Mencari “Jalan Pulang” yang Benar

Mencari “Jalan Pulang” yang Benar
Ilustrasi

Beberapa bulan ini media online maupun televisi banyak diisi berita-berita hadirnya para artis yang berhijrah, dari yang tadinya tidak berjilbab bahkan biasa dikenal berpakaian seksi menjadi tertutup dalam balutan hijab syari, bahkan ada juga yang bercadar.

Artis laki-laki banyak yang bergabung membentuk kelompok pengajian yang aktif menggelar kajian-kajian keislaman di kalangan mereka atau mengikuti berbagai kajian ustaz-ustaz tertentu secara rutin.

Ada satu benang merah yang saya dapatkan dari proses hijrah mereka, yaitu hadirnya kebutuhan akan “ketenangan batin” di tengah ingar bingar serangan hedonisme kehidupan duniawi.

Ketika harta berlimpah seolah mudah datang menghampiri mereka ternyata ada “kekosongan” yang menggedor-gedor batin untuk segera diisi. Inilah proses hadirnya hidayah dalam kehidupan mereka. Sebuah proses pencarian akan hakikat hidup dan kehidupan kita di dunia ini.

Proses hidayah ini sebenarnya bukan hanya milik para artis, selebritas, atau orang-orang terkenal lainnya. Siapa pun hamba Allah yang dianugerahi nikmat iman hingga kemudian Allah Swt angkat posisi keimanan mereka pada “puncak” nikmat iman Islam akan mengalami hal ini.

Namun, dalam prosesnya, “menggenggam erat” hidayah ini tidaklah mudah. Tidak sedikit orang yang akhirnya kembali pada jalan lama bahkan terjerumus pada jurang yang lebih dalam. Naudzubillahi min dzalik.

Ya, hidup kita di dunia ini hakikatnya adalah suatu perjalanan untuk mencari “jalan pulang” yang benar menuju kampung akhirat. Dunia hanya tempat persinggahan untuk mencari sebanyak-banyaknya “bekal” perjalanan pulang kita ke kampung akhirat.

Namun, perjalanan itu ternyata tidaklah selalu mulus; kadang berlubang, berbatu dan terjal, menanjak lalu kembali turun bahkan menukik.

Maka, dibutuhkan ke-istiqamah-an untuk terus berada di jalan kebenaran. Kita butuh lingkungan dan sahabat-sahabat Fillah (di jalan Allah) yang selalu memotivasi kita untuk ber-fastabiqul khairât (berlomba-lomba dalam kebaikan) serta mau melakukan amar ma’ruf nahi munkar (mengajak kepada kebaikan dan mencegah melakukan keburukan).

Ketika kita salat berjemaah di masjid kita sering mendengar imam mengucapkan “sawwu shufû fakum fa inna taswiyatash shufûfi min tamâmishshalât” sebelum takbiratul ihram.

Kata-kata tersebut merupakan petikan dari hadis Rasulullah saw yang artinya, “Luruskan shaf-shaf kalian, karena meluruskan shaf termasuk bagian dari mendirikan salat.” (HR Al Bukhari).

Dalam hadis lain dijelaskan lebih rinci. “Luruskanlah saf-saf kalian, jadikanlah sejajar di antara bahu-bahu kalian, tutuplah celah yang kosong, bersikap lunaklah terhadap tangan saudara-saudara kalian dan jangan kalian meninggalkan sedikit pun celah-celah bagi setan. Barangsiapa yang menyambung saf maka Allah akan menyambungnya dan barangsiapa yang memutuskan saf maka Allah akan memutuskannya.” (HR Abu Dawud)

Perintah ini sebenarnya bukan hanya untuk salat berjemaah. Dalam kehidupan sehari-hari kita juga perlu untuk terus berada dalam saf orang-orang yang beriman dan beramal saleh agar keimanan kita terus terjaga.

Ketika kita melakukan perjalanan hidup sendirian (tidak berada dalam satu barisan), belum tentu kita akan bertemu dengan jalan yang benar dan lurus. Kalau toh mungkin ketemu jalan yang benar biasanya akan berjalan dengan santai tanpa target.

Dari sisi ibadah biasanya akan cenderung kurang terkontrol, baik secara kualitas maupun kuantitasnya. Meski awalnya berada pada jalan yang benar, biasanya lama-kelamaan sedikit melenceng.

Awalnya melakukan maksiat kecil tapi ketika sering dilakukan lama-kelamaan jadi “nikmat” melakukannya, baik maksiat kecil maupun besar. Naudzubillahi min dzalik. (Indah Ratnaningsih)