Kuasa Allah dan Kuasa Uang dalam Percaturan Politik

Kuasa Allah dan Kuasa Uang dalam Percaturan Politik
Ilustrasi/Net

TERHENYAK dan tertegunlah saya mendengar pertanyaan 'orang kecil' di pengajian terakhir saya malam ini. Orang kecil ini bukan karena tubuhnya yang memang kecil tapi karena dalam peta politik orang ini adalah selalu dalam golongan pemilih, bukan yang dipilih. Beliau bukan lulusan perguruan tinggi, cuma alumni surau lokal yang kitab tertingginya adalah Sullaut Tawfiq.

Dengan wajah menunduk tanpa menatap wajah saya, khas gaya santri zaman lama, beliau bertanya: "Lebih kuasa mana antara Allah dan uang dalam menentukan keterpilihan politik dalam berbagai jenisnya." Saya tak langsung menjawab. Saya tatap lipatan sarungnya, saya pandang ujung kopiahnya. Lalu saya tanya: "Memang ada apa Bapak?". Beliau terisak menangis dan berkata lirih: "Calon yang rajin mengaji dan berdoa kepada Allah ternyata tidak banyak yang memilih. Padahal didukung banyak kiai. Calon yang tidak pernah mengenal kami dan kami mengenalnya sebagai bandar yang didukung banyak preman malah banyak yang memilih di wilayah kami. Di mana kuasa Allah?".

Saya tak mampu menjawab. Saya diam dan malah ikut menangis. Beliau berkata kembali: "Saya takut semua ini sengaja dibiarkan oleh Allah untuk menjadi alasan hancurnya bangsa ini suatu saat nanti." Kiai yang menjadi tuan rumah menambahi kisah bahwa memang kaum santri kalah telak dan tak ada yang lolos ke dewan. Orang-orang baik yang tidak punya uang kehilangan kesempatan untuk berperan sebagai politikus di wilayah ini. Mungkin juga di wilayah lain.

Saya menghela nafas panjang sambil berkata: "Lalu dari mana kita harus memulai untuk berubah?". Sudah terlambatkah ataukah masih ada waktu untuk berbuat demi bangsa ini? Tak ada yang menjawab dan suasana menjadi hening.

Kini, saya berada di jalan pulang dengan membawa sebuah pertanyaan besar: "Sekuasa apakah uang di negeri ini?". Satu pertanyaan kecilnya adalah: "Sebanyak apakah anak bangsa yang mau harga dirinya dibeli dengan uang?".

Tadi, dalam ceramah saya ungkapkan: "Jangan pernah berdecak kagum kepada para pejabat, sebelum Anda tahu bagaimana dia mendapatkan jabatan dan bagaimana perbuatannya saat dia menjabat. Jangan pernah kagum kepada orang kaya sebelum Anda tahu dari mana dia mendapatkan kekayaan itu dan untuk apa kekayaan itu digunakan." Selamat istirahat. Salam, AIM.