Cegah Stunting di Sabilulungan Rembug Stunting

Cegah Stunting di Sabilulungan Rembug Stunting
Sabilulungan Cegah Stunting. (istimewa)

INILAH, Soreang - Stunting merupakan kondisi gagal pertumbuhan pada anak, yakni terhambatnya pertumbuhan tubuh dan otak akibat kekurangan gizi dalam waktu yang lama.

Hal ini terjadi karena pola asuh dan pola asupan gizi yang kurang baik. Sebagian besar desa di Provinsi Jawa Barat (Jabar) masih mengalami prevalensi stunting yang tinggi di atas 40%, termasuk di Kabupaten Bandung.

Sebanyak 10 (sepuluh) desa yang tersebar di 8 (delapan) kecamatan di Kabupaten Bandung menjadi prioritas penanganan stunting, karena prevalensinya yang cukup tinggi.

Masing-masing adalah Desa Rancatungku (Kecamatan Pameungpeuk), Dampit, Narawita dan Tanjungwangi (Kecamatan Cicalengka), Mekarlaksana (Kecamatan Cikancung), Babakan (Kecamatan Ciparay), Girimulya (Kecamatan Pacet), Cihawuk (Kecamatan Kertasari), Karangtunggal (Kecamatan Paseh), dan Desa Cibodas (Kecamatan Pasirjambu).

Data tersebut mengemuka dalam acara ‘Sabilulungan Rembug Stunting melalui Konvergensi Intervensi’ yang berlangsung  di Hotel 88 Kota Bandung, Senin (29/4/2019).

Acara tersebut dibuka oleh Asisten Ekonomi dan Kesejahteraan Kabupaten Bandung, Marlan, dengan melibatkan para camat,  kepala desa lokasi stunting, para praktisi kesehatan serta menghadirkan narasumber, Dr dr Brian Sri Rahastuti dari Tenaga Ahli Madya Kantor Staf Kepresidenan.

Dalam rangka percepatan penurunan stunting di wilayah Kabupaten Bandung, kata Marlan  Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bandung telah melaksanakan beberapa hal pencegahan.

Di antaranya adalah dengan memberikan tablet penambah darah pada remaja putri, dan kepada para ibu hamil sebanyak 90 tablet selama masa kehamilannya dan pemberian obat cacing serta makanan sehat tambahan. 

Namun langkah-langkah tersebut, menurut Marlan harus diimbangi dengan kesadaran masyarakat dengan melakukan pola hidup sehat. Oleh karenanya melalui kegiatan tersebut, Marlan berharap  seluruh peserta dapat ikut menyosialisasikan pencegahan stunting kepada masyarakat melalui beberapa tindakan. 

“Di antaranya mau dan mampu bertindak sebagai agen perubahan sehingga dapat memberi kontribusi nyata terhadap upaya perbaikan gizi, baik intervensi spesifik maupun sensitif,” harapnya.

Jika kualitas kemampuan individunya rendah, lanjut Marlan akan berdampak pada minimnya produktivitas dan daya saing anak-anak bangsa sebagai sumber daya yang diandalkan. “Sehingga akan berpengaruh terhadap minimnya penghasilan dan perputaran ekonomi di sekitarnya,” papar Marlan.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bandung, Grace Mediana Purnami menuturkan, persentase 40% prevalensi stunting di Kabupaten Bandung adalah berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Tahun 2013. Sedangkan berdasarkan Riskesdas 2018, persentasenya menurun menjadi 35,2%.

“Persentase 40% berdasarkan Riskesdas 2013, merupakan angka tertinggi kedua setelah Kabupaten Garut. Sedangkan berdasarkan Riskesdas 2018, persentasenya menurun menjadi 35,2%, tapi masih lebih tinggi dari Jawa Barat (31%) dan Nasional (31,1%),” tutur Grace.

Dia menjelaskan, pertemuan rembug stunting itu bertujuan agar intervensi sensitif dan spesifik, dapat terintegrasi, terorganisir dan terpadu, untuk bersama-sama mencari kelompok prioritas stunting. Berikutnya adalah untuk meningkatkan komitmen bersama para pemangku kebijakan di Kabupaten Bandung terhadap upaya penurunan stunting.

Dirinya berharap, pertemuan tersebut dapat menjadi salah satu upaya dalam menurunkan angka stunting di Kabupaten Bandung. “Kita harapkan di Kabupaten Bandung dapat tercapai zero stunting dalam lima tahun ke depan,” harapnya pula.

Sementara itu, narasumber dari Tenaga Ahli Madya Kantor Staf Kepresidenan Brian Sri Rahastuti memaparkan, kunjungan kerjanya ke Posyandu Cempakasari Desa Rancatungku, Kecamatan Pameungpeuk, memberikan gambaran tersendiri bagi posyandu lainnya dalam upaya pencegahan stunting di Kabupaten Bandung.

Dalam posyandu, lanjut Brian, ada lima layanan dasar yaitu mulai dari pendaftaran, penimbangan, pencatatan, penyuluhan dan pelayanan. Ia menyarankan agar memperkuat penyuluhan dan pelayanan di setiap posyandu.

“Bisa juga memperkuatnya dengan cara mengintegrasikan layanan posyandu, dengan program-program pemberian makanan tambahan lokal. Saya lihat banyak sekali potensi dari di Kabupaten Bandung yang bisa dimunculkan,” jelas Brian.

Ia mengambil contoh pengintegrasian dengan program Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL), mempromosikan ikan lokal atau sumber karbohidrat yang sesuai dengan produk setempat.

“Intinya adalah menu gizi seimbang dengan 4 komponen yaitu sumber karbohidrat, sumber protein, sayur dan buah, itu bisa disajikan pada saat kegiatan posyandu,” tuturnya.

Brian berharap semoga upaya itu dapat menjadi sarana untuk memberikan edukasi kepada masyarakat, tentang pentingnya gizi seimbang dalam mencegah stunting. Selain itu bisa juga dipergunakan sebagai cara untuk memperkenalkan produk-produk lokal.

“Mudah-mudahan di kemudian hari bisa menjadi sumber pendapatan dan peningkatan pendapat bagi keluarga di desa-desa yang  bersangkutan,” pungkas Brian.