Gagap Hadapi Digitalisasi dan Teknologi Informasi

Gagap Hadapi Digitalisasi dan Teknologi Informasi
DIGITALISASI dan teknologi informasi seolah-olah ditempatkan sebagai penyelamat masa depan. Padahal, jika tak bisa mengendalikan, niscaya itulah awal kehancuran kita. Apa yang terjadi di sekeliling kita, akhir-akhir ini, barulah bukti awal.
 
Sebab apa? Keduanya adalah keranjang tanpa saringan. Semua, apa saja yang diinginkan, ada. Mulai dari konten inspiratif, inovatif, dan tak sedikit pula yang destruktif. Sialnya, bagi sebagian orang, konten-konten destruktif menjadi sesuatu yang sangat memikat.
 
Tengoklah apa yang terjadi di Garut. Belasan anak ketagihan seks menyimpang, hanya di satu kelurahan. Itu karena begitu gampang mengakses konten poronografi dari telepon seluler. Siswa SD dan SMP di Probolinggo memerkosa siswi SMA karena pengaruh film porno yang dilihat di ponsel. Kasus mutilasi Budi Hartanto di Jawa Timur pun terjadi berawal dari aplikasi teknologi informasi.
 
Tentu, kita tak bisa menafikan teknologi informasi memiliki banyak manfaat buat masyarakat. Tapi, “menuhankan” teknologi informasi jelas tindakan salah kaprah. Sialnya kita tak siap menghadapi efek-efek buruk kemajuan teknologi itu.
 
Efek buruk teknologi informasi hanya bisa diatasi jika pemerintah, termasuk kalangan pendidikan, mampu menghadirkan mentalitas yang kuat pada diri anak bangsa. Jadi, persoalannya bukan hanya pada ujaran kebencian, fitnah, pernyataan SARA, dan sebagainya. Selama ini, justru sisi-sisi efek moralitas ini yang tak maksimal disentuh pemerintah, termasuk penegak hukum.
 
Melalui Kementerian Kominfo, pemerintah mencoba membatasi, bahkan menghalangi konten-konten pornografi itu. Tapi, pemerintah juga tak berdaya karena konten-konten vulgar tersebut begitu gampang ditemukan dan bahkan berpindah tangan melalui perangkat telekomunikasi.
 
Membatasi konten pornografi hanyalah satu langkah kecil. Langkah besar yang semestinya dilakukan adalah menyiapkan anak-anak berkarakter kuat. Itulah yang jarang tersentuh oleh pemerintah selama ini. Pemerintah hanya menyiapkan SDM yang andal, tapi tak mampu menguatkan karakter yang berakhlak, berkeadaban.
 
Maka,  kejadian di Garut, di Probolinggo, di Surabaya, hari-hari ini, percayalah, bukan kejadian terakhr. Dia masih akan susul-menyusul. Sebab, kita memang tidak (belum) siap menghadapi efek negatif maju pesatnya dunia telekomunikasi informasi dan digitalisasi. (*)