Google Dituduh Lakukan Sabotase terhadap Firefox

Google Dituduh Lakukan Sabotase terhadap Firefox
Ilustrasi

INILAH, San Francisco - Mantan GM dan VP Grup Firefox di Mozilla, Jonathan Nightingale, menuding Google telah melakukan sabotase terhadap browser Firefox secara sengaja dan sistematis.

Mengutip ZDNet, Nightingale menyebut sabotase ini telah dilakukan selama 10 tahun terakhir untuk mendongkrak adopsi browser besutan Google, Chrome.

Dalam rangkaian tweet yang diunggahnya pekan lalu, Nightingale mengatakan bahwa Google sebenarnya bekerja sama dengan Mozilla untuk bagi hasil dari fungsi pencarian di Firefox.

Revenue sharing ini disebutnya menyumbang 90 persen pemasukan Firefox selama 8 tahun Nightingale bekerja di Mozilla. "Saat saya pertama berkiprah di Mozilla tahun 2007, Google Chrome belum ada," kicau Nightingale.

Menurut dia, hubungan kedua perusahaan mulai canggung ketika Google merilis Chrome pada 2008. Google kini memiliki browser yang bersaing langsung dengan Firefox, tapi kedua pihak tetap melanjutkan kerja sama bagi hasil dari search.

Di sinilah awal masalahnya, lanjut Nightingale. Sejak memiliki Chrome, produk-produk online Google mulai 'bertingkah aneh' saat diakses dengan browser Firefox.

"Gmail dan docs mulai mengalami masalah kinerja dan bug di Firefox. Situs demo akan memblokir Firefox karena mengira browser 'tak kompatibel', padahal tidak demikian," sebut dia.

Setiap kali Mozilla komplain soal masalah produk Google di Firefox. Google selalu mengatakan hal itu tidak disengaja dan segera memperbaikinya dalam hitungan minggu. Tapi masalah serupa selalu berulang hingga ratusan kali selama bertahun-tahun.

Padahal perusahaan teknologi sekaliber Google, menurut Nightingale, seharusnya tak melakukan kesalahan yang sama terus menerus. Tiap kali Firefox tertimpa persoalan, pengguna meninggalkan browser Mozilla itu. Akibatnya, Firefox lama kelamaan kehilangan basis pengguna yang pindah ke Chrome.

Nightingale bukan satu-satunya eksekutif Mozilla yang menuding Google telah sengaja melakukan sabotase terhadap Fifefox.

Sebelumnya pada Juli 2018, Program Manager Mozilla Chris Peterson pernah menuduh Google sengaja memperlambat kinerja YouTube di Firefox.

Dia mengatakan Firefox dan browser Edge buatan Microsoft lebih cepat dari Chrome dalam loading video YouTube.

Untuk menjegal kedua kompetitornya itu, menurut Peterson, Google kemudian beralih memakai library JavaScript yang tak didukung oleh Firefox dan Edge di YouTube. Kinerja loading YouTube kedua browser pun merosot lima kali lebih lambat.

Data terbaru dari NetMarketShare menunjukkan Chrome kini menguasai pasaran browser dengan pangsa pasar lebih dari 65 persen. Sementara, Firefox hanya memiliki sekitar 9 persen. (inilah.com)