Dinas KUK Jabar Bimbing 2.500 Pelaku UMKM

Dinas KUK Jabar Bimbing 2.500 Pelaku UMKM
Ilustrasi/Rianto Nurdiansyah

INILAH, Bandung- Dinas Koperasi dan Usaha Kecil (KUK) Jawa Barat (Jabar) akan menjaring 2.500 usaha mikro kecil menengah (UMKM) untuk mengikuti Program UMKM Juara. Mereka akan dibimbing dan didampingi selama enam bulan untuk bisa naik kelas.

Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Kecil (KUK), Kusmana Hartadji mengatakan UMKM Juara merupakan salah satu program unggulan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jabar melalui Dinas KUK Jabar. 

Selain itu, pihaknya pun memiliki beberapa program unggulan lainnya, seperti One Pesantren One Product (OPOP),  Koperasi Juara, Wirausaha Juara dan Digitalisasi Koperasi. 

Adapun pendaftaran UMKM Juara dibuka sejak 25 Maret hingga akhir April 2019 secara online melalui www.umkmjuara.jabarprov.go.id.

"Mereka juga akan mendapatkan fasilitas pelatihan, temu bisnis, benchmarking, dan promosi, baik di dalam maupun luar negeri," ujar Kusmana. 

UMKM Juara, dia katakan, yaitu ditandai jika pelaku usaha  sudah memiliki karakteristik entrepreneur. 

Hal tersebut tampak dengan semangat, sikap, perilaku, dan kemampuan dalam menangani usaha dan atau kegiatan yang mengarah pada upaya mencari, menciptakan, menerapkan cara kerja, teknologi dan produk baru. Tentunya dengan meningkatkan efisiensi dalam rangka memberikan pelayanan yang lebih baik dan atau memperoleh keuntungan yang lebih besar.

Para peserta program tersebut, kata dia, harus sudah mengantongi perizinan usaha. Minimal, mereka disyaratkan harus sudah memiliki Surat Keterangan Usaha/Izin Usaha Mikro Kecil (SKU/IUMK). Adapun rentang usia yaitu 25 hingga 55 tahun. 

Persyaratan lainnya, harus memiliki usaha sendiri, lama usaha minimal 2 tahun, melakukan pendaftaran online, pelaku usaha memiliki omzet minimal Rp200 juta per tahun dan domisili usaha di Jawa Barat.

Kusmana mengatakan, porsi kuota yang disediakan adalah 50:50 untuk UMKM umum dan alumni program Wirausaha Baru (WUB). Dia berharap, program tersebut dapat menjadi bentuk pembinaan lanjutan bagi alumni WUB.

"Melalui program ini, kami menargetkan, akan semakin banyak UMKM di Jabar yang naik kelas. Kami akan memfasilitasi solusi sejumlah persoalan yang mereka hadapi untuk bisa naik kelas," katanya.

Setiap UMKM, menurut dia, akan mendapatkan fasilitas pendampingan spesifik sesuai dengan masalah yang mereka hadapi. Dia tambahkan, jika persoalannya adalah pemasaran, maka pihaknya akan membantu membukakam akses pemasaran.

"Kami akan membukakan akses pemasaran digital, melalui marketplace dan sjenisnya. Bukan itu saja, terbuka peluang bagi mereka untuk mendapat fasilitas pameran di dalam maupun luar negeri," ujar Kusmana.

Bahkan, jika produk UMKM tersebut potensial untuk masuk ke pasar ekspor, pihaknya juga akan membantu untuk membukakan akses ke pasar global. Bukan hanya merambah pasar ekspor tradisional, menurut dia, juga terbuka peluang untuk masuk ke negara-negara tujuan ekspor baru.

"Semua akan kita sesuaikan dengan hasil penilaian dan kurasi. Untuk merambah pasar ekspor misalnya, bukan hanya masalah kemasan, perizinan, dan keunikan produk, tapi juga kapasitas produksi," tuturnya.

Hal itu, menurut dia, penting karena pasar ekspor biasanya membutuhkan stabilitas kualitas dan kapasitas produksi. 

Begitu juga dengan perizinan dan standar produk yang tinggi. Harapannya, dengan mengikuti program ini para pelaku UMKM akan naik kelas menjadi juara dengan kriteria diantaranya, adanya peningkatan Kapasitas atau diversifikasi Produk dan Qualitas Produk (memenuhi standar mutu yang berlaku secara umum/legal aspek/perizinan usaha).

Selain itu, juga peningkatan Akses Pasar (local, regional, nasional dan/atau Internasional), peningkatan akses pembiayaan/kredit untuk meningkatkan kapasitas produk dalam rangka memenuhi deman yang tinggi sebagai akibat semakin meluasnya pangsa pasar produk.

"Juga harus mampu memanfaatkan teknologi dalam rangka memudahkan dan meningkatkan performa pengelolaan usaha, melakukan pencatatan atau pembukuan secara tertib baik itu manual maupun terkomputerisasi, membuat bussines plan atau perencanaan laba, keuangan, produksi, SDM dan memiliki Standar Operasional Prosedur dan Standar Operasional Manajemen," paparnya. 

Disamping itu, memiliki struktur organisasi dan pembagian tugas yang jelas, peningkatan penyerapan tenaga kerja, peningkatan asset dan omzet serta usaha berkelanjutan. (Rianto Nurdiansyah)