PAD 40 Persen, Pemkab Bogor Lincah Nyari Duit

PAD 40 Persen, Pemkab Bogor Lincah Nyari Duit
Ilustrasi/Antara Foto

INILAH, Cibinong – Boleh juga pencapaian Pemerintah Kabupaten Bogor “nyari duit”. Baru empat bulan jalan, mereka sudah mengantongi 40% dari target pendapatan asli daerah (PAD) tahun 2019 sebesar Rp2,5 triliun.

“Hingga akhir bulan Mei kemarin dari target PAD sebesar Rp2,5 triliun kita sudah mencapai 40%. Raihan ini melebihi progres PAD pada tahun 2018 kemarin,” ujar Kepala Badan Pengelolaan Pendapatan Daerah (Bappenda) Kabupaten Bogor, Dedi A Bachtiar kepada wartawan di Cibinong, Kamis (2/5).

Pria yang hobi olahrga futsal ini menerangkan dari 10 sektor pajak, sumbangan terbesar diraih dari sektor Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB), Pajak Bumi Bangunan (PBB) dan parawisata.

“Sumbangan terbesar PAD itu dari BPHTB sebesar 30%, PBB sebesar 25% dan sisanya dari 8 objek pajak lainnya seperti hotel, restoran, villa dan lainnya,” terangnya.

Mengenai villa, Dedi menuturkan pada tahun 2017 lalu jajarannya sudah mendata 200 villa komersil di Kawasan Puncak. Tapi, setelah diseleksi, hanya 60 di antaranya masuk ke dalam wajib pajak.

“Dari 200 villa komersil yang kami survei hanya 60 villa yang memenuhi syarat untuk menjadi wajib pajak. Mulai tahun 2018 lalu mereka kami wajibkan membayar pajak.

Selain itu untuk restoran atau rumah makan mereka sudah membayar pajak tiap bulannnya walaupun izin usahanya masih berproses,” tutur Dedi.

Ia melanjutkan pada tahun ini jajarannya akan mendata lagi villa komersil baik di Kawasan Puncak maupun kawasan wisata lainnya seperti Sukamakmur, Babakan Madang, Tamansari, Pamijahan dan lainnya.

“Di Kabupaten Bogor ada 1.000 lebih villa komersil yang tersebar di banyak kecamatan. Kami akan terus dorong mereka untuk menjadi wajib pajak  sektor parawisata selain wajib pajak BPHTB dan PBB-nya,” lanjutnya.

Terpisah, aktivis Rumpun Hijau  dari Kawasan Puncak, Sunyoto meminta wilayah selatan sebagai daerah penyumbang terbesar PAD Kabupaten Bogor bisa lebih diperhatikan lagi pembangunan insfrastrukturnya.

“Harusnya sebagai wilayah penyumbang PAD terbesar, kue pembangunan insfrastrukturnya lebih diperhatikan lagi ketimbang selama ini. Selain perbaikan jalan dan jembatan yang rusak, kami ingin pembangunan jalan baru karena dengan insfrastruktur yang baik jumlah wisatawan  plus PAD juga akan meningkat,” tukas Sunyoto. (Reza Zurifwan)