Terima Banyak Keluhan, KPSBU Lembang Sebut Recovery Bakal Sulit Dilakukan

KPSBU Lembang mengaku akan sangat sulit melakukan revovery dari dampak banyaknya sapi perah yang terkena wabah PMK di KBB

Terima Banyak Keluhan, KPSBU Lembang Sebut Recovery Bakal Sulit Dilakukan
KPSBU Lembang mengaku banyak keluhan yang diterima soal sapi perah yang terkena wabah PMK dan mengaku akan sulit melakukan recovery.

INILAHKORAN, Ngamprah - Maraknya sapi yang mati akibat dari penyakit mulut dan kuku (PMK) di Kabupaten Bandung Barat (KBB) dikhawatirkan sejumlah pihak, termasuk KPSBU Lembang.

Kepala KPSBU Lembang, Dedi Setiadi mengaku, sejauh ini pihaknya banyak menerima keluhan dari peternak lantaran menurunnya produksi susu.

"Kalau di daerah sedih melihatnya ada yang hanya punya 2 ekor sapi, namun dua-duanya mati sehingga asalnya punya jadi tidak punya tentu sangat menyedihkan," katanya saat ditemui di Kantor KPSBU Lembang, Kamis 30 Juni 2022.

Baca Juga: Antisipasi PMK, KPSBU Lembang Lakukan Sejumlah Langkah Preventif

Berdasarkan data dari Dinas Perikanan dan Peternakan (Dispernakan) KBB mencatat sebanyak 8.213 kasus hewan ternak yang terpapar PMK, 5.822 ekor yang dinyatakan sembuh, 148 ekor mati dan 196 dipotong bersyarat.

Selain menurunnya produksi susu, hal yang paling ditakutkan di tengah wabah PMK ini adalah proses recovery atau pemulihan dikarenakan selain sapi induknya yang mati, banyak pedet atau anak sapi yang turut mati.

"Pedetnya banyak yang mati. Bahkan, baru usia 2 bulan hampir tidak kuat hidup. Untuk recoverinya tidak ada dan ini menjadi sebuah persoalan," ujarnya.

Baca Juga: Dampak PMK, KPSBU Lembang Bakal Usulkan Bantuan Bagi Peternak

Ia berharap, pemerintah bisa segera membantu peternak dengan menyiapkan sapi impor yang bersubsidi guna meringankan beban peternak.

"Pada faktanya ketika induknya terkena PMK dan lahir anaknya tidak kuat seminggu mati. Maka dari itu bibit-bibit sapi akan hilang karena induknya banyak yang mati," bebernya.

Ia menyebut, update kemarin jumlah sapi yang mati bisa mencapai 196 ekor yang dipotong paksa atau bersyarat.

"Kami sudah lakukan upaya preventif mulai dari vaksinasi hingga penyuluhan kepada peternak," sebutnya.

Baca Juga: 80% Produksi KPSBU Penuhi Industri Olahan Susu

Ia menambahkan, untuk produk susu dari KPSBU Lembang selama ini didistribusikan ke perusahaan seperti Frisian Flag Indonesia dan Diamond yang kini juga ikut terdampak dari sisi kuantiti.

"Karena asalnya kita bisa memproduksi susu dari 120 ton, saat PMK ini hanya sebanyak 80 ton," sebutnya.

Kendati demikian, kedua perusahaan tersebut dapat memaklumi kondisi sekarang.

"Mereka siap membantu pengadaan vaksin apabila benar-benar dibutuhkan," pungkasnya.*** (agus satia negara).


Editor : inilahkoran