Kalau Jokowi Reshuflle, Sri Mulyani Pantas Kena

Kalau Jokowi Reshuflle, Sri Mulyani Pantas Kena
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati (kanan).

INILAH, Jakarta- Di tengah mencuatnya isu Presiden Joko Widodo akan merombak kabinet alias reshuffle, nama Sri Mulyani disebut tak layak menjadi menteri keuangan. Lho?

Menurut Dr. Jerry Massie, Direktur Eksekutif Political and Public Policy Studies, sejumlah parameter menempatkan kinerja Sri Mulyani sebagai menteri keuangan tidaklah tepat. Misalnya, nilai tukar rupiah terhadap US$ yang terus memburuk hingga level psikologis Rp14.400 per US$.

Selain itu, kata dia, posisi utang luar negeri di era Joko Widodo meningkat signifikan. "Sri Mulyani mendapat sejumlah penghargaan berkelas dunia, pantaslah karena Indonesia berutang pada World Bank cukup besar. Misalkan China, kita berhutang pada negeri Ginseng ini, sedangkan uang tersebut hutang China dari World Bank dipinjamkan pada kita atau istilahnya saver invesment," terang Massie.

Menurut Jerry, Sri Mulyani spesialisasinya bukan di makro ataupun mikro-ekonomu, apalagi finance or financing, namun lebih kepada menagement transportasi. "Menurut saya, mencari menkeu jangan memiliki paham neoliberal, ini bahaya. Bagaimana bisa menteri terbaik namun jago ngutang," tandasnya.

Diungkapkan Jerry Massie, hingga Febuari 2019 utang luar negeri Indonesia menembus US$ 388,7 miliar. Atau naik 8,81% secara tahunan (year-on-year/YoY). Jika dirupiah-kan total utang luar negeri mencapai Rp5.480 Triliun (asumsi Rp14.100/US$). "Sri Mulyani bagusnya dicopot dari Menteri Keuangan digeser ke Mendag. Pasalnya dia cerdas berbahasa asing," kata Jerry

Menurut Jerry, menteri paling unggul khususnya di bidang ekonomi ada pada era Presiden Soeharto. "Presiden Soeharto menempatkan para pakar diantaranya Widjojo Nitisastro, Ali Wardhana, Radius Prawiro, JB Sumarlin, hingga Marie Muhammad, adalah orang-orang yang memahami ekonomi Indonesia," ujar Massie. (inilah.com)