Tak Hanya Wujud Rasa Syukur, Tradisi Hajat Bumi jadi Momentum untuk Hargai Tokoh Pendiri Desa Nyenang

banyak 12 RW dari Desa Nyenang, Kecamatan Cipeundeuy, Kabupaten Bandung Barat (KBB) tumpah ruah untuk memeriahkan tradisi budaya Hajat Bumi.

 Tak Hanya Wujud Rasa Syukur, Tradisi Hajat Bumi jadi Momentum untuk Hargai Tokoh Pendiri Desa Nyenang
banyak 12 RW dari Desa Nyenang, Kecamatan Cipeundeuy, Kabupaten Bandung Barat (KBB) tumpah ruah untuk memeriahkan tradisi budaya Hajat Bumi.

 

INILAHKORAN, Ngamprah - Sebanyak 12 RW dari Desa Nyenang, Kecamatan Cipeundeuy, Kabupaten Bandung Barat (KBB) tumpah ruah untuk memeriahkan tradisi budaya Hajat Bumi.

Beragam hasil bumi pun turut dipikul secara beriringan lengkap dengan pakaian khas adat Sunda dalam tadisi budaya Hajat Bumi tersebut.

Selain sebagai rasa syukur terhadap Tuhan yang Maha Esa atas dilimpahkannya beragam hasil bumi, tradisi Hajat Bumi ini pun merupakan bagian dari Milangkala Desa Nyenang ke-193 tahun.

Baca Juga: Kronologi Pria Terserempet Kereta Api di KBB Hingga Tewas

Tokoh sekaligus budayawan Desa Nyenang, Abah Tatang AS mengatakan, kegiatan ini merupakan momentum untuk menghargai jasa para tokoh pendiri Desa Nyenang.

"Bisa dikatakan mungkin dahulu harimau itu di sini banyak yang mengaum, bahkan binatang liar pun, seperti babi hutan pun banyak," katanya, Kamis 7 Juli 2022.

Menurutnya, dengan hadirnya para kasepuhan atau tokoh terdahulu, seperti lurah atau kades yang hingga hari ini ada 11 orang ditambah 2 orang pejabat hingga saat Desa Nyenang bisa berdiri.

"Kepemimpinan yang dimulai Lurah Jamali, Lurah Jayadipura, Lurah Ipta, Lurah Junaedi, Lurah Sumpena dan lainnya, hingga hari ini Bapak Wawan Saputra bisa memberikan kontribusi hingga membuat Desa Nyenang terus berkembang," bebernya.

Baca Juga: Mengerikan, Jasad Warga Sindangkerta KBB Ini Ditemukan Tergantung dan Sudah Jadi Tengkorak

Kendati demikian, sebut dia, Kepala Desa Nyenang, bapak Wawan Saputra bisa merealisasikan aspirasi masyarakat, khususnya seniman dan budayawan yang ingin melaksanakan tradisi Hajat Bumi di tingkat desa.

"Karena selama ini tradisi Hajat Bumi hanya digelar di lingkung seni saya pribadi di RW02," sebutnya.

Ia menilai, karena keinginan yang kuat dari masyarakat untuk maju, sehingga seluruh pihak pun turut mendukung dan meramaikan tradisi Hajat Bumi.

"Tradisi Hajat Bumi ini sudah tidak terhitung lantaran sejak dahulu pun sudah dilaksanakan," ujarnya.

Baca Juga: Jasad Tengkorak Tergantung di Sindangkerta Ternyata Warga Cihampelas KBB

Dahulu, kata dia, Hajat Bumi dilaksanakan di masing-masing rumah usai panen hasil bumi.

"Kemudian, saya membawa masyarakat ke Lapangan Sababuana dan sekarang sudah masuk tingkat desa," katanya.

Oleh karena itu, sambung dia, pihaknya berterima kasih kepada kepala desa yang telah merealisasikan aspirasi masyarakat.

"Alhamdulillah, tradisi Hajat Bumi ini sesuai harapan masyarakat," pungkasnya.*** (agus satia negara).


Editor : inilahkoran