Kenali Bencana dan Tanggap dengan Kesehatan

Kenali Bencana dan Tanggap dengan Kesehatan
Ilustrasi

INILAH, Jakarta - Terkait dengan beberapa kejadian bencana yang ada di Indonesia karena adanya perubahan iklim, banyak penduduk yang mengungsi dan akhirnya mengalami penyakit.

Menurut Kepala Pusat Krisis Kesehatan Kementerian Kesehatan dr. Achmad Yurianto, ketika warga harus mengungsi di pengungsian ada hal yang menarik. Karena, ternyata pengungsi sudah mengalami sakit hipertensi.

Kita kaji dari bencana Gunung Agung, begitu dua minggu pertama kita lihat kasus hipertensi tinggi sekali, ternyata pengungsi-pengungsi ini yang sebelumnya memang penderita hipertensi dan sudah dua minggu tidak konsumsi obat.

“Makannya ngawur karena semuanya apa adanya, sehingga hipertensi naik," ujar Achmad Yurianto saat ditemui di acara temu media Kemenkes RI, Jakarta, Kamis, (18/4/2019).

Hal lainnya ketika bencana terjadi di Bima, yaitu banjir bandang. "Banyak sekali orang diabetes lukanya jadi membusuk. Ternyata ketika kita lihat, mereka sudah satu minggu sampai satu bulan tidak minum obat. Akhirnya gula darahnya naik," tambahnya.

Dia menjelaskan, variabel cuaca ini menjadi suatu hal yang harus betul-betul ditandai, pelajari betul, karena banyak sekali dampak kesehatan yang muncul dari itu, baik langsung maupun tidak langsung.

Kita punya pengalaman menarik lagi, banjir Sampang tahun 2013, yang berakhir pada munculnya banyak leptospirosis, kalau enggak salah ada yang meninggal 9.

“Pada 2016 terjadi lagi banjir itu, kita sudah mulai berpikir untuk lebih berhati-hati. Tapi ternyata bukan, banjir bandang dari lereng pegunungan itu membawa turun ular kobra. 100 lebih gigitan ular kobra yang terjadi di masyarakat," paparnya. (inilah.com)