Baca Shadaqallahul Azhim Kok Bidah?

Baca Shadaqallahul Azhim Kok Bidah?
net

SEBAGUSNYA lisan kita sebagai penuntut ilmu jangan mudah mengeluarkan kata-kata bidah atau haram, terhadap permasalahan yang hakikatnya kita belum tahu. Tahan dahulu. Urusan bidah atau haram, adalah perkara besar dalam Islam. Sebab bagi pelakunya diancam neraka oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.

Masih bagus jika mereka mengatakan, "Masalah ini para ulama berbeda pendapat, ada yang membolehkan ada pula yang melarang, tetapi saya pilih yang melarang." Dengan demikian berarti kita telah jujur dalam ilmu dan permasalahan, dan amanah dalam penyampaian.

Termasuk dalam hal membaca shadaqallahul azhim setelah membaca ayat. Saya tahu ada pihak yang membidahkan, alasannya sederhana, karena tidak ada dalilnya hal itu dilakukan oleh Rasulullah dan sahabat. Nah, benarkah masalah ini hanya satu pendapat yakni bidah? Ternyata tidak, justru banyak Imam yang mempraktikkannya dan membolehkannya di berbagai zaman dan mazhab. Maka, hendaknya mereka menjaga lisan dan adab mereka, kalau pun tidak tahu, lebih baik diamlah. Itu lebih baik dari pada membongkar ketidaktahuan diri sendiri tentang keadaan sebenarnya masalah ini.

Siapa sajakah para Imam yang pernah membacanya? Pada kesempatan ini saya hanya akan memaparkan para ulama yang membolehkan saja. Ada pun pihak yang melarangnya, seperti para ulama di Lajnah Daimah Saud Arabia, Syaikh Shalih Fauzan, Syaikh Ibnu Utsaimin, Syaikh Mushthafa Al Adawi, Syaikh Muhammad Musa Nashr, dan lainnya tidak saya sampaikan, sebab fatwa-fatwa mereka sangat mudah di dapatkan di berbagai situs Islam, dan jawaban ini juga bertujuan sebagai klarifikasi (penjelasan) bahwa apa yang dituduhkan mereka sebagai bidah, ternyata itu merupakan perbuatan atas rekomendasi sebagian para Imam Ahlus Sunnah wal Jamaah lainnya juga. Sehingga, tidak sepantasnya bersikap keras dalam perkara yang para imam terdahulu hingga saat ini mereka masih berselisih pendapat. Di sisi lain, umat pun mengetahui secara adil dan imbang kenyataan sebenarnya.

Berikut ini sebagian para ulama yang membolehkan bahkan menerapkan membaca Shaddaqallahul Azhim setelah membaca Al Quran.

Imam Hasan Al Bashri Radhiallahu Anhu

Dia adalah tokoh tabiin senior. Dia termasuk tujuh ahli fiqih Madinah pada zamannya. Dalam Tafsir Ibnu Katsir, ketika membahas surat Saba ayat 18, beliau mengutip ucapan Imam Hasan Al Bashri, sebagai berikut: 
"Berkata Al Hasan Al Bashri: "Shadaqallahul Azhim. Tidaklah mendapatkan siksa semisal ini bagi pelakunya, melainkan orang kafir." [1]

Imam Al Qurthubi Rahimahullah

Dalam tafsirnya dia menulis:

"Dan di langit Dia memberikan rezeki kepada kalian, dan apa-apa yang dijanjikan kepada kalian," Maka, kami berkata: Shadaqallahul Azhim wa shadaqa rasul al karim, sesungguhnya maksud rezeki di sini adalah hujan berdasarkan ijma ahli takwil ..dst." [2]

Imam Ibnul Iraqi Rahimahullah

Beliau ditanya begini;

"Ibnul Iraqi ditanya tentang orang yang salat, setelah imam selesai membaca, orang itu membaca Shadaqallahul Azhim, apakah boleh baginya dan tidak membatalkan shalatnya? Dia menjawab: Hal itu boleh, dan tidaklah membatalkan shalat." [3]

Imam Syihabuddin Ar Ramli Rahimahullah

Dalam Nihayatul Muhtaj dia mengatakan:

"Seandainya dia berkata Shadaqallahul Azhim saat membaca bagian dari Al Quran,(berkata Ar Rafii) maka itu tidak memudharatkan (tidak mengapa)." [4]

Imam Abu Hafs Umar Al Wardi Rahimahullah

Dalam Syarhul Bahjah Al Wardiyah beliau berkata:

"Semua yang dilafazhkannya, seperti Shadaqallahul Azhim atau amantu billah, ketika mendengar bacaan Al Quran, bahkan syaikh kami berkata: Tidak memudharatkan secara muthlak dalam hal ini (alias boleh)."[5]

Imam An Nawawi Rahimahullah

Dalam Al Majmu beliau mengatakan:

"Kemudian Shadaqallahul Azhim "Yas aluunaka anil ahilah qul hiya mawaqitu linnas." [6]

Syaikh Dhiya Al Mishri dalam Fathul Manan mengatakan:

"Dianjurkan bagi pembaca Al Quran, jika telah selesai hendaknya dia membenarkan Tuhannya, dan bersaksi atas tabligh yang dilakukan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, dan bersaksi bahwa itu adalah kebenaran, maka hendaknya membaca: Shadaqallahul Azhim, Wa balagha rasuluhul karim, wa nahnu ala dzalika minasy syahidin." [7]

Syaikh Athiyah Saqr, Mufti Mesir, ketika ditanya apa hukum membaca Shadaqallahhul Azhim. Dia mengkirtik dan memberi peringatan kepada orang-orang yang gampang membidahkan termasuk masalah ini, beliau berkata:

"Kalimat Shadaqallahu Al Azhim yang diucapkan oleh pembaca Al-Quran atau oleh pendengar setelah selesai membaca atau mendengar ayat-ayat Al-Quran, bukanlah bidah tercela, bahkan memiliki landasan yang cukup kuat. Yaitu: Tidak ada satupun dalil yang melarangnya;

Kalimat itu merupakan zikir; Para ulama menjadikannya sebagai salah satu adab ketika hendak membaca Al Quran. Bahkan menurut mereka jika ia diucapkan dalam salat tidak membatalkan salat. Demikianlah pendapat kalangan Hanafi dan Syafii.

Lafal atau ucapan tersebut demikian dekat dengan apa yang diperintahkan dalam Al-Quran serta merupakan ucapan orang mukmin di saat akan perang.

Katakanlah: "Benarlah (apa yang difirmankan) Allah". Maka ikutilah agama Ibrahim yang lurus, dan bukanlah Dia Termasuk orang-orang yang musyrik (Ali Imran: 95)

Dan tatkala orang-orang mukmin melihat golongan-golongan yang bersekutu itu, mereka berkata : "Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita. Benarlah Allah dan Rasul-Nya.

Al-Qurthubi dalam muqaddimah tafsirnya mengatakan bahwa menurut Imam al-Hakm dan Imam At-Tirmidz mengucapkan kalimat shadaqallahu al-azhim setelah selesai membaca Al-Quran merupakan salah satu bentuk adab membaca Al-Quran."[8]

Lalu Syaikh Athiyah Shaqr melanjutkan:

"Terdapat dalam fiqih empat madzhab, yang telah tersebar di Mesir, bahwa kalangan Hanafiyah mengatakan, seandainya orang yang shalat memuji Allah Taala dengan mengucapkan Shadaqallah Al Azhim, setelah pembaca selesai membaca Al Quran, maka itu tidak membatalkan shalatnya, jika dia memang murni bermaksud memuji, dzikir, atau tilawah. Sedangkan Syafiiyah mengatakan, ucapan ini secara mutlak tidak membatalkan shalat. Lalu bagaimana bisa seseorang zaman ini mengatakan: membaca Shadaqallahul Azhim setelah selesai membaca Al Quran adalah bidah? Apakah mesti diulang-ulang peringatan tentang sikap tergesa-gesa menelurkan ketetapan hukum fiqih sebelum menguatkan kebenarannya. Terakhir Allah Taala berfirman:

"Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta "ini halal dan ini haram", untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung". (QS. An Nahl: 116).[9]

Demikian. Wa Shallallahu Ala Nabiyyina Muhammadin wa Ala Aalihi wa Shahbihi ajmain. Wallahu Alam.[[Ustaz Farid Nu'man Hasan/dakwatuna]
]

Catatan Kaki:

[1] Imam Ibnu Katsir, Tafsir Al Quran Al Azhim, Juz. 6, Hal. 508

[2] Imam Al Qurthubi, Al Jami Li Ahkam AL Quran, Juz. 13, Hal. 15, lihat juga Juz. 16, Hal. 222

[3] Imam Zakariya al Anshari, Asna Al Mathalib, Juz. 3, Hal. 68. Mawqi Al Islam

[4] Imam Muhammad Syihabbudin Ar Ramli, Nihayatul Muhtaj, Juz. 5, Hal. 60. Lihat juga Imam Zakariya Al Anshari, Hasyiyah Al Jumal, Juz.4, Hal. 96. Mawqi Al Islam

[5] Imam Abu Hafs Zainuddin Umar Al Wardi, Syarhul Bahjah Al Wardiyah, Juz. 3, Hal. 496. Mawqi Al Islam

[6] Imam An Nawawi, Majmu Syarh Al Muhadzdzab, Juz. 17, Hal. 208. Mawqi Yasub

[7] Syaikh Adh Dhiya al Mishri, Fathul Manan, Hal. 4.

[8] Fatawa Al Azhar, Juz. 8, Hal. 86.

[9] Ibid

Loading...