Daop 2 Bandung Genjot Normalisasi Jalur KA

Daop 2 Bandung Genjot Normalisasi Jalur KA
Foto: Doni Ramdhani

INILAH, Bandung - PT Kereta Api Indonesia (KAI) sudah menetapkan masa Angkutan Lebaran 2019 ini. Menghadapi puncak lonjakan perjalanan KA tersebut, Daerah Operasi (Daop) 2 Bandung melakukan berbagai upaya untuk keselamatan perjalanan.

EVP Daop 2 Bandung Saridal mengatakan, saat ini pihaknya terus menggenjot normalisasi jalur KA. Menurutnya, seluruh prasarana perjalanan KA seperti emplasemen, perlintasan,jembatan,lengkungan, hingga wesel kudu dalam kondisi andal dan mumpuni.

“Untuk normalisasi prasarana jalur KA ini, saya targetkan hingga pertengahan bulan depan (Mei) harus rampung semua. Jadi, sepuluh hari sebelum masa angkutan Lebaran itu harus beres,” kata Saridal saat pemeriksaan prasarana jalur KA di Bandunng, Sabtu (20/4/2019).

Menurutnya, di wilayah kerja Daop 2 itu terdapat 42 titik rawan yang diwaspadai. Untuk itu, pihaknya menurunkan sejumlah petugas penjaga di sejumlah titik rawan tersebut. Berdasarkan pantauannya, kini terdapat 15 titik yang harus dinormalisasi. 

Dia menyebutkan, banyaknya titik yang harus dinormalisasi itu seiring dengan musim penghujan yang masih berlangsung hingga sekarang. Curah air hujan yang intensitasnya tinggi itu mengakibatkan posisi batu balast berubah. Padahal, balast merupakan bagian dari badan jalur KA tempat penempatan bantalan rel yang berfungsi menjaga kestabilan KA.

“Karena hujannya masih tinggi, di beberapa titik jalur KA itu terdapat cipratan atau kecrotan air di sela-sela batu balast. Itu yang harus segera diperbaiki dan diganti,” ujarnya.

Saridal menjelaskan, kondisi cipratan air itu salah satunya disebabkan batu balast atau kerikil yang berubah atau berkurang. Kondisi itu dikenal dengan istilah ‘mati’ karena banyaknya lumpur. Kalau dibiarkan, dia mengaku hal itu berisiko pada aspek keselamatan kereta.

“Kalau di titik-titik kecrotan air dibiarkan, ayunan rel tak mampu menahan beban kereta yang melintas dengan kecepatan tinggi. Akibatnya, KA bisa anjlok,” sebutnya.

Saking pentingnya fungsi batu balast itu, Saridal menegaskan normalisasi jalur KA itu harus selesai sebelum masa Angkutan Lebaran tahun ini berlangsung. Dia menyebutkan, pemeriksaan jalur KA ini rutin dilakukan tiga kali dalam sepekan. Proses perawatan tersebut penting lantaran di Daop 2 ini jumlah jembatan relatif banyak. Setiap regu yang bertugas itu terdiri dari 16 orang.

Saat ini, normalisasi jalur di dekat jembatan merupakan prioritas utama. Pasalnya, cipratan air di dekat jembatan itu merupakan titik mati yang akan berdampak bahaya bagi perjalanan KA. Tak hanya batu balast, bantalan rel yang pecah pun harus segera diganti.

“Selain menyiapkan material, kami pun menyiapkan tenaga kerja yang jumlahnya tidak sedikit. Jalur KA dari Cikampek hingga Padalarang memang masih banyak yang harus normalisasi. Makanya, kita kebut dan akan terus memperbaiki,” tuturnya.

Saridal mengaku, hal lain yang menjadi fokus perhatiannya yakni petugas di perlintasan sebidang. Apalagi, di Daop 2 ini relatif masih banyak perlintasan yang tidak resmi yang harus tetap dijaga petugas. Kondisi wesel atau konstruksi rel kereta yang bercabang juga tak luput dari perhatiannya.

“Yang paling penting, semua stasiun yang dilewati juga harus bersih. Fasilitas seperti toilet dan mushola harus bersih karena itu menjadi hak penumpang yang harus dilayani,” tambahnya.

Sebelumnya, Direktur Utama KAI Edi Sukmoro mengetakan selama Lebaran 2019, KAI mengoperasikan 356 KA reguler dan 50 KA tambahan dengan total mencapai 406 KA. Jumlah tersebut mengalami kenaikan sebanyak 3% dari jumlah tahun sebelumnya yaitu 393 KA.

Setiap harinya, KAI menyediakan 247.010 tempat duduk untuk KA Jarak Jauh dan KA Lokal yang pada 2019 mengalami kenaikan sebanyak 5% dari tahun sebelumnya yaitu 236.210 tempat duduk.
Edi menuturkan, pihaknya menyiapkan total 11.000 personel gabungan untuk mengantisipasi sejumlah titik rawan perjalanan kereta saat masa angkutan Idul Fitri 2019. Selain mengantisipasi bencana alam seperti banjir, tanah longsor dan ambles, KAI juga mewaspadai pintu perlintasan kereta dan mengerahkan para petugas untuk memastikan perjalanan kereta berjalan aman dan nyaman.