Jelang Lebaran, Produksi Kue Kering Melonjak 40%

Jelang Lebaran, Produksi Kue Kering Melonjak 40%
Foto: Doni Ramdhani

INILAH, Bandung - Musim puncak penjualan kue kering kini mulai tampak. Sejak awal 2019 ini, sejumlah produsen mulai meningkatkan kapasitas produksinya. Salah satunya terjadi di merek J&C Cookies.

General Manager J&C Cookies Farhan Basyir mengatakan, kendati Lebaran tahun ini jatuh pada Juni mendatang pihaknya menggenjot produksi sejak Januari lalu. Kapasitas produksi pada tahun ini diakuinya meningkat dari tahun lalu.

“Tahun 2018, kapasitas produksi kita meningkat sebesar 30%. Tahun 2019 ini, produksi lebih meningkat lagi sebesar 40%,” kata Farhan di Bandung, Senin (22/4/2019).

Menurutnya, peningkatan produksi itu berdasarkan permintaan tahun lalu masih banyak yang tidak terpenuhi. Untuk itu, dia optimistis kapasitas produksi tahun ini bisa terserap pasar seluruhnya.

Ramadan dan Lebaran diakuinya merupakan peak season bagi para pelaku industri kue kering. Setidaknya, penjualan pada dua even tahunan itu memberikan kontribusi 80-85% terhadap total penjualan sepanjang tahun.

Farhan menuturkan, pabrik baru yang dibangun tahun lalu kini sepenuhnya beroperasi. Optimalisasi pabrik itu mampu memproduksi hingga 500-600 dus per hari. Untuk itu, peningkatan produksi sebesar 40% itu diyakini bisa terpenuhi.

Mengenai jalur distribusi, dia menyebutkan pihaknya menggandeng sejumlah distributor dan agen yang tersebar se-Indonesia. Saat ini, distributor besar J&C terhitung sebanyak 18 yang berada di kota-kota besar. Proses distribusi itu dibantu 500an agen yang memasarkan produk ke tangan konsumen.

“Kalau mengenai pasar, sejauh ini masih terpusat di Jabodetabek dan Jabar. Di dua daerah itu kontribusinya mencapai 30-60%,” ujarnya seraya menyebutkan perluasan jaringan outlet terus dilakukan sepanjang tahun.

Disinggung mengenai ketersediaan bahan baku, Farhan mengaku itu relatif terkendala. Meski demikian, dia mengaku ada sejumlah harga bahan baku naik sekitar 5%. Kenaikan harga bahan baku itu berdampak pada kenaikan banderol produk. Namun, diakuinya kenaikan harga itu baru dilakukan pada tahun ini dimana tahun lalu tidak dilakukan.

Lebih jauh dia menyebutkan, produk klasik kue kering sejauh ini masih mendominasi permintaan. Produk yang diminati itu yakni kue kaastengels, nastar, putrid salju, dan sagu keju.
Namun, pihaknya tetap menawarkan varian baru untuk menjangkau pasar anyar. Pada 2019 ini, pihaknya mengeluarkan varian baru yaitu milo cookies, crispy cheese, dan choco mede special.

Sementara itu, CEO J&C Cookies Jodi Janitra menyebutkan kini pihaknya memiliki sebuah aplikasi khusus. Pengembangan aplikasi itu seiring dengan perkembangan teknologi zaman sekarang. Aplikasi tersebut dapat diunduh di playstore.

“Tapi, aplikasi ini terbatas hanya untuk para agen dan distributor. Dengan aplikasi ini, mempermudah mitra bisnis kami untuk melakukan pengecekan stok dan mempermudah transaksi pemesanan serta pembelian,” jelasnya.

Dia menuturkan, selain pembukaan toko di negeri sendiri pihaknya akan membuka toko di Singapura. Khusus untuk itu, ekspansi bisnis itu masih dalam proses pengembangan. 

Jodi mengatakan, khusus mengenai pasar Singapura itu selama lebih dari 14 tahun berjalan sebenarnya produk J&C sudah masuk. Namun, produk yang beredar di negeri jiran itu dilabeli merek lain. Pasar di sana menyukai kue kering jenis sagu keju. 

Untuk satu produk itu, nilai penjualannya menembus miliaran rupiah. Dia menyebutkan, langkah ini diharapkan memberi inspirasi bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) domestik untuk berani menembus pasar ekspor.

Loading...