Berawal dari Napak Tilas Perguruan Pencak Silat Ini Berkembang di Padepokan Batu Karang Batujajar

Kabupaten Bandung Barat (KBB) merupakan salah satu wilayah di Jawa Barat yang tidak hanya memiliki kekayaan alam yang melimpah, namun juga dari bidang seni dan budaya.

Berawal dari Napak Tilas Perguruan Pencak Silat Ini Berkembang di Padepokan Batu Karang Batujajar
Kabupaten Bandung Barat (KBB) merupakan salah satu wilayah di Jawa Barat yang tidak hanya memiliki kekayaan alam yang melimpah, namun juga dari bidang seni dan budaya.
INILAHKORAN, Ngamprah - Kabupaten Bandung Barat (KBB) merupakan salah satu wilayah di Jawa Barat yang tidak hanya memiliki kekayaan alam yang melimpah, namun juga dari bidang seni dan budaya.
Salah satu seni dan budaya yang patut untuk dilestarikan dan dikembangkan, yakni perguruan pencak silat Gadjah Putih Mega Paksi Pusaka Nusantara yang berada di Padepokan Batu Karang, Kampung Citra Baplang RT 01/09, Desa Giri Asih, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat.
Ketua Gadjah Putih Mega Paksi Pusaka Nusantara sektor Giri Asih Padepokan Batu Karang, Dadi Suryadi mengatakan, sejarah awal mula padepokan Batu Karang terbentuk pada Juli 2013.
"Sampai saat ini, kegiatan pencak silat Gadjah Putih Mega Paksi Pusaka Nusantara di Padepokan Batu Karang masih eksis dan berjalan lantaran tiap generasi ada saja penerusnya," katanya kepada wartawan.
Ia menyebut, murid perguruan Gadjah Putih Mega Paksi Pusaka Nusantara di Padepokan Batu Karang yang aktif saat ini ada sekitar 45 orang.
"Tapi sebenarnya kalau dihitung secara keseluruhan ada sekitar 60 orang, hanya saja tidak aktif," sebutnya.
Ia menjelaskan, bagi murid yang ingin bergabung dengan perguruan Gadjah Putih Mega Paksi Pusaka Nusantara di Padepokan Batu Karang pihaknya tidak mematok usia.
"Untuk usia calon peserta murid Padepokan Batu Karang tidak di patok umur bisa dari usia dini sampai dewasa. Bahkan yang sudah lansia, namun ada saja yang minat untuk belajar," jelasnya.
Lebih jauh ia mengungkapkan, perguruan Gadjah Putih Mega Paksi Pusaka Nusantara di Padepokan Batu Karang terbentuk dari sebuah filosofi.
"Awal mula terbentuknya dari sebuah napak tilas ke sebuah batu gajah yang kemudian menjadi inspirasi untuk menamakan padepokan ini dengan nama Padepokan Batu Karang," ungkapnya.
Ia menyebut, pencetus Padepokan Batu Karang ini adalah Mama Adji Djaenudin atau yang kerap dipanggil Abah.
"Dengan berbagai rintangan termasuk cemoohan dari masyarakat sekitar tidak menjadikan padepokan ini gentar malah mereka menjadikannya motivasi untuk salalu tetap berjalan walau pun dengan murid seadanya," bebernya.
Kendati demikian, sambung dia, perguruan Gadjah Putih Mega Paksi Pusaka Nusantara ini telah meraih prestasi, khususnya dalam hal seni ibingan.
"Meski masih tingkat PPSI, kami bisa membuktikan berhasil meraih juara 1 dan juara harapan tingkat kabupaten dalam hal seni ibingan," ucapnya.
Ia berharap, pada tingkat selanjutnya perguruan pencak silat Gadjah Putih Mega Paksi Pusaka Nusantara ini bisa terus meningkat. Oleh karenanya, pihaknya tengah berusaha memotivasi para murid agar mau berpartisipasi dalam berbagai festival di IPSI, seperti Tarung TGR Tanding yang saat ini tengah berjalan.
"Kendala yang di alami di padepokan adalah kurangnya dukungan dari pemerintah setempat. Tapi hal itu tidak menyurutkan semangat untuk tetap berlatih," ungkapnya.
Ia mengaku, dana atau biaya yang ada sedikit banyak ada yang dari dana kas anggota. Bahkan, pemerintah pusat atau provinsi, khususnya Dinas Kementerian Sosial pernah memberi anggaran dana meski dari pemerintah setempat tidak pernah memberikan bantuan.
"Kami pun ingin berterimakasih kepada pemerintah pusat atau provinsi yang sudah mendukung Padepokan Batu Karang ini," ujarnya.
Disinggung terkait risiko tempat latihan, ia mengaku, latihan di padepokannya bisa dibilang bahaya dan tidak. Menurutnya, latihan bisa bahaya ketika cuaca hujan yang kerap membuat kondisi tanah licin.
"Karena hal itu sesi latihan pun kerap diliburkan demi keamanan para murid," ujarnya.
Ia menyebut, hadirnya Padepokan Batu Karang ini mampu menarik animo warga. Sebab, pihaknya juga memberikan sosialisasi kepada para orang tua agar dengan latihan yang diberikan bisa meminimalisir dampak negatif adanya gadget.l, sehingga mengarahkan putra-putrinya ke arah positif.
"Sementara untuk pemerintah kami berharap bisa mendapatkan dukungan berupa sarana dan prasarana yang menunjang untuk latihan," tandasnya. *** (agus satia negara).


Editor : JakaPermana