Duh, Terminal Bayangan Bikin Resah Warga Soreang

Duh, Terminal Bayangan Bikin Resah Warga Soreang
Keberadaan terminal bayangan di bunderan Jalan Raya Soreang-Banjaran dikeluhkan warga sekitar. (Dani R Nugraha)

INILAH, Bandung- Keberadaan terminal bayangan di bunderan Jalan Raya Soreang-Banjaran dikeluhkan warga sekitar. Mereka menilai area tersebut kini menjadi kumuh dan semrawut.

Asep Dedi (55) salah seorang warga sekitar mengatakan terminal bayangan yang lokasinya tak jauh dari Terminal Soreang, itu sudah ada sejak lama Gara-garanya, para pengemudi angkot jurusan Soreang-Banjaran lebih suka memarkir kendaraannya di badan jalan bunderan tersebut. Padahal, Terminal Soreang yang resmi disediakan pemerintah hanya berjarak sekitar 50 meter.

"Yah kalau jalur ini lagi padat, keberadaan angkot yang ngetem itu bikin macet. Selain itu yah bundaran jalan yang tengahnya ada patung itu juga jadi kumuh seperti enggak pernah ada perawatan saja. Sebagai bagian dari kawasan Ibu Kota Kabupaten Bandung, rasanya kurang elok dan bikin greget masa di tengah tengah kota jadi tempat ngetem dan kumuh," kata Asep di Soreang, Rabu (24/4/2019).

Menurut Asep, alangkah baiknya jika keberadaan terminal bayangan tersebut ditertibkan. Kemudian, kawaasan bundaran jalan itu diperbaiki dan dirawat agar suasana kota menjadi indah, resik dan menyenangkan. Sehingga, warga kota Soreang atau siapapun yang datang berkunjung merasa betah dan nyaman.

"Sudah semestinya kawasan perkotaan itu dibuat senyaman mungkin. Coba saja bandingkan dengan ibu kota kabupaten lainnya di Jawa Barat, rasanya banyak yang bagus dan indah. Kok disini semrawut bercampur dengan bau kotoran kuda," ujarnya.

Salah seorang tokoh masyarakat Soreang, Wawan Maryana, mengemukan keprihatinan yang sama. Menurutnya, selama ini kepedulian terhadap tata ruang dan tata kota Soreang sebagai Ibu Kota Kabupaten Bandung dirasa sangat kurang. Pemerintah dan masyarakat secara umum cenderung apatis terhadap perkembangan kotanya.

"Soreang sebagai kawasan Ibu Kota Kabupaten Bandung itu kurang mendapatkan perhatian sebagai mana mestinya. Padahal, sejak tahun 80 an, Pajak Bumi Bangunan (PBB) disini perkotaan. Tapi sayangnya, disini banyak pembangunan yang dilakukan pemerintah terbengkalai termasuk terminal Soreang," ujarnya.

Tak hanya itu saja, lanjut Wawan, selain lalai dalam penataan kota. Pemerintah juga dinilainya mengabaikan penamaan jalan jalan yang ada di kawasan ibu kota. Sehingga, meskipun telah berdiri puluhan tahun, kawasan ibu kota ini tak memiliki nama nama jalan yang resmi.

"Ini yang membuat kami sebagai warga pituin (asli) Soreang kecewa dan malu sama kondisi ini. Kalau bisa sebaiknya pindah saja Ibu Kota Kabupaten Bandung itu jangan disini. Toh tidak terlalu membawa dampak positif untuk perkembangan hidup kami warga Soreang," katanya. (Rd Dani R Nugraha)