Penggagas Homeless World Cup Apresiasi Keberagaman Tim Indonesia

Penggagas Homeless World Cup Apresiasi Keberagaman Tim Indonesia

 

INILAH, Mexico – Salah satu penggagas Homeless World Cup (HWC), Mel Young mengapresiasi kehadiran tim Indonesia dalam kompetisi sepakbola jalanan internasional yang tahun ini digelar di Zocalo, Mexico City. Apresiasi itu Mel sampaikan saat bertemu langsung dengan tim Indonesia yang berlatih di Alameda Central Park, Senin, 12 November 2018 pagi.
Menurut Mel, setiap peserta dan tim memiliki kesempatan untuk melakukan sesuatu melalui HWC.

“Menang atau kalah itu hanya pertandingan. Tapi bagaimana kita bisa menyampaikan dan melakukan sesuatu melebihi diri sendiri menjadi sangat penting,” ujar Mel di sela-sela kegiatan lari paginya.

Keberagaman dalam tim Indonesia, ungkap Mel, menjadi penting.

“Karena kita bisa saling dukung satu sama lain. Harapannya pemerintah, pihak swasta mau mendengarkan (pesan yang kita ingin sampaikan),” tutur Mel.

Tim Indonesia terdiri dari delapan pemain, masing-masing Rizal Ferdian Somawijaya, 24 tahun, Eva Dewi Rahmadiani, 34 tahun, Dego Z. Arifin, 25 tahun, Adam Riyaldi, 21 tahun, Miftaul Maarif, 19 tahun, M. Fajar Priatna, 25 tahun, Rizal Eka Saputra, 26 tahun, dan Yandi Abdul Rajab, 24 tahun. Setiap pemain ini memiliki latar belakang dan misi pribadi yang berbeda- beda terkait keikutsertaan mereka di HWC 2018. Tengok saja Eva Dewi Rahmadiani, 34 tahun yang sehari-hari menjadi orang tua tunggal buat tiga putrinya di Bandung.

Relawan di Rumah Cemara ini berkenalan dengan sepakbola jalanan saat mengikuti League of Change (LoC) atau Liga Perubahan di Bandung tahun 2013 silam. Dia bergabung dalam kegiatan itu untuk membantu pemulihan dirinya atas narkoba. Keterlibatan itu mengantarkannya meraih lisensi kepelatihan dari International Sport Alliance.

Eva saat ini tercatat sebagai relawan untuk kegiatan pengembangan olahraga sosial di Rumah Cemara, organisasi berbasis komunitas untuk orang dengan HIV/AIDS serta pengguna narkoba.

“Sejak terlibat tahun 2013 sampai sekarang sudah banyak anak-anak yang Eva latih life skill lewat sepakbola bersama Rumah Cemara. Misalnya mereka tidak percaya diri, bisa makin percaya diri. Ada yang tidak berani mengemukakan pendapatnya, sampai bisa bicara di depan yang lain,” ujar Eva memberikan contoh perubahan sosial yang bisa dicapainya lewat sepakbola.

Selain itu, ungkap Eva, dirinya beserta tim relawan lain juga menerapkan isu sosial seperti kesehatan reproduksi, narkoba, serta HIV-AIDS kepada anak-anak yang ikut pelatihan sepakbola tersebut. “Mulai dari anak SMP sampai SMA. Ada juga anak-anak jalanan seperti di Ciroyom yang kami latih,” papar Eva yang setiap hari harus mengonsumsi obat anti retroviral untuk virus HIV di tubuhnya.

Peran sepakbola ini juga yang menjadi ide dan keyakinan Mel Young serta almarhum Harald Schmied untuk membantu upaya perubahan sosial di masyarakat. Minimal melalui para pemain yang tergabung dalam HWC setiap tahunnya sejak gelaran pertamanya di Graz, Austria tahun 2003 silam.

“Sepakbola jalanan ini lebih sederhana untuk dilakukan. Lapangannya tidak terlalu besar, bisa dilakukan seperti di taman. Tidak memerlukan banyak orang seperti lapangan besar yang mencapai 11 pemain. Bentuk permainannya juga menarik buat ditonton dan dinikmati,” ujar Mel.

Dalam benak Mel, sepakbola membantu mereka yang terisolasi akibat ketunawismaan atau terpinggirkan dari masyarakat. Lewat sepakbola, mereka bisa berkomunikasi dengan yang lain, membangun hubungan dan menjadi teman satu tim yang belajar berbagai dan saling percaya. Ada tanggungjawab saat mereka harus menghadiri waktu latihan dan kompetisi. Saat bergabung dalam tim, setiap orang dapat merasakan jadi bagian sesuatu yang lebih besar dari dirinya.

Setidaknya hal itu dirasakan oleh pemain paling muda di tim Indonesia, Miftaul Maarif, 19 tahun. Pemain asal Yogyakarta ini mengapresiasi sikap dan cara Mel Young menyapa timnya.

“Ga percaya orang kampung bisa ketemu sama Mel Young. Caranya menyapa itu membuktikan dia peduli banget sama kita dan memang benar HWC ini bisa menghilangkan yang namanya stigma,” terang Miftaul yang melanjutkan kuliah berkat beasiswa Bidik Misi ini.

 

Loading...