Kampung Rajut Binong Disulap Menjadi Kawasan Wisata

Kampung Rajut Binong Disulap Menjadi Kawasan Wisata
Foto:Agung Fitu Budiana

INILAH, Bandung-Kawasan Binong Jati yang sudah dikenal dengan sentra rajutannya mulai berbenah untuk dijadikan "Kampung Wisata Rajoet" agar wisatawan yang datang ke Bandung bisa menjadikan kawasan tersebut menjadi pilihan destinasi wisatanya.

Industri rumahan di kampung rajut tersebut nantinya akan terbuka bagi pengunjung yang ingin lebih mengenal tentang rajutan, bahkan bisa mencoba membuat rajutan hasil karya sendiri.

Terkait hal tersebut Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandung, beserta masyarakat dan pemuda Binong Jati menggelar kegiatan Pengembangan Amenitas dan Atraksi di Kampung Wisata Kreatif Sentra Rajut Binong Jati dengan tema "Merajut Asa di Kampung Rajut", Rabu (24/4/2019).

Ketika memasuki jalan ke Kampung Wisata tersebut, pengunjung disuguhkan hasil karya rajutan dari peserta lomba, dari mulai rajutan wajah tokoh, dekorasi, dan pakaian yang dipamerkan dalam acra tersebut.

Ketua Kampung Rajut, Eka Rahmat Jaya mengatakan kegiatan tersebut merupakan kegiatan tahunan yang melibatkan masyarakat untuk meramaikan kampung wisata rajut, dengan berbagai macam kegiatan lomba dan bazar.

"Dengan event ini, kita lebih menargetkan kunjungan wisatawan yang bertambah, jadi pengunjung yang datang kesini nantinya bisa edukasi juga selain belanja," katanya di sela kegiatan.

Menurut Eka, di Binong Jati ada ratusan pengrajin rajut, yang rumah produksinya akan terbuka bagi pengunjung yang datang ke kawasan tersebut, untuk sekedar melihat proses produksi atau bisa juga belajar merajut sendiri.

"Produk disini kan sudah terkenal, pengrajinnya membuat produk dari ujung kepala sampai kaki, dari mulai kupluk, syal, sweater, hingga sepatu rajut," ucapnya.

Eka menambahkan kerjasama dengan Pemerintah bisa menambah kunjungan wisatawan untuk datang ke kampung wisata rajut ini, tapi dia juga tak memungkiri masyarakat belum semua terbuka dengan dijadikannya sentra rajut menjadi kampung wisata.

"Masyarakat disini juga tidak semua terbuka, jadi dengan event hari ini ada tujuan agar masyarakat bisa bersosialisasi untuk membuka rumah produksinya, selain itu agar ramah terhadap pengunjung dari Bandung atau luar daerah," ujarnya.

Selain itu, dengan kegiatan ini, Eka berharap selain bertambahnya kunjungan wisatawan, ada dampak lain yang terasa ke masyarakat, karena dalam pengelolaan kampung wisata ini juga dibantu dari Pemerintah, akademisi, komunitas, dan pihak lainnya.

"Jadi pengrajin juga bisa dibantu dalam menjalankan bisnisnya, agar sentra rajut Binong ini juga tidak mati dan jadi warisan budaya nantinya, karena manajemen dari pengrajin sendiri bisa dikatakan kurang efektif," ucap Eka.

Eka juga berharap anak-anak dan pemuda juga bisa tertarik untuk mengerjakan rajutan ini, dikarenakan regenerasi yang mulai berkurang.

"Kita juga menargetkan anak-anak agar suka dengan rajutan, makanya ada berbagai macam lomba  salah satunya pesertanya dari anak-anak, karena selama ini merajut identiknya dengan ibu-ibu atau nenek-nenek," tuturnya.

Sementara itu, Perwakilan Disbudpar Kota Bandung, Tini Martini Tapran, kegiatan yang digelar pada hari ini berupaya untuk meningkatkan kualitas dari Kampung Binong Jati sebagi yang sudah dikenal sebagai sentra rajut yang sudah terkenal, namun untuk pembentukan Kampung Wisata harus ada 3A.

"Kampung wisata harus ada 3A, Aksesbilitas, Atraksi, dan Amenitas. Dalam hal ini BinongJati sudah bagus atraksinya, tinggal amenitasnya, bagaimana caranya warga sadar bahwa kampungnya itu jika dikunjungi wisatawan bisa nyaman, enak, tenang, rapih, dan bersih," katanya.

Menurut Tini, dijadikannya Kampung Wisata di Binong Jati juga harus mengajak masyrakat lebih ramah dalam menerima wisatawan, bukan hanya wisatawan yang berbelanja tapi mengedukasi juga.

"Harus ada paket-paket wisata yang ditawarkan masyarakat disini, jadi bukan hanya sekedar wisata belanja saja, namun ketika datang kesini mereka juga dapat pengetahuan," katanya.(Agung Fitu Budiana)