Bima Arya Nggak Ngangkat Jokowi

Bima Arya Nggak Ngangkat Jokowi
Wali Kota Bogor Bima Arya gagal mengangkat suara Jokowi-Maruf di Kota Bogor.

PRABOWO-Sandi mempertahankan hegemoni di Kota Bogor. Dukungan yang diberikan Bima Arya Sugiarto tak mampu mengangkat suara Jokowi-Maruf.

Semua seperti datang secara kebetulan. Pelantikan Wali Kota Bogor terpilih 2019-2024 ditunda setelah pencoblosan. Bima Arya Sugiarto mendapat kesempatan libur karena masa tugasnya tuntas sebelum warga Kota Bogor masuk ke bilik suara Pemilu 2019.

Di tengah masa liburan itulah, Bima Arya Sugiarto membuat kejutan. Dia yang petinggi DPP Partai Amanat Nasional (PAN) itu memutuskan mendukung duet Joko Widodo-Maruf Amin. Berbeda dengan PAN yang sejak awal mengusung Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

Bima, saat itu, mengaku paham risiko politik yang dia hadapi. Tetapi, dengan risiko itu pun, ternyata, dukungannya tak memberi pengaruh terhadap suara Jokowi-Maruf. Dukungan Wali Kota Bogor itu tidak mengangkat suara Jokowi-Maruf di Kota Hujan.

Itu terbukti dari hasil pleno Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Bogor. Pasangan calon presiden dan calon wakil presiden Prabowo Subianto - Sandiaga Salahuddin Uno unggul 170.961 suara dari pasangan  Jokowi-Ma'ruf Amin.

“Pasangan Jokowi-Ma'ruf memperoleh 228.112 suara dan pasangan Prabowo-Sandi memperoleh 399.073 suara dari total enam kecamatan di Kota Bogor,” kata Ketua KPU Kota Bogor, Samsudin usai rapat pleno yang berakhir Minggu (5/5) malam.

Selisih angka tersebut tidak jauh berbeda dengan selisih rekapitulasi Pemilihan Presiden (Pilpres) tahun 2014 silam di Kota Bogor, yakni 129.708 suara. Saat itu pasangan capres cawapres nomor urut 01, Prabowo Subianto-Hatta Rajasa memperoleh 340.286 suara, sedangkan pasangan nomor urut 02, Jokowi-Jusuf Kalla memperoleh 210.578 suara.

Samsudin mengatakan, dari jumlah daftar pemilih tetap (DPT) Kota Bogor sebanyak 716.473 pemilih, ada sebanyak 642.094 pemilih yang menyalurkan hak pilihnya untuk kertas suara Pilpres. Tapi, hanya sebanyak 627.185 kertas suara dianggap sah, sedangkan 14.909 kertas suara lainnya dianggap tidak sah.

“Pleno rekap dihadiri lengkap oleh Bawaslu Kota Bogor, ketua dan anggota PPK se-Kota Bogor, Ketua PPS se-Kota Bogor, saksi dari TKD 01 dan BPD 02, saksi dari sembilan calon anggota DPD RI, serta 15 saksi dari partai politik,” bebernya.

Rapat pleno dimulai pada Sabtu (4/5/2019) sore, sampai dengan Minggu (5/5/2019) malam dengan agenda pembacaan hasil pleno di enam kecamatan Kota Bogor. “Pleno ditutup dengan baik, tidak ada satu pun keberatan dan catatan khusus dari Bawaslu dan para saksi,” kata Samsudin.

Tahapan selanjutnya, hasil pleno tingkat Kota Bogor akan dibawa ke rapat pleno KPU tingkat Provinsi Jawa Barat, yang akan dilaksanakan pada Rabu (8/5) sampai Jumat (11/5). (ing)

Loading...