Bersatu, Jangan Terbelah (Lagi)

Bersatu, Jangan Terbelah (Lagi)
Ilustrasi

PROSES pencoblosan Pemilu dan Pemilihan Presiden 2019 sudah berakhir. Penghitungan pun sudah mulai berlangsung dari titik paling rendah. Mari terima hasilnya dengan lapang dada.

Jarang hasil hitung cepat yang keliru. Yang berkali-kali keliru adalah hasil survei. Tapi, betapapun, hasil hitung cepat adalah indikasi. Dia tak bisa disebut hasil resmi. Hasil resmi baru akan diumumkan Komisi Pemilihan Umum (KPU) sekitar sebulan ke depan.

Hasil hitung cepat rata-rata lembaga menempatkan pasangan Joko Widodo-Maruf Amin sebagai pemenang. Mereka unggul dari pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno dengan rentang keunggulan 5-10%.

Pemilu kali ini disadari telah menghadirkan pembelahan pada masyarakat. Pemosisian warga sebagai pendukung nomor 01 dan 02 demikian tegas dan kerasnya. Bahwa pembelahan itu potensi menghadirkan perpecahan, adalah sesuatu yang tak bisa disangkal.

Maka, sambil menyampaikan ucapan selamat kepada pemenang versi hitung cepat, satu hal yang wajib kita tuntut kepada peraih suara terbanyak adalah bagaimana menyatukan masyarakat lebih dulu. Hanya dengan masyarakat yang tak terbelahlah, segala visi-misi dan program yang disiapkan pemenang Pilpres akan bisa berjalan lebih mulus.

Dalam konteks ini, kita tuntut kepada kedua pasangan calon, utamanya pula bagi paslon pemenang, untuk meredakan perbedaan itu. Begitu pasangan terpilih, maka dia adalah pemimpin bagi seluruh rakyat, bukan satu-dua kelompok, bukan satu-dua partai politik pendukung.

Kita tak ingin lagi ada istilah-istilah seperti jalan tol Jokowi, seperti yang masyhur setahun terakhir. Sebab, semua fasilitas publik yang ada adalah dibangun untuk kepentingan masyarakat dan menggunakan uang rakyat.

Kita juga menuntut bagi paslon yang kebetulan mendapatkan suara lebih sedikit, untuk bisa menerima kenyataan ini dengan jiwa besar. Ketika pilihan kalah dibanding suara rakyat banyak, di sana harus muncul kesadaran bahwa rata-rata masyarakat menginginkan si A atau si B jadi pemimpinnya.

Kita bangsa yang besar. Memilih pemimpin adalah salah satu upaya menyatukan bangsa besar ini, bukan membelahnya. (Zulfirman Tanjung)