Tiga Kiat Melatih Sifat Tawadhu

Tiga Kiat Melatih Sifat Tawadhu
K.H Abdullah Gymnastiar. (Net)

Saudaraku, untuk menjadi pribadi yang tawadhu perlulah dilatih dan dibiasakan. Perlu mujahadah agar hati kita terampil menjauhkan diri dari bibit-bibit kesombongan, dan menenggelamkannya pada telaga ketawadhuan. Berikut ini beberapa kiat yang bisa kita jadikan ikhtiar untuk menjadi pribadi yang tawadhu. 

Pertama, yakin Allah Maha Kuasa. Saudaraku, kalau kita ditakdirkan memiliki keberuntungan yang lebih daripada orang lain, jika kita ditakdirkan memiliki kecerdasan, atau jabatan, atau popularitas, atau harta kekayaan di atas orang lain, maka yakinilah semua itu tiada lain adalah tanda kekuasaan Allah. Bagaimana keadaan kita hari ini tiada lain terjadi atas izin Allah. Segala yang kita miliki sekecil apa pun, itu merupakan karunia dari-Nya. 

Keyakinan seperti ini adalah urusan yang sangat mendasar, yang perlu kita tanamkan di dalam hati. Ini adalah bagian dari tauhid yang lurus dan bersih. Jika kita sudah memiliki keyakinan ini secara kuat dalam hati, maka akan mudah untuk selamat dari syaitan yang menghasut kita untuk sombong. 

Allah SWT berfirman, “Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang gaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)." (QS. al-An’am [6]: 59)

Bahkan sehelai daun yang gugur, jatuh ke atas tanah di dalam hutan belantara yang belum pernah terjamah tangan manusia pun, itu terjadi atas izin Allah. Harta yang kita punya adalah karunia dari Allah, dan Allah Maha Berkehendak untuk mengambilnya kembali kapan pun Ia mau. Demikian juga dengan pangkat, jabatan, ilmu yang kita miliki hakikatnya adalah pemberian dari Allah. Kita hanyalah makhluk lemah yang Ia ciptakan dan dititipi dengan berbagai karunia luar biasa.

Kedua, yakin setiap orang punya kelebihan dan kekurangan. Tawadhu adalah pekerjaan hati yang buahnya tecermin pada ucapan dan perbuatan kita. Jika kita sadar bahwa Allah memberikan kelebihan dan kekurangan kepada setiap orang, maka mudah bagi kita untuk tawadhu. Apalagi setiap orang, sekuat apa pun, sekaya apa pun, sekuasa apa pun, ternyata ia tidak bisa hidup tanpa orang lain. Ia senantiasa membutuhkan keterlibatan orang lain. Karena boleh jadi ia mampu dalam satu urusan, tapi tidak punya kemampuan dalam urusan yang lain. 

Kalau kita sadar setiap orang punya kelebihan dan kekurangan, setiap orang saling membutuhkan satu sama lain, maka kita akan mudah untuk tawadhu. Seorang pejabat tinggi tidak bisa bekerja dengan maksimal tanpa bantuan dari orang lain yang jabatannya lebih rendah darinya. Jabatan hanyalah episode hidup yang pasti Allah pergilirkan di antara manusia, yang tinggi akan pensiun, yang rendah akan naik pangkat, begitu seterusnya. Sedangkan ketawadhuan membuat seseorang tetap pada kedudukan sebagai pribadi yang mulia, tanpa melihat tinggi atau rendah jabatannya. 

Rasulullah saw bersabda, “..Dan tidak ada orang yang tawadhu’ karena Allah, melainkan Allah akan mengangkat derajatnya.” (HR. Muslim)

Ada satu kisah yang baik untuk kita jadikan pelajaran. Suatu ketika Amiirul Mukminin, Umar bin Khaththab kedatangan beberapa orang utusan dari negeri lain. Tiba-tiba Umar memanggul satu gentong air. Peristiwa ini disaksikan oleh Urwah bin Zubair yang terkejut dan berkata kepadanya, “Wahai Amiirul Mukminin, apa yang engkau lakukan? Tidak sepantasnya engkau melakukan itu!”

Lantas apa jawaban Umar? Umar berkata dengan tegas dan tanpa ragu, “Ketika ada beberapa orang utusan yang datang kepadaku dalam keadaan tunduk dan patuh, maka ada sedikit kesombongan yang merasuk ke dalam diriku. Maka aku harus mengenyahkannya.”

Ketawadhuan memang perlu dilatih, bahkan kalau perlu dipaksa sehingga kita menjadi terbiasa. Tidak sepantasnya kita sombong di hadapan manusia, karena di hadapan Allah semua manusia sama saja, yang membedakan hanyalah kadar ketakwaannya saja.

Ketiga, yakin semua akan kembali pada Allah SWT. Apa pun yang kita miliki adalah dari Allah dan pasti akan kembali kepada-Nya. Apa pun yang kita miliki akan dimintai pertanggungjawabkan di hadapan Allah. 

Allah berfirman, “(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: ‘Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun.’” (QS. al-Baqarah [2]: 156)

Allah juga berfirman, “..dan kepunyaan Allah-lah kerajaan antara keduanya, dan kepada Allah-lah kembali (segala sesuatu).” (QS. al-Maidah [5]: 18)

Jika kita yakin apa pun yang kita miliki akan kembali kepada Allah, maka apa yang bisa kita sombongkan. Apa yang pantas kita pamerkan?! Tidak ada sedikit pun karena semua hanyalah titipan. Hanya titipan yang dijaga dengan ketawadhuan, yang akan kembali kepada Allah dengan penerimaan terbaik. Sedangkan titipan yang dijaga dengan kesombongan hanya menjadi sumber malapetaka dan kesengsaraan di akhirat. 

Apa yang ada pada diri kita, ilmu, pangkat, jabatan, harta kekayaan, pasangan, anak-anak, rumah atau kendaraan hanyalah titipan. Jaga titipan tersebut dengan penuh amanah karena segalanya akan kembali kepada Allah, dan kita akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan-Nya. (KH Abdullah Gymnastiar)