Nelangsa Pengrajin Panci, Harga Bahan Baku Melambung Tinggi

Nelangsa Pengrajin Panci, Harga Bahan Baku Melambung Tinggi
Pengrajin panci di Soreang mengeluhkan mahalnya harga bahan baku. (Dani R Nugraha)

INILAH, Bandung- Pengrajin buleng (panci), dandang, oven dan loyang mengeluhkan kenaikan harga bahan baku berupa lembaran alumunium, stainles dan galvanis sejak dua bulan terakhir ini. Padahal, saat bulan puasa dan menjelang lebaran ini permintaan konsumen lumayan banyak dibanding hari biasa.

Asep Sofian (38) perajin buleng di Soreang mengatakan, sejak dua bulan terakhir ini harga bahan baku lembaran alumunium, stainles steel dan galvanis naik hingga sekitar 50 persen.

Padahal, setiap memasuki bulan puasa hingga lebaran, biasanya usaha yang telah digeluti oleh tiga generasi itu ramai pembeli. Dengan naiknya harga bahan baku, otomatis ia pun harus menaikam harga jual perabotan rumah tangga yang dibuatnya itu. 

"Contohnya untuk satu lembar alumunium yang paling tipis dari sebelumnya Rp 165 ribu, sekarang harganya Rp 250 ribu. Apalagi yang stainles steel yang paling tipis harganya sekitar Rp 400 ribu sebelummya cuma Rp 250 ribu. Kenaikan harga cukup besar ini buat kami perajin sangat memberatkan. Padahal, sekarang ini lagi banyak pesanan," kata Asep saat ditemui di bengkelnya di Jalan Pasantren Statsiun, Soreang, Rabu (14/5/2019).

Dikatakan Asep, pada bulan puasa seperti sekarang ini, kebanyakan konsumen yang membeli buleng atau panci besar untuk memasak bakso. Kata dia, saat bulan puasa banyak orang yang mendadak berdagang bakso, baik itu yang keliling maupun yang berdagang di rumah. Selain buleng, barang yang banyak dicari konsumen adalah peralatan membuat kue, yakni oven dan loyang.

"Orang yang datang ke tempat saya itu bukan cuma yang mau beli saja. Tapi banyak juga yang memperbaiki perabotannya yang rusak. Nah kalau puasa sekarang mah justru kebanyakan orang yang memperbaiki dari pada beli baru, mungkin yah karena harga beli baru lumayan mahal," ujar pemilik bengkel kerja yang dinamakan Asep Buleng ini.

Asep melanjutkan, usaha yang sudah dilakukan turun temurun itu memang khusus membuat perabotan rumah tangga seperti buleng itu dengan bahan yang berkualitas. Sehingga, harga jualnya pun tak bisa disamakan dengan yang biasa dijual dipasaran.

"Seperti langseng kecil, itu biasa saya jual Rp 70 ribu. Kalau dipasaran Rp 40 ribu, memang lebih murah tapi bahannya dari seng yang mudah berkarat. Kalau di tempat saya barang yang paling murah mulai dari Rp 70 ribu sampai lebih dari Rp 1 juta seperti untuk buleng atau panci besar dengan diameter diatas 1 meter," katanya.

Selama menekuni usaha yang dikerjakan serba manual ini, lanjut Asep, sebenarnya hanya kenaikan harga bahan baku yang seringkali tak bisa diperkirakan karena memang bahan baku yang biasa dia beli dari toko material itu merupakan barang impor. Adapun bahan yang murah dan banyak yakni seng, namun perabotan berbahan seng itu mudah berkarat dan rusak. 

"Kalau peralatan kerja enggak ada masalah, meskipun kami enggak punya mesin tapi pekerjaan masih bisa kami tangani. Cuma masalah yang enggak bisa dihindari yakni kenaikan harga bahan baku saja. Harapan saya sebagai pelaku usaha kecil, yah pengen adanya kemudahan dan murahnya harga bahan baku. Karena kalau naik terus juga bikin bingung saya mau jualnya berapa," kata Asep.(Rd Dani R Nugraha)