Terbarukan (EBT).

"Namun selalu gagal karena alat-alat yang dipakai hanya alakadarnya," ujarnya.

Kendati demikian, ia pun meyakini alam di sekitar punya potensi energi tanpa harus merusak.

"Tapi percobaan selalu mendek karena terbatas alat," ucapnya. (Agus Satia Negara)


Editor : inilahkoran