TBBM Bandung Pertamina Tebar Nilai Kemandirian

TBBM Bandung Pertamina Tebar Nilai Kemandirian
Foto: Doni Ramdhani

INILAH, Bandung - Melalui program corporate social responsibility (CSR), Terminal Bahan Bakar Minyak (TBBM) Bandung Group Pertamina mengembangkan sekolah anak berkebutuhan khusus (ABK).

Operation Head Terminal BBM Bandung Group Pertamina Bambang Soprijono mengatakan, bantuan diberikan sejak dua tahun lalu. Untuk dana CSR itu, pihaknya tidak menggelontorkan berupa uang tunai. Namun, bantuan diberikan sesuai kebutuhan Sekolah Dreamable yang terletak di Jalan Cibisoro RT 2/16 Ds Bojongsari, Kecamatan Bojongsoang, Kabupaten Bandung.

“Bentuk bantuan itu berupa program pendampingan pendidikan hingga pelatihan yang menanamkan nilai-nilai kemandirian,” kata Bambang, belum lama ini.

Menurutnya, pada 2018 lalu pihaknya memberikan bantuan sarana dan prasarana fisik. Bentuknya yakni bantuan sarana air bersih. Dia memastikan, bantuan yang diberikan itu bersifat berkelanjutan.

“Kita pun pernah memberikan pelatihan kegiatan kewirausahaan di bidang perkebunan dan peternakan lele. Selain mengusung nilai kemandirian, bantuan yang kita berikan itu untuk meningkatkan kepercayaan diri yang biasanya tertanam di ABK,” jelasnya.

Dia menambahkan, pendiri Sekolah Dreamable Yulianti dinilai sebagai sosok perempuan yang sejalan dengan semangat Kartini masa kini.

Sementara itu, pendiri dan pengajar Sekolah Dreamable Yulianti (36) mengaku lembaga berbasis masyarakat ini ditujukan untuk menanamkan satu nilai. Sejauh ini, masyarakat awam masih menilai ABK itu dicap tidak akan bisa mandiri karena keterbatasannya.

“Sebenarnya, anggapan itu salah. Setiap ABK itu bisa mandiri. Mereka bisa mandi dan berpakaian secara mandiri. Memang, pola asuh dan pengajarannya membutuhkan tingkat kesabaran yang ekstra,” ucap Yulianti yang memiliki seorang ABK di keluarganya.

Dia menuturkan, awalnya Sekolah Dreamable ini didirikan di rumahnya yang berada di Desa Tegalluar. Namun, seiring bertambahnya siswa dan atas kebijaksanaan pihak Yayasan PKBM Hidayah sekolah itu kini berada di dua lokasi berbeda.

Dia yang sebelumnya aktif sebagai pekerja sosial sejak 2009 itu menyebutkan sekolah tersebut dijalankan atas nama cinta. Dengan kebesaran hatinya, jumlah siswa yang kini berjumlah 37 anak itu bisa mengembangkan potensi yang dimiliki. Para peserta didik itu memiliki rentang usia 8-23 tahun.

Sikap penolakan dari orang tua yang memiliki ABK itu diakuinya selalu terjadi. Namun, dengan pendekatan door-to-door dan homeschooling yang dijalani sejumlah orang tua akhirnya memahami kondisi ABK itu seharusnya bisa berbaur dan bersosialisasi dengan masyarakat. Biasnya, para ABK itu kerap dikurung di rumah.

“Atas bantuan yang diberikan Pertamina kita mengucapkan terima kasih. Bantuan yang diberikan itui digunakan untuk mrmbuat seragam, tas, program pembelajaran, dan kegiatan di luar ruangan seperti berenang dan membawa siswa ke kebun binatang,” tutur perempuan yang kini melanjutkan pendidikan tinggi di Program Studi Pendidikan Luar Biasa, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Universitas Islam Nusantara (Uninus).

Istri dari Dede Hermansyah itu pun memiliki impian lain yang ingin diwujudkan. Dia mengaku, ke depan dia mengharapkan ada kegiatan produktif yang bisa dijalani setiap ABK pasca-sekolah.